Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Beginilah Akhlak Hamka Memaafkan Lawan Politiknya

Akbar Muzakki
Terakhir diupdate: 20 April 2021 09:47 9:47 am
Akbar Muzakki
Dipublikasikan 20 April 2021 09:45
Bagikan
Hamka
Buya Hamka | Pramoedya Ananta Toer | Presiden Soekarno
Bagikan

Hidayatullah.com | BANYAK  cara memaafkan orang dari kesalahan sosial maupun politik. Dan cara memaafkan seorang ulama terhadap musuhnya pun tergolong indah. Beginilah cara Hamka memaafkan  kepada lawan politiknya yang begitu santun dan indah.

Presiden Soekarno  pernah ‘menyerang’ ulama besar di  masanya, Buya Hamka.

Bersama Mohammad  Yamin, Soekarno  melalui headline  beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer  melakukan  pembunuhan karakter  atas diri Hamka, namun tak sedikit pun  fokus Hamka  bergeser dalam  menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebab terlalu kuatnya  pribadi Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan. Dua  tahun 4 bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya. Tidak..!

Hamka justru bersyukur bisa masuk  penjara.  Di dalam terali besi itu ia justru punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Al-Qur’an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Baca: Berkunjung ke Museum Buya HAMKA

Lantas, bagaimana  dengan ketiga tokoh tadi? Pramoedya,  Mohammad Yamin dan Soekarno? Ternyata Allah masih  sayang pada mereka. Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno.

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat. Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia. Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri.

Apakah Hamka menolak?  Tidak!  Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya.

Astuti, anak  perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini. Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.

Saat Mohammad  Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka. Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya.

Baca: Buya Hamka: Agamalah yang Mengisi Pancasila, Bukan Saling Isi Mengisi

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka. Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah. Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Tanggal 16 Juni 1970,  seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek : “Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..” Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.. Di mana? Di mana beliau sekarang?  Dengan pelan dijawab: “Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso..”

Baca: Buya Hamka dan Pesan Ghīrah

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca. Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara.

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno. Untaian do’a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Republik Indonesia.

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu.Begitulah cara Hamka memaafkan kesalahan orang lain padanya.* (sebagaimana dikutip Mohamad Natsir dalam tulisannya yang berjudul, Berpolitiklah Tanpa Kebencian).*

Redaktur: Akbar Muzakki
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya Hamkamusuh politikpolitikPramoedya Ananta ToerSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kecelakaan kereta api mesir 11 Tewas, 100 Luka-Luka dalam Kecelakaan Kereta Api di Mesir
Tulisan selanjutnya Ketika Ulama “Mengintip” Layar TV

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?