Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Masjid Al-Aqsha Selalu Dihinakan di Tangan Non-Muslim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Mei 2021 22:31 10:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Mei 2021 08:22
Bagikan
Zionis menghancurkan bangunan bersejarah milik Islam (AA)
Bagikan

Hidayatullah.com | Masjid al-Aqsha berulang kali dijajah, juga dibebaskan oleh kaum Muslimin. Sejarah membuktikan, ketika dikuasai oleh non-Muslim, masjid suci ini selalu dihinakan.

Era Syiah

Pasca dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab RA, kawasan Baitul Maqdis menjadi damai. Kondisi ini berlangsung hingga Dinasti Abbasiyah. Namun situasi berubah ketika dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah di penghujung tahun 900-an.

Kekaisaran Fatimiyyah berpusat di Mesir. Mereka berhasil merebut kawasan Baitul-Maqdis sesudah mengalahkan pasukan Abbasiyah di Ramalah. Para penguasa Fatimiyah yang merupakan pemeluk sekte Ismaili Syiah –dengan demikian bukan Muslim– ini mulai melakukan perusakan terhadap Masjid al-Aqsha.

Selama berabad-abad, Masjid al-Aqsha telah menjadi pusat penyebaran dan pengembagan ilmu, mulai dari bahasa Arab sampai hukum dan aqidah. Semua itu dihentikan oleh penguasa Fatimiyah dan diganti dengan lembaga-lembaga Syiah.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Masa paling buruk terjadi di bawah kekuasaan al-Hakim (mulai tahun 996). Bukan saja menindas kaum Muslimin, dia bahkan memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Al-Hakim juga memerintahkan agar namanya menggantikan nama Allah dalam khutbah Jumat.

Al-Hakim melarang puasa Ramadhan dan berhaji ke Makkah. Di ujung kekuasaannya (tahun 1021), kawasan Baitul-Maqdis sudah bukan lagi menjadi pusat keilmuan Islam.

Akhirnya al-Hakim digantikan oleh sultan-sultan yang lebih “moderat” dan lebih bersahabat. Sesudah gempa bumi besar pada tahun 1030, Masjid al-Aqsha kemudian direnovasi.

Pada tahun 1073, Baitul-Maqdis direbut oleh Turki Seljuk yang merupakan Muslim Sunni dari Asia Tengah. Artinya, Masjid al-Aqsha kembali ke tangan kaum Muslimin.

Tradisi ilmu kembali berkembang. Ma’had-ma’had didirikan. Ulama berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mengajar dan belajar, termasuk Abu Hamid al-Ghazali yang pindah ke Baitul-Maqdis pada tahun 1095. Dia tinggal di sudut timur kompleks Masjid al-Aqsha untuk beribadah dan menyelesaikan kitabnya, Ihya’ Ulumuddin.

Penindasan Salibis

Namun geliat bangkitnya kehidupan ilmu di Masjid al-Aqsha tidak  bertahan lama. Datanglah Pasukan Salib.

Pada tahun 1095, Kaisar Romawi Timur, Alexios, meminta bantuan kepada Paus Urbanus II di Roma untuk memerangi bangsa Seljuk di Semenanjung Antalya. Jawaban Paus adalah Perang Salib I. Tujuannya bukan untuk memerangi bangsa Seljuk, melainkan merebut Baitul-Maqdis dari tangan kaum Muslimin dan mendirikan kerajaan Katolik.

Sungguh sayang, waktu itu para pemimpin dan jenderal Muslim dalam keadaan berpecah belah. Sulit untuk bangkit melawan. Akibatnya, Pasukan Salib bisa terus merangsek maju.

Pada tahun 1099, Pasukan Salib sampai di Baitul-Maqdis. Dinasti Fatimiyah yang ketika itu sudah merebut kembali kawasan ini dari bangsa Turki Seljuk tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Akhirnya pada 15 Juli 1099, tentara-tentara Salib menerobos tembok dan masuk ke kota Baitul-Maqdis.

Terjadilah peristiwa paling mengerikan dalam sejarah Masjid al-Aqsha. Tentara-tentara Kristen menyatakan bahwa mereka akan menghabisi semua orang. Akibat ancaman itu, maka kaum Muslimin mengungsi dan mencoba berlindung di Masjid al-Aqsha. Namun Pasukan Salib berhasil masuk dan membantai semua orang yang berada di dalamnya.

Sejarah mencatat bahwa sejumlah tentara Salib menuliskan pembantaian yang mereka lakukan dengan penuh kebanggaan. Satu di antara mereka menyatakan betapa indahnya pemandangan para tentara Salib “berkubang darah sampai ke lutut” di dalam Masjid al-Aqsha!

Musnahnya kaum Muslimin di Baitul-Maqdis memungkinkan orang-orang Kristen melakukan perubahan di Masjid al-Aqsha. Penguasa pertama yang bernama Godfrey, menjadikan masjid tersebut sebagai kediamannya. Interior diubah sama sekali menjadi istana dengan dinding-dinding, ruang, dan taman-taman baru.

Semua tanda bahwa itu masjid, ditutup dan disingkirkan. Kaligrafi-kaligrafi ditutupi, sajadah-sajadah disingkirkan, dan mihrab-mihrab ditembok dengan batu bata.

Qubatush-Shakhrah atau Dome of the Rock diubah menjadi gereja yang diberi nama Temple of the Lord (Kuil Tuhan). Mereka menutup atau menyingkirkan semua tanda bahwa bangunan ini adalah bagian dari Masjid al-Aqsha. Batu di bawah kubah itu ditutup dengan marmer dan dijadikan altar.

Pembebasan Shalahuddin

Pada tahun 1180, tampillah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Pahlawan berdarah Kurdi itu berhasil menyatukan berbagai negeri Muslim di sekitar Baitul-Maqdis. Pasukan Muslimin bersatu padu sehingga berhasil membebaskan Baitul-Maqdis dari cengkeraman kaum Salib (tahun 1187).

Berbeda dengan yang dilakukan orang-orang Kristen 88 tahun sebelumnya, ketika pasukan Shalahuddin berhasil menaklukkan kaum Salib, tak ada yang namanya pembantaian. Orang-orang Kristen/tentara Salib hanya diminta untuk keluar dari kawasan Baitul-Maqdis. Kompleks Masjid al-Aqsha akhirnya bisa dikuasai kembali oleh kaum Muslimin.

Salahuddin bersumpah akan membersihkan kembali Masjid al-Aqsha dalam satu pekan sesudah pembebasan, dan menyiapkan untuk shalat Jumat. Sama seperti Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab RA 550 tahun sebelumnya, Shalahuddin bekerja sama dengan Mujahidin membersihkan Masjid al-Aqsha dengan tangan mereka sendiri.

Berbagai sisa bangunan Kristen dibongkar. Kamar-kamar mandi dan perabotan yang ditinggalkan tentara Salib dikeluarka dari Masjid Jami’ al-Qibly. Tempat itu kemudian dibersihkan dengan air mawar oleh tangan Shalahuddin sendiri.

Mihrab dibuka kembali. Kaligrafi-kaligrafi nan indah kembali dipampangkan. Shalahuddin juga memasukkan sebuah mimbar ke Masjid Jami’ al-Qibly. Mimbar itu sudah disiapkan oleh Nuruddin Zanki di Damaskus sekian tahun sebelumnya, sebagai persiapan untuk menyambut pembebasan Baitul-Maqdis.*/Ditulis oleh tim peneliti Institut al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) (Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2018).*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul MaqdisDinasti FatimiyahMasjid Al AqshaSerangan Masjid al-AqshaShalahuddin al-Ayyubisyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya membaca al fatihah berdoa Berlindung dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Tulisan selanjutnya 100.000 Jamaah Padati Masjid Al-Aqsha untuk Sholat Idul Fitri di Tengah Serangan Perusuh Yahudi dan Bom Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?