Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Kepedulian Tokoh Islam Indonesia Terkait Isu Palestina

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Mei 2021 13:03 1:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Mei 2021 13:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | KEPEDULIAN tokoh-tokoh Islam Indonesia terhadap isu Palestina sudah tak diragukan lagi. Pasalnya, Indonesia dan Palestina memiliki hubungan yang cukup manis. Bukan saja karena faktor agama Islam, tapi juga Palestina pernah memiliki jasa besar dalam mengakui Indonesia menjadi negara merdeka. Maka tidak mengherankan jika kepedulian itu terus terawat hingga saat ini.

Di sini penulis akan memotret salah satu bentuk kepedulian para tokoh muslim Indonesia kepada saudaranya yang ada di Palestina. Pada 6 September 1977, bertempat di Gedung Kiblat Centre Jakarta, pada momentum buka puasa bersama, diselenggarakan pertemuan silaturahim antar tokoh-tokoh Islam terkait khasus yang sedang hangat di dunia Islam saat itu, yaitu: masalah ekspansi Yahudi dan Masjid Al-Aqsha.

Pada pertemuan itu, setidaknya ada 24 tokoh yang hadir, di antaranya: KH. Masykur, Prof. H. Kasman Singodimedjo, KH. Hasan Basri, M. Natsir, Prof. Dr. Hamka, KH. Abdullah Syafi’i, Drs. Lukman Harun, Dr. Anwar Harjono, Asa Bafagih, S. Soemarsono dan lain-lain. Pertemuan ini diliput dalam Majalah Kiblat No. 9 Tahun XXV, September II (1977).

Acara ini diinisiasi akibat kondisi yang semakin tegang dan meresahkan di wilayah Palestina. Pasalnya, ‘‘Israel’’ semakin gencar dalam usaha untuk menempati daerah-daerah baru yang diklaim sebagai wilayah Yahudi. Mirisnya, bangsa-bangsa Arab di sekitarnya masih sibuk dengan konflik-konflik internal yang tidak kunjung selesai di tengah kondisi saudara Palestinanya yang sedang dizalimi oleh Yahudi.

Belum lagi masalah Masjid Al-Aqsha yang wilayahnya akan di-Yahudi-kan sedikit demi sedikit melalui penggalian-penggalian di sekitar masjid atas nama mencari kerajaan Dawud. Itu mereka lakukan tanpa menggubris kritik-kritik pedas dari dunia internasional. Maka, melihat kondisi demikian tokoh-tokoh umat Islam terkemuka di Indonesia tak mau tinggal diam dan berupaya mencari formula untuk menyelesaikan permasalahan terasebut.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Dalam pertemuan yang cukup hangat itu, dalam pengantarnya, M. Natsir menjelaskan bahwa umat Islam Indonesia tidak boleh tinggal diam. Selain karena masalah keyakinan, ini juga masalah hak asasi manusia. Setidaknya, minimal ada sikap yang tegas yang menunjukkan kepedulian umat Islam Indonesia kepada Palestina. Apa yang dikatakan oleh M. Natsir pun diamini oleh KH. Masykur (Ketua NU), dengan menyitir hadits bahwa umat Islam itu seperti satu tubuh, yang mana jika ada satu anggota yang sakit, maka yang lain juga turut merasakannya.

Dalam momen ini, Prof. H. Kasman Singodimedjo pun juga turut menyampaikan pandangannya. Tutur beliau, “Kesan saya ACC dengan pembicara lain. Dan kalau Yahudi menyerang kita berdasarkan “kitab suci” mereka, kita pun bisa saja mengklaim dengan Al-Qur`an . Tokh sudah cukup banyak, sinyalemen yang diberikan oleh Qur’an kepada kita, tentang perbuatan-perbuatan Yahudi yang tidak terpuji. Memang ada ide-ide untuk mengirimkan delegasi kita ke sana untuk bergerilya. Ini perlu didukung. Dan kita tidak usah takut-takut nanti disebut sebagai kaum yang ekstrim.”

Perlu dicatatat, saat itu yang menjadi pimpinan ‘‘Israel’’ adalah Menchen Begin, yang menurt istilah Asa Bafagih (yang pernah menjadi Dubes RI di negara-negara Arab) berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya yang masih mau mengindahkan suara-suara dunia. Maka kata Asa Bafagih, diperlukan sikap yang lebih tegas lagi daripada sebelumnya terkait isu Palestina. Karena itulah, supaya lebih fokus, beliau sependapat dengan M. Natsir agar difokuskas dulu dengan masalah masjid Al-Aqsha.

Muncullah beberapa opsi kapan menyampaikan momen aspirasi. Ada yang mengusulkan saa musim haji; ada pula yang mengusulkan pada saat Presiden Soeharto berkunjung ke Timur Tengah. Kemudian, pembicaraan difokuskan pada sikap yang lebih konkret, bukan sekadar dukungan moril untuk rakyat Palestina. Di antara usul konkret itu, misalnya: menyumbang ambulans, darah, peninjauan langsung ke negara-negara Arab atau mengirimkan delegasi untuk berdialog dengan mereka sehingga tahu persis kondisi mereka di lapangan dan beberapa usul konkret lainnya.

Sebelum acara ditutup, ada usulan agar pertemuan itu melahirkan pernyataan bersama sebagai bentuk kepedulian umat Islam Indonesia yang nantinya ditujukan kepada Sekjen PBB Dr. Kurt Waldheim sebagai bahan untuk Sidang PBB yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Setelah itu, salinan pernyataan akan diserahkan kepada Sekjen Konperensi Islam di Jeddah, Sekjen Mu’tamar Islam di Karachi dan World Conference on Religion and Peace di New York.

Dalam pernyataan bersama ini ada 3 poin utama yang disampaikan. Pertama, pemimpin ‘‘Israel’’, Menachem Begin, dengan secara terbuka baik di hadapan sidang Kabinet ‘‘Israel’’ maupu kepada pers internasional, mengemukakan pendirian penguasa ‘‘Israel’’  sekarang yang menurut pendapat kami akan menghancurkan usaha-usaha penyelesaian Timur Tengah secara damai.

Kedua, kami umat Islam, selain pemukiman Yahudi yang tak sah, juga sangat prihatin atas nasib Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha yang berada di Palestina. Sejauh ini resolusi-resolusi PBB, tidak pernah diperhatikan dan dijalankan oleh ‘‘Israel’’. Banyaknya penggalian di sekitar masjid Aqsha menimbulkan banyak kerusakan. Ini jelas melanggar HAM dan kesepakatan di PBB.

Ketiga, agar persolana ini segera mendapat respon dari PBB. Harapan besar umat Islam Indonesia, PBB bisa mengambil tindakan-tindakan yang tepat dan adil untuk menghentikan dan menghapuskan pelanggaran-pelanggaran ‘‘Israel’’ tersebut. Inilah beberapa poin penting yang disampaikan pada momentum tersebut. Pernyataan ini ditandatangani setidaknya oleh 24 tokoh.

Dari kisah ini, semakin mengukuhkan bahwa, Indonesia dengan tokoh-tokoh Muslim dan rakyatnya, tidak pernah absen dalam mendukung Palestina. Kepedulian itu bukan saja dalam bentuk dukungan moril, tapi juga pada tataran konkret yang bisa menyelesaikan problem Palestina, melalui bantuan materil atau delegasi-delegasi yang diutus untuk mengetahui secara real kondisi di lapangan. Bahkan bila perlu, mendesak PBB untuk bertanggung jawab dalam masalah ini.

Sebagai penutup, apa yang diungkap Natsir dalam pertemuan tersebut bisa dijadikan bahan renungan. Kata beliau, bila resolusi-resolusi PBB tidak pernah mendapat perhatian ‘‘Israel’’, setidaknya umat Islam bisa menitik beratkan ke masalah Masjidil Aqsha, “Sebab ini menyangkut keyakinan kita. Dan Pemerintah Indoneia pun dalam hal ini juga sudah jelas sikapnya.” Dan saat ini, Masjidil Aqsha telah dinistakan ‘‘Israel’’, lalu apa peran kita sebagai bangsa Indonesia?*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dunia IslamM Natsirpalestinapejuang Islamtokoh islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Serdadu ‘Israel’ Membantah Melakukan Operasi Darat di Gaza
Tulisan selanjutnya Menlu Retno Akan Hadiri Pertemuan OKI, Bahas Agresi ‘Israel’ terhadap Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?