Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

“Bau Amis” Teror Komunis (3): Menginjak-injak al-Qur’an

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 29 September 2021 17:30 5:30 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 29 September 2021 12:00
Bagikan
politbiro
"Dibuat berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para pelaku penyiksaan..."
Bagikan

Yang dibantai PKI itu adalah adik kandung dari anggota Politbiro –semacam pengurus eksekutif PKI.

Hidayatullah.com | MAYOR JENDERAL TNI S. Parman duduk di atas sebuah kursi di balik meja. Ia bersama sekelompok prajurit dalam sebuah misi. Alih-alih bisa memberi perintah kepada para prajurit itu, S. Parman justru disekap oleh mereka.

Seorang di antaranya, dengan pakaian sobek-sobek, mengangkat celurit di tangan kanannya tinggi-tinggi, seperti hendak menebas sang Jenderal. Seorang lainnya, berseragam lengkap, terlihat hendak menghantamkan popor senjatanya ke orang yang sama.

Sementara itu, para prajurit lain bersiaga. Ada yang mengacungkan kepalan tangan dan senjatanya ke arah S Parman yang tampak berlumuran darah.

Pemandangan itu terhidang dalam diorama di Rumah Penyiksaan, salah satu situs di Monumen Kesaktian Pancasila, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Baca Juga

Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”

“Diorama ini dibuat berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para pelaku penyiksaan dan pembunuhan dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub), serta kesaksian Agen Polisi II (Dua) Sukitman,” demikian keterangan tertulis pada situs yang dikunjungi Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu itu.

Para pelaku penyiksaan tersebut diyakini sebagai anggota Pasukan Cakrabirawa dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka diceritakan sedang menyiksa empat perwira TNI.

Selain S Parman, perwira lainnya seperti tertulis pada keterangan di situs itu, adalah Mayjen TNI R Soeprapto, Brigjen TNI Sutoyo S, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Ketiga perwira itu ditampilkan berlumuran darah.

Cukup dekat dari Rumah Penyiksaan terdapat situs lain yaitu Lubang Buaya. Ini adalah sumur tua yang dijadikan tempat pembuangan tujuh Pahlawan Revolusi setelah mereka disiksa dengan begitu keji oleh PKI.

Pahlawan Revolusi itu adalah Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayjen Anumerta DI Panjaitan, Letjen Anumerta MT Haryoo, Kapten CZI Anumerta PA Tendean, Letjen Anumerta S Parman, Letjen Anumerta R Soeprapto, dan Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo.

Mereka gugur setelah diculik pada malam hari, dalam tragedi pemberontakan PKI yang dikenal dengan Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) 1965 atau G30S/PKI.

Ironisnya, sebagaimana diketahui, S Parman yang dibantai PKI itu adalah adik kandung dari anggota Politbiro PKI, Ir Sakirman. Politbiro merupakan semacam pengurus eksekutif.

Tragedi pembantaian para Pahlawan Revolusi itu seperti ditulis oleh Salim Haji Said dalam bukunya, Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto, terjadi pada Jumat, 1 Oktober 1965 pagi.

Salim bercerita, setelah mendapatkan kabar tragedi itu, ia segera menuju rumah Brigjen TNI Soegandhi, Direktur Penerangan Staf Angkatan Bersenjata (SAB), di Jl Diponegoro 54, Jakarta. Beberapa pegawai SAB sudah menunggu di situ.

“Tidak lama kemudian, tuan rumah muncul. Soegandhi baru saja pulang dari rumah beberapa Jenderal yang jadi korban pembantaian pagi itu. Dia bercerita mengenai darah yang masih berceceran di rumah-rumah para koleganya yang dibantai menjelang Shubuh.”

“Mengingat ketegangan antara PKI dan kaum anti-Komunis –terutama dengan Angkatan Darat– yang hari-hari itu memang makin memuncak, tidak sulit bagi kami semua pagi hari itu untuk dengan cepat berkesimpulan bahwa PKI yang berada di balik peristiwa berdarah itu,” tulisnya.

Saat tragedi itu, Salim berusia 22 tahun. Soegandhi lah katanya yang pertama kali memperkenalkan istilah Gestapu.

Kekejaman PKI bukan cuma dilakukan terhadap pihak TNI, tapi juga kepada rakyat sipil, khususnya umat Islam.

Misalnya, seperti dituturkan Salim, pada suatu pagi buta, 15 Januari 1965. Saat itu, peserta pelatihan kader Pelajar Islam Indonesia (PII) sedang bersiap-siap melaksanakan shalat Shubuh di masjid. Tiba-tiba mereka diserang.

Penyerangan fisik itu dilakukan secara brutal. Selain menganiaya para kader PII, orang-orang Komunis juga menginjak-injak kitab suci al-Qur’an.

“Aksi yang menistakan Al-Qur’an ini memicu kemarahan para kiai di hampir semua pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” tulis Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan yang juga mantan wartawan ini.* (bersambung)

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Agustus 2020.

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:G30S-PKIindonesiakomunisPartai Komunis IndonesiaPKIsejarahSejarah PKIteror
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya munas konbes nu PBNU: 94% Alkes Impor, Jangan Sampai Indonesia Terperangkap Jerat Utang
Tulisan selanjutnya Tanggapi Pernyataan Gatot Tentang Penyusupan PKI, Panglima TNI: Saya Anggap Nasihat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Berita
17 Oktober 2026 10:37
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Ragam

Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

28 Agustus 2025 11:00
buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?