Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Karakteristik dalam Kurikulum Pendidikan Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 22 Februari 2022 14:14 2:14 pm
Ahmad
Dipublikasikan 22 Februari 2022 15:00
Bagikan
pendidikan
[Ilustrasi] Santri Sidogiri belajar pendidikan agama.
Bagikan

Kompleksitas problema pendidikan di Indonesia yang ibarat benang kusut, seakan menjadi cerita bersambung yang hangat dan tiada putus untuk dibicarakan.

Daftar isi
  • Dinamika Pendidikan Indonesia
  • Hakikat Ilmu dalam Al-Quran
  • Karakteristik Pendidikan Berbasis Tauhid
  • Adab Sebelum Ilmu
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Oleh: Zainal Arifin 

Hidayatullah.com | Pendidikan semestinya menjadi pranata kehidupan manusia secara utuh, sehingga peserta didik mampu memahami tujuan hidupnya di dunia fana ini. Karakteristik dalam kurikulum pendidikan Islam harus dapat mentransformasikan beragam ilmu kehidupan secara comprehensive.

Sayangnya, hingga detik ini pendidikan bernuansa Islami khususnya di Indonesia belum mampu mengimbangi perubahan apalagi menjadi counter-ideas dari globalisasi zaman. John Hedrik Meuleman melihat adanya kelemahan tradisi ilmiah di kalangan Muslim, diantaranya: Adanya logosentrisme yang kemudian mengabaikan unsur tak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam, sikap apologetik terhadap suatu aliran, adanya kecenderungan verbalistik dan tingginya sikap ekskulisivisme (Perta, 2002: 16-17).

Dinamika Pendidikan Indonesia

Kompleksitas problema pendidikan di Indonesia yang ibarat benang kusut, seakan menjadi cerita bersambung yang hangat dan tiada putus untuk dibicarakan. Catatannya, perubahan kurikulum pendidikan nasional yang tergolong sering di negeri kita belum mampu memberi solusi konkrit pada masalah yang dihadapi dunia pendidikan negeri ini.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kurang lebih sudah 11 kali pemerintah Indonesia merombak kurikulum pendidikan nasional sejak proklamasi kemerdekaan RI. Adakah hasil signifikan dari sistem pendidikan selama bergulirnya masing-masing kurikulum tersebut?

Belum lagi dilema mafia pendidikan yang bergentayangan di tanah air kita ini, yang semata-mata mencari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan label pendidikan. Praktek-praktek kecurangan masih tumbuh subur dibelantika pendidikan nasional.

Akibatnya, membentuk pola pikir menyimpang pada generasi bangsa yang merupakan objek pendidikan, generasi yang cenderung bersifat pragmatis dan kapitalis dalam memandang setiap problematika hidup. Maka, tidak heran jika kita sering melihat oknum alumnus pendidikan yang tidak lagi mengedepankan etika kala berdebat dan menjabat, dan tidak lagi memakai logika iman saat menyelesaikan suatu urusan.

Hakikat Ilmu dalam Al-Quran

Jika manusia tidak memiliki tekad yang kuat dan kebiasaan menuntut ilmu yang baik, maka dapat dipastikan riwayat pendidikannya akan terdegradasi oleh kepentingan duniawi. Hal tersebut mendorong kita untuk memahami urgensitas ilmu terutama dalam proses menghambakan diri kepada Allah SWT.

Fakhruddin al-Razi dalam bukunya Aja ’ibul Qur’an menjelaskan bahwa ketaatan dapat dilaksanakan oleh seseorang manakala ia memiliki kesempurnaan ilmu dan pemahaman tentang Allah yang Maha Esa. Ilmu merupakan out-put dari proses pendidikan yang mengantarkan manusia meraih kemuliaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu.

Dalam Islam, ilmu adalah faktor penting untuk dapat menjalankan ibadah dengan benar. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006 : 78).

Pernyataan yang relevan dengan hadits Rasulullah ﷺ, yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi).

Lebih jauh, manfaat ilmu dapat kita lihat dalam Al-Qur’an Surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, Allah SWT berfirman;

انْشُزُوۡا فَانْشُزُوۡا يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ

“Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Terjemah Arti: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dalam Islam juga tidak dimaksudkan hanya untuk keperluan duniawi, tetapi jauh lebih besar adalah terpenuhinya keperluan duniawi dan ukhrawi secara utuh (QS: al-Qashash [28]: 77). Oleh karena itu, ilmu yang benar menurut Muadz bin Jabal adalah ilmu yang jika dipelajari menghasilkan takwa kepada Allah SWT.

Bahkan Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa orang dikatakan berilmu apabila ia zuhud terhadap dunia, antusias terhadap akhirat dan rajin beribadah kepada Rabb-nya. Oleh karena Al Quran telah menyatu dalam diri Rasulullah, maka Allah pun menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi seluruh umat manusia hingga hari akhir.

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Ahzab [33] ayat 21, yang artinya:

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Surat Al-Ahzab [33]: 21).

Sungguh, Al-Quran merupakan lautan ilmu kehidupan yang banyak berisi ajaran untuk menyembah Allah semata. Berbagai hikmah yang terkandung di dalamnya senantiasa berisi pendidikan yang membimbing manusia untuk menghambakan diri pada Sang Penciptanya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS: Lukman: 13).

Pendidikan yang disampaikan Luqman al-Hakim kepada anaknya sebagaimana termaktub pada ayat tersebut, merupakan bagian dari kegiatan Luqman al-Hakim dalam mendidik umat manusia untuk tidak meninggalkan unsur Ilahiyah dari kehidupan. Artinya, segala jenis pendidikan yang dipraktekkan manusia harus mempunyai tujuan luhur yang kaffah, yakni mencetak generasi umat yang cerdas pada urusan duniawi juga ukhrawinya.

Hakikatnya, ilmu sebagai product of education harus berorientasi pada Al-Quran dan mengandung kurikulum Qurani yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia, baik itu pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Dengan kata lain, pendidikan Qurani tidak sekedar transfer of knowledge, namun juga menanamkan akidah, memelihara akhlak dan memperbaiki tatanan sosial masyarakat.

Karakteristik Pendidikan Berbasis Tauhid

Hakikat ilmu hanya akan diperoleh dari pendidikan yang berorientasi Qurani. Karena, pendidikan Qurani menekankan pengenalan dan pengakuan terhadap Allah yang diajarkan secara progresif kepada umat manusia, serta menjelaskan hal-hal yang sebenarnya mengenai tempat dari segala sesuatu dalam tahapan penciptaan.

Maka eksistensi pendidikan Qurani harus ditumbuh-kembangkan dan terus dijaga agar tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan Allah SWT. Begitu ideal kurikulum dalam Al-Quran yang menitik-beratkan nilai-nilai tauhid sebagai landasan pendidikan mulai dari awal hingga akhir kehidupan ini.

Pendidikan berbasis tauhid dapat disimpulkan dalam tiga karakter khusus, yaitu: adab, integral dan fitrah. Secara garis besar tiga karakteristik tersebut dapat dijelaskan dalam mengenal adab sebelum ilmu, bersifat integral dan kembali pada fitrah.

Adab Sebelum Ilmu

Memahami dan meyakini bahwa ilmu itu datang dari Allah SWT, sedangkan manusia tidak mengerti apapun tanpa wahyu dari-Nya (kandungan QS al-Alaq). Dalam implementasinya, berilmu dengan adab berarti dalam menuntut ilmu terlebih dahulu diawali dengan persiapan spiritual. Baik pendidik maupun peserta didiknya sama-sama istiqomah dalam upaya meluruskan pemikiran dan perilaku, kemudian ikhlas semata-mata karena Allah, selanjutnya tuma’ninah (dapat diartikan kesabaran) demi menjaga konsentrasi agar pikiran tetap jernih.

Pendidikan integral merupakan pendidikan yang memanfaatkan seluruh aspek kehidupan dalam teaching and learning process. Integral yang juga berarti menyeluruh, adalah metode yang mengaplikasikan pelbagai unsur dalam pendidikan.

Contohnya religius ilmiah, empiris dan rasional, deduktif dan induktif, subyektif dan objektif, teori dan praktek, dan masih banyak lagi tanpa menjadikan salah satu ada yang lebih dominan. Karena kita semua mengetahui bahwa pendidikan tidak hanya cukup diukur dari nilai akademis saja, tanpa melibatkan aspek spiritual dan kecakapan hidupnya.

Konspirasi politik dalam dunia pendidikan hanya menjebak pola pikir manusia dalam tataran birokrat semata, sehingga sedapat mungkin hal tersebut dihindarkan demi memurnikan kembali tujuan pendidikan nasional Indonesia.  Wallaahu a’lam bi showab!

Guru SMP Islam Integral Luqman Al-Hakim 02 Batam dan Dosen STKIP Hidayatullah Batam

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pendidikan adabpendidikan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muhammadiyah Dukung Aturan Pengeras Suara Masjid, Tapi Implementasinya Jangan Terlalu Kaku
Tulisan selanjutnya Kecam Larangan Jilbab di India, Pimpinan DPR RI Sebut Umat Islam Dunia Terluka

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran

Berita
11 Juli 2026 10:28
Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?