Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tak Mau Tinggal di Gedung Biru, Presiden Baru Korea Selatan Dituding Percaya Dukun

Ama Farah
Terakhir diupdate: 10 Mei 2022 19:12 7:12 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 10 Mei 2022 19:12
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Selama puluhan tahun, presiden-presiden Korea Selatan memulai masa jabatan mereka dengan membiasakan diri tinggal di Gedung Biru, kediaman resmi kepala negara. Namun, Yoon Suk-yeol menjadi presiden pertama dalam sejarah modern negara itu yang menolak untuk tinggal di tempat itu.

Yoon, yang me citrakan dirinya sendiri sebagai “presiden rakyat”, hari Selasa (10/5/2022), membuat kejutan dengan mengatakan tidak bermaksud untuk tinggal di Blue House, yang dinamakan demikian karena genting atapnya yang berwarna biru. Dia justru memilih menuju sebuah kantor baru di dalam bangunan bekas kementerian pertahanan di pusat kota Seoul.

Yoon berdalih Gedung Biru, yang terletak di kaki gunung di lokasi bekas pusat kekuasaan kolonial Jepang 1910-1945 di Semenanjung Korea, merupakan “simbol kekuasaan imperialisme”. Presiden-presiden Korea Selatan berturut-turut telah tinggal dan bekerja di sana sejak negara itu menjadi republik pada tahun 1948.

Akan tetapi, keputusan Yoon itu tidak disambut dengan baik. Pendahulunya, Moon Jae-in, mengatakan keputusan Yoon untuk tidak tinggal dan bekerja di Gedung Biru justru akan menimbulkan masalah keamanan.

Para pendukungnya dari kalangan konservatif justru mempertanyakan keputusan itu – yang kabarnya merogoh kocek negara $40 juta – sementara Yoon seharusnya fokus pada masalah perekonomian dan isu-isu berkaitan dengan Korea Utara.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Yoon, 61, membantah tuduhan bahwa dia dan istrinya memutuskan untuk tinggal di tempat lain atas masukan dari para dukun, yang perannya dalam dunia politik Korea Selatan menjadi isu selama kampanye.

Menanggapi tuduhan itu, Yoon mengatakan bahwa hal tersebut dikarang oleh lawan-lawan politiknya. “Partai Demokrat sepertinya lebih tertarik pada para dukun dibanding saya,” katanya kepada awak media menyusul kemenangannya pada 9 Maret, seraya menambahkan bahwa dia sudah menimbang beberapa lokasi sebagai kantor dan tempat tinggal resminya selama menjabat.

Dia menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa penasihat-penasihat spiritual (dukun) yang diperkenalkan kepada istrinya, Kim Kun-hee, memiliki peran besar dalam kampanye pemilihan.

Kim, 49, mengatakan kepada sebuah kanal YouTube bahwa dia “seorang spiritual” yang menyukai diskusi penuh makna dengan para guru daripada mengunjungi kelab malam, menurut laporan kantor berita Yonhap seperti dilansir The Guardian.

Yoon juga menyangkal bahwa dia sering mengunjungi seorang ahli akupunktur anal.

Ada spekulasi bahwa Yoon bertekad menghindari “kutukan” Gedung Biru yang telah menjungkirbalikkan kekuasaan sejumlah pendahulunya, termasuk diktator Park Chung-hee, yang dibunuh di halaman gedung itu pada 1979, dan putrinya, Park Geun-hye, yang dimakzulkan dan dipenjarakan karena korupsi pada 2017.

Ketika Yoon diambil sumpahnya dalam pelantikan sebagai presiden hari Selasa ini, warga Korea Selatan yang antusias pergi mengunjungi Gedung Biru dan memberikan tanggapan terhadap keputusan presiden baru mereka.

“Rasanya tidak nyata,” kata Hwang Jin-woo, pekerja di perusahaan konstruksi, kepada The Guardian di luar Gedung Biru, yang halamannya nanti akan diubah menjadi taman publik.

“Sejak saya masih kecil, tempat ini telah menjadi simbol kekuasaan. Sampai kemarin, tempat itu adalah simbol kekuasaan, tetapi sekarang publik dapat mengaksesnya. Saya lahir beberapa dekade yang lalu, kala itu saya bahkan tidak bisa mengintip tempat ini. Tapi tiba-tiba gedung itu diberikan kepada publik, rasanya agak sulit dipercaya.”

Lee Jin-ok, seorang pengunjung dari Suwon, dekat Seoul, sependapat dengannya. “Saya pikir ini benar-benar hebat, bahwa tempat itu telah kembali ke tangan rakyat,” kata wanita itu. “Tempat ini memiliki banyak nilai budaya dan saya selalu berpikir bahwa Blue House adalah salah satu bangunan terindah di Korea. Saya berharap orang-orang akan datang ke sini dan bersenang-senang sambil belajar tentang sejarah Korea dan presiden-presiden masa lalunya.”

Namun, bagi Kim Moon-soo, seorang pekerja kantoran, uang jutaan dolar yang dihabiskan untuk membangun kantor baru Yoon seharusnya dipakai untuk keperluan yang lebih bermanfaat.

“… Saya berharap dia akan memenuhi janji-janjinya dan mengurus negara ini dengan baik di masa-masa sulit sekarang ini,” ujarnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dukunGedung BiruGuru SpiritualImperialismeKorea SelatanpresidenYoon Suk-yeol
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rusia akan Tarik Tentara dari Suriah untuk Perkuat Pasukannya di Ukraina
Tulisan selanjutnya Militer Thailand Boikot Lazada karena Menghina Anggota Keluarga Kerajaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?