Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

30 Tahun Berdakwah di Lokalisasi Maksiat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Juni 2014 10:26 10:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Juni 2014 10:26
Bagikan
Ustad Khoiron, dai dari lokalisasi
Bagikan

TAK banyak orang yang berminat untuk terjun ke lapangan menjadi juru dakwah. Beratnya tantangan adalah alasan utama seseorang menghindari tanggung jawab menyeru pada kebaikan. Apalagi jika medan yang dihadapi memiliki problem khusus seperti daerah lokalisasi.

Di tempat sedemikian, tingginya jam terbang seorang da’i tidak menjadi jaminan seruannya dapat didengar masyarakat yang sudah terbiasa dengan dosa.

Surabaya yang terkenal sebagai Kota Pahlawan memiliki basis dunia kesantrian yang kuat. Namun demikian, menjamurnya lokalisasi prostitusi menjadi ironi tersendiri di kota tersebut. Ironi inilah yang kemudian menggugah hati Drs. Khoiron Syu’aib untuk menyeru dakwah Islam di tengah lokalisasi prostitusi.

Pada 17 Agustus 1959, Khoiron Syu’aib lahir di tengah salah satu lokalisasi besar di Surabaya, Lokalisasi Bangunsari. Khawatir anaknya terpengaruh dekadensi moral, Kiayi Syu’aib, ayah dari Khoiron kecil untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Selesai melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, pada tahun 1982, Khoiron terpanggil untuk membenahi kampung halamannya.

Tantangan besar menghadapi lika-liku dunia maksiat tidak membuatnya mundur.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Bahkan suatu ketika, ia pernah mendapati preman yang mengungkapkan keberaniannya menghadapi azab Allah Subhanahu wata’ala.

“Allah kan menciptakan surga dan neraka dengan fungsinya masing-masing, kalau tidak ada orang-orang seperti kita, nanti surga tidak terpakai,” ujar Khoiron mengulang ungkapan preman yang menantang usaha dakwahnya.

Kepada tim Jurnalis Islam Bersatu (Jitu) yang bertandang ke rumahnya Jumat, (20/06/2014), Khoiron menekankan, dalam berdakwah di lokalisasi, usahakan agar rasa benci kita hanya terarah pada perilaku orang tersebut, dan tidak membenci secara personal.

“Mereka (preman, pelacur, mucikari, dan pelanggan prostitusi) sesungguhnya butuh bantuan untuk bangkit mengalahkan tekanan hawa nafsu, jika kita berdakwah dengan main vonis, hati mereka justru akan semakin tertutup,” jelasnya.

Salah satu trik yang dipakai oleh Khoiron dalam merangkul para pelacur, mucikari, dan preman lokalisasi adalah dengan tidak menyebut kata “dosa” dalam setiap tausiahnya. Ia justru menekankan agar para pelaku maksiat ini untuk melihat masa depan agar mau bertaubat.

“Kalau di jelaskan tentang dosa, mereka justru sudah sangat tahu perbuatan mereka adalah dosa besar, justru dengan memberikan mereka harapan akan masa depan yang lebih baik, hati mereka akan perlahan-lahan menerima kebenaran,” papar Khoiron dengan yakin.

Walau membutuhkan waktu puluhan tahun, akhirnya kerja dakwah Khoiron membuahkan hasil. Saat ini, Bangunsari yang sempat menjadi sentral lokalisasi di Surabaya yang bahkan lebih tua dari Dolly, tidak meninggalkan bekas.

Keberhasilan Khoiron dalam berdakwah dan mendekati masyarakat area lokalisasi memberi inspirasi bagi Pemkot Surabaya untuk berani menindak tegas area lokalisasi. Sebelum kesuksesan Khoiron, keinginan Pemkot Surabaya untuk menertibkan lokalisasi tampak seperti mimpi.

Selain karena banyak oknum pemerintah yang membekingi area lokalisasi, mengusik area tersebut secara umum diibaratkan seperti membangunkan macan lapar.

“Mereka yang sudah terlalu nyaman dengan gelimang dosa, akan bertindak liar jika kesenangannya diganggu,” ujar ayah berputra tiga ini.

Dari sini, Khoiron pun mengungkapkan bahwa persoalan lokalisasi pelacuran dapat diselesaikan dengan baik jika ulama dan umaro berusaha membangun sinergi.
Ia juga mencontohkan betapa sinergi antara Soekarwo selaku Gubernur Jawa Timur, Risma selaku Wali Kota Surabaya dan seluruh ulama se Jawa Timur, mampu bersepakat untuk mengalih fungsikan lokalisasi Dolly.

“Walau alih fungsi lokalisasi Dolly-Jarak memakan waktu, tapi keberanian untuk memprakarsai hal ini adalah prestasi besar yang patut kita apresiasi,” katanya.

Khoiron yang sering diledek dengan panggilan “Kiaii Prostitusi” turut menghimbau kepada para da’i agar melihat area lokalisasi pelacuran sebagai ladang dakwah. Panduan yang ia sampaikan sebagai bekal berdakwah di area lokalisasi pun terbilang sederhana.

“Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan dengan gamblang, mulailah menyeru dengan menggunakan hikmah dan kebijaksanaan, lalu perkuat dengan contoh dan tauladan yang baik, dan jika masih ada yang berkeras, debatlah ia dengan cara sebaik-baiknya,” tutup Khoiron.*/ditulis Eza/JITU

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:da'idakwahdollygang dollyJITUlokalisasipelacuran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dolly, Isu Kolom Agama dan “Permen” HAM
Tulisan selanjutnya Dengan Roket Rusia-Ukraina Satelit ‘Made in Saudi’ Mengorbit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?