Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Virus Itu Bernama Riya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2022 11:18 11:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Oktober 2022 11:20
Bagikan
Bagikan

Riya tak ubahnya seperti virus yang tak tampak oleh mata namun dapat membunuh jasad dan mata hati manusia

Hidayatullah.com | PADA suatu waktu sahur, seorang abid membaca Al-Quran, Surah Thoha, di biliknya yang berdekatan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa sangat mengantuk, lalu tertidur.

Dalam tidurnya dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa sebuah Al-Quran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Dibukanya Surat Thoha dan disibaknya halaman demi halaman.

Si abid melihat setiap kalimat surah yang dibacanya dicatat sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimat saja yang catatannya ditiadakan pahalanya. Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah aku baca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun. Tetapi mengapa catatan pahala untuk kalimat ini ditiadakan?”

“Benar apa yang engkau katakan. Engkau memang tidak meninggalkan kalimat itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimat itu telah kami catatkan pahalanya. ”Tetapi tiba-tiba kami mendengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy : ‘Hapus catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu’. Maka sebab itulah kami segera menghapusnya”.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Si abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Mengapa tindakan itu dilakukan?”. “Sebabnya adalah engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sadar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimat yang tiada bercatatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”. Si abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-’Azhim! Sungguh licin virus riya menyusup masuk ke dalam kalbuku dan sungguh besar celakanya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya.”

Riya’ berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran). Dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya adalah sikap ingin diperhatikan atau dilihat orang lain.

Para ulama mendefinisikan riya dengan ”menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.” Dari definisi ini jelas bahwa dasar perbuatan riya adalah untuk mencari penghargaan, pujian, kedudukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang kita lakukan.

Sering keberadaan riya ini luput dari pengamatan dan perasaan seseorang dikarenakan begitu tidak kentaranya, sehingga ada yang mengibaratkan bahwa ia lebih halus daripada seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Padahal keberadaan riya dalam suatu amal amatlah berbahaya dikarenakan ia dapat menghapuskan pahala dari amal tersebut.

Riya disebut sebagai penyakit yang bersifat lembut namun berdampak luar biasa. Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini.

Berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT dan pelakunya mendapat ancaman keras dari-Nya. Riya’ tak ubahnya seperti virus yang tak tampak oleh mata namun dapat membunuh sang penderita. Bila virus penyakit dapat membunuh jasad seseorang, virus riya dapat membunuh mata hati.

Tanpa kita sadari, tak jarang setiap perbuatan kita bersifat riya. Saat shalat sendiri di rumah, boleh jadi kita tidak melaksanakan shalat sunnah, namun ketika shalat berjamaah di masjid, tiba-tiba saja kita ingin melaksanakan shalat sunnah.

Contoh lainnya, para public figure yang melakukan aksi sosial dengan liputan kamera para wartawan, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang amal kebaikan yang dilakukannya.  Alangkah ruginya bila seseorang melakukan ibadah tetapi di hatinya ada setitik saja rasa show off, atau ingin dipuji.

Amalan atau ibadah seperti ini tentu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali pujian dari manusia saja. Di mata Allah, amalan ini akan menjadi sia-sia dan tak bernilai, karena syarat diterimanya suatu amal adalah keikhlasan dan tidak keluar dari koridor syariat Islam.

Selain berbahaya sebagai penyakit yang bersifat lembut tapi berdampak luar biasa, riya’ juga disebut sebagai syirik kecil. Oleh karena itu Nabi ﷺ sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya.

Nabi Muhammad ﷺ pun bersabda yang artinya:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy-syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy-syirkul ashghar? Beliau ﷺ menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid).

Beribadah kepada Allah merupakan hak Allah SWT yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah SWT, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya.

Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS: Al Bayyinah: 5).

Karena sifatnya yang halus, maka riya’ menjadi salah satu cara setan menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Untuk itulah manusia harus ekstra hati-hati.

Kebiasaan shalat berjamaah dengan warga sekitar di masjid atau musholla terdekat adalah perilaku mulia, namun hati harus tetap dijaga agar tidak timbul niat untuk menunjukkan giatnya beribadah. Sedekah yang kita salurkan sebaiknya tanpa diketahui oleh orang lain agar tidak muncul hasutan setan untuk pamer. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 Artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS: Al Baqarah: 264).

Dalam konteks ayat di atas, Allah SWT mengingatkan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau yang menyakiti perasaan si penerima akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’, yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah SWT.

Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatan riya saja, tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah swt mengancam bahwa orang-orang yang berbuat riya’ akan mendapatkan kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak, sebagaimana yang tertuang dalam surah Al Mauun.

Ada sebuah kisah menarik yang tertulis dalam buku 9 Bidadari Bumi. Buku yang ditulis oleh Ustadzah Halimah Alaydrus ini mengisahkan beberapa kisah wanita yang hidup di masa kini yang terus berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Di antara kisah-kisah tersebut terdapat sebuah kisah tentang Hubabah Bahiyyah, seorang wanita lanjut usia dan ahli beribadah. Menariknya, jika ada orang yang mengucapkan sanjungan dan memujinya, beliau langsung bersikap tidak bersahabat dan cenderung kasar.

Orang yang tidak mengenalnya tentu akan menganggap beliau adalah seorang yang sombong dan tidak ramah, tetapi ternyata hal itu beliau lakukan agar ia tidak mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain yang dapat membuatnya menjadi tidak ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah.

Menurut Imam Ghozali cara untuk menghilangkan penyakit riya adalah dengan cara menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain dan marah jika mendapat celaan dari orang. Kita perlu membiasakan diri untuk menyembunyikan berbagai amal ibadah yang kita lakukan.

Kita juga harus berusaha melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya’ pada saat mengerjakan suatu ibadah. Semoga virus-virus riya’ yang barangkali selama ini tidak terasa berada diantara kita perlahan-lahan dapat lenyap dari hati kita dan digantikan oleh sifat ikhlas dan mengharap ridho Allah semata.*/ Fatimah Azzahra Alattas, (Cahaya Nabawi)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:riyasombong
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pelaku Penusukan Anak SD Saat Pulang Ngaji di Cimahi karena Mabuk dan Gagal Rampas HP
Tulisan selanjutnya Jual Beli terlarang dalam Islam Inilah Jenis Jual Beli yang Terlarang dalam Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?