Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tidak Dibela Anaknya, Wanita Amerika Pemimpin Batalyon ISIS Dibui 20 Tahun

Ama Farah
Terakhir diupdate: 2 November 2022 08:09 8:09 am
Ama Farah
Dipublikasikan 2 November 2022 08:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Wanita warga Amerika Serikat yang memimpin batalyon perempuan ISIS di Suriah dihukum bui 20 tahun setelah tidak mendapatkan pembelaan dari anak-anaknya.

Di pengadilan federal di Alexandria, Virginia, anak-anak Allison Fluke-Ekren mengatakan ibu mereka memiliki ‘gila kekuasaan’ dan layak dijatuhi hukuman maksimal.

Allison Fluke-Ekren, 42, mengakui bahwa dia memimpin Khatiba Nusaybah, sebuah batalion di mana sekitar 100 wanita dan anak perempuan – sebagian berusia 10 tahun – belajar cara menggunakan senjata otomatis dan meledakkan granat dan sabuk bunuh diri. Salah satu anak perempuan Fluke-Ekren termasuk yang mendapatkan pelatihan tersebut.

Wanita asal Kansas itu dijatuhi hukuman maksimal 20 tahun, setelah anak-anaknya sendiri memberikan kesaksian memberatkan dengan memaparkan tindakan keji yang dilakukan si ibu terhadap mereka. Putri dan putra tertua Fluke-Ekren mendesak hakim untuk menjatuhkan hukuman maksimal.

Mereka mengatakan telah dilecehkan secara fisik dan seksual oleh ibu mereka, dan dalam sejumlah surat yang ditujukan kepada pengadilan menggambarkan perlakuan buruk itu dengan detail yang mengerikan. Fluke-Ekren membantah cerita anak-anaknya itu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Anak perempuan yang bernama Leyla Ekren mengatakan nafsu yang besar akan “kekuasaan dan kontrol” mendorong ibu mereka memaksa keluarganya pindah ke Suriah dan bergabung dengan kelompok teroris di sana.

Leyla mengatakan bahwa ibunya semakin pandai menyembunyikan kekejaman yang dilakukan terhadap anaknya. Pernah suatu ketika ibunya mencurahkan obat antikutu rambut ke seluruh wajahnya sebagai hukuman. Ketika obat itu mulai menimbulkan lepuh di bagian wajah dan membakar matanya, ibunya berusaha mencuci zat kimia itu dari wajah putrinya, tetapi Leyla memberontak.

“Saya ingin masyarakat melihat orang seperti apa dia sesungguhnya,” kata Leyla, sementara ibunya duduk beberapa meter saja jauhnya dengan gestur dan ekspresi wajah tidak menyangka putrinya akan berkata demikian. Fluke-Ekren kemudian melotot ke arah anak-anaknya ketika mereka memberikan kesaksian, lapor Associated Press Selasa (1/11/2022).

Jaksa penuntut mengatakan kekejaman yang dilakukan wanita itu terhadap anak-anaknya sejak usia dini menjelaskan bagaimana dia sanggup meninggalkan rumah pertanian seluas 33 hektar di Overbrook, Kansas, untuk bergabung dengan ISIS di Suriah dan menjadi salah satu pentolannya.

Di persidangan, Fluke-Ekren meminta agar dihukum penjara dua tahun saja agar dia dapat membesarkan anak-anaknya.

“Kami menjalani kehidupan yang sangat normal,” katanya kepada hakim perihal kehidupannya di Suriah, sambil menunjukkan foto anak-anaknya yang menikmati pizza setiap pekan.

Fluke-Ekren membantah tuduhan kekerasan yang dituduhkan putrinya, menuding bahwa putranya yang memanipulasi anak perempuannya itu untuk mengarang cerita.

Fluke-Ekren menggambarkan Khatiba Nusaybah sebagai sesuatu yang lebih mirip dengan pusat komunitas wanita yang kemufian bermetamorfosis menjadi serangkaian kelas bela diri, karena kota Raqqa, benteng ISIS di mana dia tinggal, menghadapi pengepungan dan invasi dari pasukan lawan.

Dia mengakui bahwa wanita dan anak perempuan yang tergabung dalam Khatiba Nusaybah diajari untuk menggunakan sabuk bunuh diri dan senjata otomatis. Namun, kata Fluke-Ekren, itu demi keselamatan mereka agar dapat menghindari kecelakaan di zona perang di mana senjata semacam itu biasa ditemukan.

Fluke-Ekren menjelaskan perlunya perempuan untuk membela diri terhadap kemungkinan pemerkosaan oleh tentara musuh. “Kekerasan seksual tidak dapat dimaklumi dalam keadaan apa pun,” katanya.

Namun, pernyataan Fluke-Ekren ini langsung diinterupsi oleh hakim Leonie Brinkema yang bertanya perihal dugaan putrinya yang dipaksa menikahi seorang petempur ISIS yang pernah memperkosanya di usia 13 tahun.

Interupsi hakim langsung diprotes oleh Fluke-Ekren. “Dia ketika itu sudah berusia 14 kurang beberapa pekan saja,” ujarnya seraya menambahkan, “Itu keputusannya sendiri. Saya tidak pernah memaksanya.”

Raj Parekh, asisten pertama kejaksaan wilayah Eastern District di Virginia,  menggambarkan Fluke-Ekren sebagai “permaisuri ISIS” yang suami-suaminya berhasil meraih jabatan senior di ISIS tetapi malang satu per satu tewas dalam peperangan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Allison Fluke-EkrenAmerika SerikatISISkhatiba nusaybahsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Yahya Cholil Staquf Sebut R20 Sarana Menjadikan Agama Solusi Berbagai Permasalahan Dunia 
Tulisan selanjutnya Bertemu Mahfud MD, MUI Sampaikan Dukungan dan Catatan Penyelesaian 13 Kasus Pelanggaran HAM Berat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?