Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

‘Trio Mujaddid’ Menciptakan Peristiwa Lewat Adu ‘Debat’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Januari 2023 17:57 5:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Januari 2023 19:00
Bagikan
Trio Mujadid - KH. Ahmad Dahlan - Syeikh Surkati - A. Hassan
Bagikan

Melalui spirit tajdid, ‘trio mujadid’ – KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Surkati dan Tuan Guru Ahmad Hasaan—mampu mengubah kejumudan melalui edukasi lewat sekolah, buku, media dan forum dialog

Hidayatullah.com | MENGUTIP ungkapan dosen Universitas Muhammadiyah HAMKA, Desvian Bandarsyah yang diambil berdasarkan teori Sidney Hook dalam The Hero in History, bahwa ada dua jenis manusia yang berhubungan dengan sejarah, yaitu ‘eventful man’ dan ‘event-making man’. Yang pertama adalah ‘manusia dalam peristiwa’ dan yang kedua adalah ‘manusia sebagai pencipta peristiwa’.

Dari teori Sidney Hook di atas, ‘event-making man’ memiliki derajat kebebasan dan kemampuan yang tinggi, sehingga mereka tidak disukai oleh peristiwa, melainkan telah menciptakan sebuah peristiwa dan membelokkan arah sejarah, sehingga tercipta sejarah baru.

Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, kita bisa mengidentifikasi sejumlah nama tokoh yang dapat dikategorikan sebagai ‘event-making man’, termasuk antaranya adalah tokoh-tokoh para pembaharu Islam seperti pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah Syaikh Ahmad Surkati dan Guru Utama Persatuan Islam Tuan Ustadz Ahmad Hasaan.

Ketiga orang tokoh yang dilebeli sebagai ‘Trio Mujaddid Abad 19 itu, berhasil melakukan perubahan mendasar terhadap cara pandang dan pola pikir keagamaan umat Islam dari belenggu kebodohan, kemiskinan dan penjajahan.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Sebagai motor penggerak pembaharuan Islam, terutama yang berpusat di tanah jawa dengan basis wilayah masing-masing, tempat dimana mereka mulai merintis ide-idenya.

Ketiga orang pencipta peristiwa itu sama-sama harus berhadapan dengan banyak pihak yang tidak menyukainya, terutama dari lingkungan disekitarnya yang telah mengadaptasikan kehidupannya dengan tradisi-tradisi dan kondisi yang ada selama lebih dari ratusan tahun.

Ide dan gagasan ‘Trio Mujaddid’ itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, melalui sebuah pergerakan terorganisir yang dianggap asing di zamannya masa itu.

Spirit ayat 104 dalam Kitabullah pada Surat Ali Imran sama-sama menjadi pemicu dan motto ketiga organisasi pembaharuan Islam yang dirintisnya tersebut yang membersamai mereka dalam melawan berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapinya.

Spirit tajdid terutama dalam gerakan pemurnian ajaran Islam, membersihkan unsur-unsur jumud dan taqlid buta umat terhadap pemahaman yang sulit dirubah, mampu dirubah oleh Trio Mujaddid melalui edukasi lewat sekolah, buku, media dan forum dialog.

Tidak sedikit lawan yang bertekuk lutut dan terbuka cakrawala berfikirnya dari sikap dan sifat jumud menjadi dinamis, setelah adu ketangkasan berbicara yang mempersejantai mereka dalam berdakwah dari ilmu mantiq yang terkuasainya.

Edukasi berdialog dan berdebat secara terbuka seperti buku verslag debat tentang taqlid di Gebang, jarang dan bahkan sudah tidak lagi peristiwa itu akan kita jumpai di masa sekarang ini.

Para ‘Trio Mujaddid’ melalui pergerakan yang dirintisnya, Muhammadiyah di Yogyakarta 1912, Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta 1914 dan PERSIS di Bandung 1923, telah menampilkan Islam modern yang mampu mengubah peristiwa melalui edukasi, termasuk menciptakan kader yang mumpuni dalam bidang ilmu mantiq.

Pada dekade tahun 1920an, Syeikh Surkati bersama murid-murid utamanya tampil dalam forum terbuka yang berbicara tentang konsepsi berbangsa dan bernegara saat berhadap-hadapan dengan Semaun yang berhaluan kiri.

Demikian juga dalam permasalahan-permasalahan agama dengan ulama-ulama dari kalangan konservatif, tapi uniknya usai perdebatan, nara sumber yang saling berhadap-hadapan itu, satu sama lain saling menunjukan rasa hormat dan mengagumi keilmuan satu sama lain secara objektif.

Semoga saja ada kesadaran dari semua anak keturunan idiologis ‘Trio Tajdid’ yang ketiganya sama-sama bernama Ahmad dan juga dikenal sebagai jagonya ‘ahli’ debat, dapat melahirkan kembali kader-kader ahli mantiq, dalam makna yang dalam dan bukan yang sempit, debat bukan untuk menjatuhkan lawan bicara dan untuk mencari pemenangan, tapi membangun kesadaran berfikir agar lawan bicara kembali kepada jalan yang lurus.

Karena dalam merintis pergerakan Islam lewat jumiyyah (organisasi) yang dibentuknya, Trio Mujaddid berusaha dan berupaya memberikan pandangan bahwa ajaran Islam bukan sekedar sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan kesempurnaan ajarannya yang menyangkut akhlaq dan muamalah.*/Abdullah Abubakar Batarfie, Ketua Pusat Dokumentasi & Kajian Al-Irsyad Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanKH Ahmad DahlanMujaddidSyeikh Surkatitajdid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penyuka Seks Sejenis Meresahkan, Anggota Dewan Dorong Pelarangan LGBT
Tulisan selanjutnya Hidayatullah Jatim Berangkatkan Umrah 15 Kader Dai-nya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid
Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?