Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Indonesia Pernah Punya Menteri Keuangan Miskin

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Maret 2023 18:28 6:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Maret 2023 10:50
Bagikan
Jabatan Syafruddin Prawiranegara adalah Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, dan Gubernur Bank Indonesia pada zaman kemerdekaan, tapi dia miskin bahkan istrinya berjualan gorengan
Bagikan

Istri Menteri Keuangan RI ini bahkan rela berjualan gorengan karena tidak mau mengambil harta negara

Oleh: Pizaro Gozali Idrus

Hidayatullah.com | INDONESIA pernah punya pejabat keuangan yang miskin. Namanya Syafruddin Prawiranegara.

Jabatannya tidak kaleng-kaleng. Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, dan Gubernur Bank Indonesia pada zaman kemerdekaan. Pusat perputaran keuangan di negeri berada di tangannya.

Tapi jangan disangka meski menjabat menteri, Syafruddin hidup bergelimang harta. Ia bukanlah  pejabat kaya raya. Tidak ada pemandangan mobil-mobil mewah di rumahnya.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Atau gaya anak-anak perlente di kehidupannya. Sebaliknya, istri Syafruddin harus rela berjualan gorengan karena tak memiliki uang, terang Yudi Latif dalam buku Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan.

Ketika Siti Halimah ditanya anak-anaknya, apakah tidak malu berjualan sukun goreng padahal suaminya seorang tokoh Republik dan memiliki jabatan? Siti Halimah berkata ia tidak ingin hidupnya bergantung pada orang lain. Karena begitulah pesan Syafruddin.

Menurut Siti Halimah, berjualan sukun goreng untuk menopang kehidupan keluarga bukan perbuatan tercela. Sebaliknya, kita barulah malu jika mencuri harta orang lain.

“Seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu,” pesan Siti Halimah.

Kisah kegetiran Syafruddin dan istri bahkan sangat tampak saat menyongsong buah hati. Ketika sang anak, Chalid Prawiranegara lahir. Keluarga Syafruddin bahkan tak mampu membeli gurita untuk bayinya. Padahal nilai gurita mungkin tak sebanding dengan deposito para pejabat saat ini.

Tapi Syafruddin bukanlah pejabat oportunis. Ia boleh miskin harta, tapi kaya jiwa. Tokoh yang terkenal dengan prinsip hidup “takut pada Allah” tidak ingin menggunakan sedikit uang negara sekadar untuk membeli kebutuhan anaknya yang baru lahir. Sang istri akhirnya menggunakan kain bekas dengan menyobek kain kasur untuk gurita bayinya.

Saat menjadi Gubernur Bank Indonesia, Syafruddin juga dikenal sebagai pejabat yang lurus. Ia sangat hati-hati mengelola keuangan negara. Bahkan saat berhubungan dengan sejawatnya sendiri.

Suatu ketika Anwar Harjono, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (sayap pemuda Masyumi), mengunjunginya dengan maksud meminta proyek yang resmi. Proyek yang diminta Anwar Harjono bukanlah proyek haram, tapi proyek halal. Tapi siapa sangka, Sjafruddin justru menolaknya. Dengan prinsip anti nepotisme yang sangat kuat, Syafruddin balik berkata: “Saya ini Gubernur Bank Sentral Indonesia, Bukan Gubernur Bank Masyumi.”

Dalam buku Syafruddin Lebih Takut Kepada Allah, Ajip Rosidi menjelaskan bagaimana teguhnya prinsip sang Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia itu memegang amanah. 

Syafruddin menegaskan segala aktifitas tata kelola keuangan tidak boleh dipisahkan dari ajaran Islam. Agar tidak terjadi kesenjangan sosial ekonomi di tengah masyarakat.

“Salah satu sebab dari adanya kekacauan sosial dan perbedaan yang besar antara yang kaya dan yang miskin adalah bahwa agama itu mau dipisahkan dari ekonomi,” ujar dia.

Bahkan saat menjadi Menteri Keuangan, Syafruddin menyampaikan pesan kepada publik untuk peduli kepada sesamanya. Berjiwa tolong-menolong. Mau melihat ke kanan dan ke kiri jika ada tetangga kesulitan. Tidak memikirkan kekayaan pribadi.

“Tanyalah kepada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lima hari, berikanlah kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan,” perintah Syafruddin.

Begitulah Syafruddin mewarisi keteladanan sebagai pejabat tinggi keuangan di Indonesia. Ia rela hidup papa asal rakyat sejahtera. Dan enggan mengambil sepeserpun uang yang bukan miliknya.

Bagi Syafruddin, seseorang tidak boleh menyelewangkan amanah yang diberikan demi kepentingan pribadi. Apalagi berlomba-lomba memperkaya diri dan mempertontonkannya kepada masyarakat yang hidup bergelimang kemiskinan.

“Dalam usaha mencari nafkah, kita harus memperhatikan dan memegang teguh norma-norma moral yang tinggi. Kaum Muslim tidak boleh mencuri dan menipu, menyalahgunakan amanah untuk memperoleh keuntungan,” tegas Syafruddin.*

Penulia adalah pengajar HI Universitas Al-Azhar Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineMenteri Keuangan MiskinPilihan RedaksiSyafruddin Prawiranegara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aparat Bekuk Penjual Konten Pornografi melalui Aplikasi dengan Ancaman 5 Tahun
Tulisan selanjutnya Tunggu Arahan, TNI Siap Eksekusi KKB dan Kelompok Separatis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?