Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Fikih Tahawulat dan Tantangan Memahami Modernisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Juli 2023 14:38 2:38 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Juli 2023 14:29
Bagikan
Bagikan

Karakter utama pemikiran modernisme adalah membuang metafisika, membongkar struktur pemikiran Islam, maka gagasan fikih tahawulat mengajak umat Islam “melek” terhadap perubahan pemikiran, keyakinan, budaya manusia setiap masa

Oleh: Dr. Kholili Hasib

Hidayatullah.com | HARI AHAD 16 Juli 2023, JMMI kampus Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan haul pertama (peringatan wafat) Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adni (selanjutnya dikenal dengan imam al-Masyhur), di Masjid Manarul Ilmi. Acara menghadirkan dua narasumber; Dr. Faisal Hamud an-Najjar dan Syekh Samih al-Kuhali.

Kedua narasumber menjelaskan konsepsi fikih tahawulat dalam menghadapi perubahan zaman dan tanda-tanda akhir zaman dalam perspektif Islam.

Imam al-Masyhur, wafat pada 27 Juli 2022. Ia seorang ulama asal Hadramaut Yaman. Sering pula mendapat julukan mufakkir. Karena memiliki gagasan baru yaitu kosep fikih tahawulat.  

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Dr. Faisal Hamud an-Najjar dalam seminar tersebut menjelaskan maksud fikih tahawulat. Yaitu pengetahuan untuk memahami perubahan-perubahan zaman dan tanda hari kiamat.

Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adni sendiri menjelaskan gagasan fikih thawulat dalam karyanya An-Nubdzah As-Sughra, yaitu pemahaman terhadap hal-hal yang telah, sedang atau akan terjadi dari perubahan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, dan hal-hal baru dalam ilmu teoritis ataupun aplikatif, kebudayaan, kejadian dan fitnah di tahap-tahap kehidupan manusia secara umum dan kehidupan umat nabi Muhammad secara khusus hingga hari Kiamat (Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adni, An-Nubdzah As-Sughra, 16).

Baca: Fikih Akhir Zaman dan Masa Depan Umat

Faidah mengetahui fikih ini adalah; mengetahui sikap yang benar dalam menyikapi berbagai fitnah yang timbul disepanjang masa, dengan berdasarkan nas-nas syariat.

Konsep fikih akhir zaman bukan sekadar mempelajari tanda-tanda hari Kiamat saja, tetapi bagaimana mensikapi tanda tersebut menjadi suatu rumusan dan kaidah agar dapat bersikap benar di tengah perubahan-perubahan.

Pada seminar ilmiah di ITS lalu, muncul pertanyaan dan pernyataan menarik. Bagaimana implementasi fikih tahawulat di dalam kampus, di dunia akademik?

Saya tertarik untuk merenungkan pertanyaan ini. Prof. Dr. M. Masyhuri sempat melemparkan isu integrasi yang sedang dibincangkan dosen ITS.

Dalam benak hati, saya spontan mengatakan; isunya harus dibawa ke problem epistemologis terlebih dahulu. Saya langsung menyimpulkan, harus islamisasi bukan sekedar integrasi.

Sesuai dengan definisi fikih tahawulat yaitu memahami perubahan-perubahan, penyebabnya dan bagaimana sikap yang tepat.

Adapun perubahan yang sangat mencolok di era modern adalah perubahan epistemologis dalam sains dan ilmu pengetahuan secara umum.

Penjelasan Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adni tersebut sangat penting direnungkan dalam konteks zaman sekarang. Gagasan fikih tahawulat Habib Abu Bakar mengajak umat Islam untuk “melek” terhadap setiap perubahan-perubahan pemikiran, keyakinan, kultur, budaya manusia setiap masanya.

Hampir setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Pada abad ke-3 Hijriyah misalnya, umat Islam mendapatkan fitnah paham mu’tazilah.

Lahirlah Imam Abu Hasan al-Asy’ari menangkis secara logis fitnah mu’tazilah. Abad ke-5 H, sisa-sisa pemikiran mu’tazilah masih hidup bahkan berkembang.

Para ahli falsafah (falasifah) yang dipengaruhi falsafah paripatetik memiliki pengaruh sangat kuat. Khususnya para cendekiawan baik yang sunni maupun yang mu’tazilah.

Muncullah Imam al-Ghazali. Menulis kitab Maqashid Falasifah dan Tahafut al-Falasifah. Pemikiran umat menjadi normal kembali.

Pada zaman modern, perubahan-perubahan dalam bidang sains dan pemikiran terjadi sangat pesat. Pengaruh dalam dunia Islam sangat serius.

Perkembangan itu diikuti pergeseran-pergeseran pemikiran. Baik pemikiran akidah, fikih, maupun akhlak.

Di zaman modern, sekularisme sebagai program falsafat harus dipahami secara kritis. Seperti dijelaskan oleh Prof. Syed Muhammad Naqib al-Attas (Prof. Al-Attas) sumber munculnya modernisme sebetulnya buah dari gerakan sekularisasi sebagai program filsafat.

Sekularisasi menggeser sistem pemikiran Islam yang telah pakem yang berbentuk elemen-elemen worldiview Islam. Sistem pemikiran tersebut mengeser konsep-konsep kunci dalam aqidah seperti konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep Nabi, konsep alam, konsep manusia, konsep ilmu, konsep kebahagiaan, dll.

Karakter utama pemikiran modernisme adalah; menghilangkan makna ruhani dari alam kejadian, membuang metafisika, menggeser dan membongkar struktur pemikiran Islam, dan penyamarataan manusia.

Modernisme bertumpu kepada fisika, tidak pada metafisika. Tumpuan ini merupakan hasil dari pemikiran menghilangkan makna ruhani dalam alam.

Akibat selanjutnya adalah ilmu pengetahuan itu terbatas kepada sumber rasional dan sumber inderawi. Paham penyamarataan manusia merupakan pandangan bahwa otoritas manusia dalam ilmu, etika dan agama sama.

Dalam konteks masalah ketuhanan (ilahiyyat), maka cara pandang menghilangkan makna ruhani pada alam kejadian ini, memastikan hukum sebab-akibat di alam dengan menghilangkan qudrah Allah dalam pengaturan alam kejadian.

Sehingga, metodologi sains tidak pernah menyertakan peran Tuhan dalam kejadian-kejadian saintifik. Sains menghilangkan konsep Tuhan.

Ilmu pengetahuan dan sains modern sejatinya tidak netral. Karena falsafah sainsnya mengandung paham sekularisme.

Spirit sekuleryang telah mencengkram dan merajut dalam setiap sendi kehidupan manusia dan ilmu pengetahuan.

Narasi modernisme juga menggeser dan membongkar tradisi dalam Islam seperti; tradisi fikih, hadis, tafsir, tasawuf, kalam, mantiq, filsafat Islam dan lain-lain.

Beberapa pemikir kontemporer seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Mohammed Arkoun, dan lain-lain menuduh bahwa tradisi-tradisi tersebut menciptakan kejumudan pemikiran Islam. Pemikiran tokoh-tokoh ini begitu popular di kalangan akademisi dan intelektual Muslim zaman ini, meski menyesatkan.

Setidaknya beberapa karakter utama pemikiran modernisme yang harus dipahami. Kritis terhadap turath Islam.

Ada yang kritis terhadap turats fikih, tafsir, tasawuf dan kalam. Ada yang kritis terhadap turats utama; al-Qur’an dan hadis.

Memahami perubahan-perubahan pemikiran zaman modern ini tidak mudah. Para intelektual Muslim, ulama dan pendidik perlu mempelajari secara serius.

Sebab, menjawab perubahan pemikiran ini serta solusi dan menentukan sikap yang tepat menuntut untuk memiliki pengetahuan yang anlitis, mendalam dan filosofis.

Terkait dengan itu, ada empat langkah yang diperlukan para cendekiawan dan akademisi; identifikasi, isolasi, integrasi, islamisasi. Produk akhirnya adalah islamisasi. Boleh juga disebut normalisasi ilmu pengetahuan dan pemikiran setelah adanya sekularisasi.

Identifikasi merupakan langkah pertama. Menemukan elemen-elemen baru termasuk konsep-konsep kunci yang bersemayam di dalam tubuh ilmu yang tidak sesuai dengan nilai Islam.

Isolasi adalah membebaskan elemen-elemen serta konsep-konsep kunci yang asing itu yang tersemat-semayam di dalam ilmu.

Setelah bebas dari konsep-konsep sekuler, maka dilakukan internalisasi konsep-konsep kunci Islam yang sesuai dengan subjek ilmu pengetahuan.

Langkah ini dapat disebut integrasi. Langkah terakhir, islamisasi yaitu memformulasi konsep-konsep kunci ke dalam disiplin inti ilmu pengetahuan.

Mempelajari problematika epistemologi pemikiran dan falsafat pemikiran modern dalam konteks fikih tahawulat ternyata sangat penting.

Maka, fikih tahawulat yang digagas oleh Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adni ini harus disokong dengan pengkajian epistemologi.

Agar faedah dan implementasinya dirasakan lebih meluas dari berbagai kalangan. Khususnya di dunia akademik dan ilmu pengetahuan yang memiliki pengaruh cukup besar bagi mengarahkan model pendidikan Islam di era modern.*

Penulis adalah dosen pascasarjana UII Dalwa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Fikih TahawulatHeadlinemodernismpemikiran Islamsekularise
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menyambut Tahun Baru Islam, RISKA dan ITJ Ajak Pemuda untuk Membangkitkan Semangat ’45
Tulisan selanjutnya Refleksi Tahun Baru Hijriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?