Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Pemikiran Prof. Dr Al-Attas Diperlukan Umat Islam Zaman ini

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Agustus 2023 12:52 12:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Agustus 2023 12:51
Bagikan
Prof. Syed M Naquib al-Attas bersama murid-muridnya (ISTIMEWA)
Bagikan

Salah satu karakteristiknya adalah pemikiran Prof. al-Attas merupakan pemikiran masa depan yang sangat diperlukan umat Islam zaman ini , termasuk peringatan serius beliau soal sekularisasi yang sudah disampaikan puluhan tahun lalu

Oleh: Kholili Hasib

Hidayatullah.com | PADA Sabtu, 29 Juli 2023 Prof. Syed M Naquib al-Attas (populer dipanggil Prof. Al-Attas) secara resmi melaunching karya terbaru berjudul “Islam The Covenants Fulfilled” di Kuala Lumpur Word Trade Center pada usianya yang ke-92 tahun.

Peluncuran buku langsung dihadiri oleh Permaisuri Johor Raja Zartih Sofiah. Dalam sambutannya, Permaisuri Johor Raja Zarith Sofiah mengungkapkan rasa gembiranya atas pencapaian yang dilakukan oleh Prof. Al-Attas. “Pada era derasnya arus informasi dan disinformasi, kita membutuhkan Prof. Dr. Tan Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas”, ucap beliau.

Acara peluncuran buku Prof. al-Attas ini menurut beberapa anak muridnya adalah peristiwa paling penting dalam sejarah pemikiran Islam, baik di alam Melayu-Nusantara maupun di dunia secara umum. Peserta yang hadir diperkiran sekitar seribu.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Suatu jumlah yang sangat besar dalam event kajian pemikiran Islam tingkat tinggi. Peserta yang mengikuti acara ini terdiri dari kalangan pelajar, ilmuan, intelektual. Bahkan dari berbagai Negara di Asia, Eropa dan Afrika.

Kesadaran tentang pentingnya pemikiran Prof. al-Attas ini mulai tertanam tumbuh dalam benak para ilmuan dan tokoh-tokoh. Pada 26 Juni 2022, Duta Besar Turki untuk Malaysia berkunjung ke Prof. Al-Attas bersama para mahasiswa Turki yang sedang kuliah untuk mendengarkan langsung penjelasan Prof. al-Attas tentang Islam dan Sekularisme.

Sebelum sesi peluncuran buku oleh Prof. al-Attas, pada sesi pertama Prof. Mehmet Ipsirli dari Turki mengaku bahwa pemikiran Prof. Al-Attas di Turki ini cukup populer di kalangan kampus-kampus Turki.

Karena banyak yang sadar bahwa pemikiran Prof. Al-Attas ini bukan pemikiran yang sederhana dan biasa-biasa. Tetapi beliau memiliki pemikiran tinggi.

Prof. Al-Attas sendiri konsisten membicarakan problem sekularisme sejak lebih empat puluh tahun lalu. Gagasan islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer beliau sampaikan pada konferensi Internasional Pendidikan Islam di Makkah, 31 Maret – 8 April 1977.

Pada saat itu Prof. al-Attas menulis paper penting berjudul “Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and Definition and Aims of Education”. Di konferensi tersebut Prof. Al-Attas sudah menawarkan konsep-konsep pemikirannya tentang worldview Islam, pendidikan, adab, islamisasi, universtas Islam, dll.

Semua karya beliau hingga kini konsisten pada wacana-wacana yang telah beliau bicarakan sejak empat puluh tahun lalu.

Beberapa ilmuan terinspirasi dengan gagasan Prof. al-Attas sejak konferensi tersebut. Terutama gagasan islamisasi ilmu pengetahuan dan pentingnya umat Islam memiliki universitas yang benar-benar berdasarkan konsep Islam.

Buku-buku yang ditulis oleh Prof. Al-Attas ini sangat khas. Tidak ada buku, bahkan menurut subyektifitas saya, tidak ada kalimat dalam semua buku-bukunya yang tidak penting.

Setiap kalimat yang dia tulis adalah penting dan hasil renungan kontemplasi ilmu yang tinggi.

Pada hari Sabtu lalu, sesaat sebelum Prof. Al-Attas memberi ceramah dalam acara peluncuran buku, Dr. Adian Husaini mengajak bincang-bincang dengan saya, menunjukkan bagaimana Prof Attas dalam buku “Islam : Covenants Fullfilled” menggunakan istilah unik dalam kalimatnya “… in combating the forces of secularization”.

Menurut Dr. Adian, itu menunjukkan sekularisasi bagi Prof. al-Attas sampai pada masa ini bukan perkara biasa-biasa, sangat serius. Tidak banyak Muslim yang betul dalam menyadarinya.

Maka, Prof. Al-Attas menggunakan istilah “in combating” , istilah yang berbau militer. Gagasan-gagasan Prof. al-Attas sejak empat puluh tahun lalu itu merupakan “jihad ilmiah”.

Buku terbaru Prof. al-Attas yang dilaunching merupakan tahapan paling penting dalam jihad ilmiah ini. Prof. al-Attas kembali menjelaskan konsep Islam dengan penjelasan yang lebih mendalam.

Prof. al-Attas menjelaskan alasan buku ini perlu ditulis. Masih ada sarjana Muslim terkemuka yang keliru memahami Islam.

Dalam buku terbarunya ini Prof. al-Attas memberikan hujjah penting bagi mereka yang keliru memahami Islam. Di antaranya, ada di antara sarjana yang masih menyamakan Islam dengan agama-agama lain.

Prof. al-Attas menegaskan bahwa term “al-Islam” baru ada setelah Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Istilah “al-Islam” belum digunakan sebagai sebuah nama agama sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus.

Kesalahan sebagian sarjana Muslim adalah memaknai “al-Islam” hanya dari segi harfiyah saja. Dengan maksud, bahwa agama Yahudi dan Nasrani pun termasuk Islam. Kesalah pahaman ini berarti mengecilkan makna “al-Islam”. Yaitu sebagai “millah” saja, bukan “din”.

Millah lebih tepat dirujukkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad ﷺ. Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa risalah yang diberi nama langsung oleh Allah yaitu “al-Islam” menyempurnakan millah-millah sebelumnya.

Karena itu Islam merupakan “din” yang sebenarnya.  Menurut Prof. al-Attas bahwa beliau telah melakukan penelusuran tentang istilah “din”.

Para ahli tafsir dan lain-lain selalu menggunakan kata tunggal “din”. Adapun istilah “adyan” (din yang banyak) adalah istilah yang baru belakangan digunakan.

Maknanya, hanya ada satu “din” yang benar. Yaitu din al-Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi-nabi terdahulu seperti; Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa disumpah untuk mengakui akan adanya Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad  ﷺ.

Mereka bahkan berdoa untuk dijadikan sebagai bagian Muslimin. “Tidak ada nabi, sebelum Nabi Muhammad, kecuali mereka mengenalkan kepada umatnya tentang Nabi Muhammad ﷺ yang akan datang di masa depan”, jelas Prof. al-Attas dalam ceramahnya pada acara peluncuran buku.

Penjelasan demi penjelasan dalam buku terbaru Prof. al-Attas ini tentu saja menarik dan lebih mendalam jika diurai satu persatu isu di dalamnya. Terkait dengan berbagai aspek perkara, khususnya metafisika.

Karena terkait dengan berbagai isu dan sangat mendalam, maka buku ini perlu dibaca dengan merujuk kepada penjelasan orang yang cukup paham pemikiran Prof. al-Attas. Agar isu yang dipahami utuh, tidak terpotong-potong.

Isu-isu yang terdapat dalam buku ini merupakan pemikiran tinggi. Tidak sederhana. Salah satu karakteristiknya adalah pemikiran Prof. al-Attas merupakan pemikiran masa depan.

Gagasan beliau hadir pada saat umat Islam sedang membutuhkan jawaban. Barangkali sudah ada beberapa ilmuan Muslim yang menjawab isu sekularisme.

Tetapi, jawaban Prof. al-Attas lebih rinci, mendalam dan masuk ke jantung isu persoalan sesungguhnya.

Dunia Islam zaman ini dipenuhi dengan persoalan-persoalan yang bermuara kepada faham sekularisme. Prof. al-Attas berhasil menemukan inti masalah umat Islam yaitu: loss of adab.

Khusus untuk kalagan intelektual dan akademisi, pemikiran Prof. Al-Attas lebih dibutuhkan lagi. Sebab persoalan sekularisme menyelimuti dunia Islam dibawa oleh para sarjananya.

Sekularisasi ilmu pengetahuan telah mencengkeram dunia selama kurang lebih empat abad ini. Banyak ulama dan ahli ilmu di dunia Muslim resah dengan sekularisasi ini.

Prof. al-Attas datang di abad kedua puluh memberi jawaban dengan gagasan emasnya; islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer.

Pada abad ke-5 H, dunia Islam ditantang dengan meluasnya pengaruh falsafah Yunani. Banyak ulama yang resah.

Saat itu ahli ilmu Muslim terbelah menjadi dua; menolak secara mutlak dan menerima secara mutlak. Datanglah Imam al-Ghazali.

Beliau menulis jawaban dalam kitab khusus; “Tahafut al-Falasifah”, sebuah jawaban yang belum pernah terpikir oleh fuqaha, mutakallim, dan ulama-ulama sebelum beliau. Sejak itu, dunia ilmu pengetahuan Islam pasca imam al-Ghazali kembali normal.

Prof. Al-Attas pernah mengatakan bahwa dunia Islam pada zaman ini mirip dengan keadaan yang pernah dialami pada zaman Imam al-Ghazali. Maka, menurut beliau, formula yang dibuat Imam al-Ghazali untuk mengobati penyakit pemikiran dapat digunakan untuk menyelesaikan problem-problem zaman ini.

Secara umum, formula yang digagas oleh Prof. al-Attas adalah formula yang memiliki kemiripan dengan kerja yang pernah dibuat Imam al-Ghazali.

Umat Islam zaman ini sangat memerlukan sosok Prof. al-Attas. Pemikiran, ide, gagasan dan wacana yang dibuat Prof. al-Attas perlu disebarkan di dunia Islam.

Dengan pemahaman yang baik, beliau melalui sanad ilmu yang terhubung kepada beliau. Prof. al-Attas telah menanam benih-benih yang hari ini mulai terlihat pertumbuhan pentingnya.

Di masa depan, benih-benih itu menjadi besar hingga berbuah banyak. Menjadi bagian dari benih-benih tersebut adalah suatu anugerah besar dari Allah Swt.*/Kuala Lumpur, 31 Juli 2023

Penulis pengajar di Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah (IAI DALWA) Pasuruan, dan peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al AttasHeadlineislamisasi ilmuNaquib Al-AttasPilihan RedaksiProf. Dr al-Attassekularisasisekularismeumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya (Video) Dosen Universitas Ilmu Islam Malaysia Ini Meninggal setelah Ucapkan “Allahu Ta’ala’ Saat Kuliah Subuh
Tulisan selanjutnya Aung San Suu Kyi Dapat Pengurangan Hukuman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

Kajian
22 Agustus 2026 11:43
Pendiri Raksasa Properti China Evergrande Dibui Seumur Hidup
Sultan Perak Dorong Persaudaraan Muslim Redam Persaingan Politik
Iran Bidik Aset AS di Eropa Jika Trump Perluas Konflik
MUI Ajak Penulis Dunia Ikut ISSA-Palestine 2026, Jadikan Sastra sebagai Suara Kemanusiaan

Terbaru

  • “Saya Menyebarkan Berita Palsu,” aku Pejabat Komunikasi ‘Israel’
  • ‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis
  • Cari Suara, Netanyahu Tegaskan ‘Israel’ Tak akan Biarkan Negara Palestina Berdiri
  • Operasi Penikaman Berhasil Lukai Warga ‘Israel’, Hamas: Itu Respon atas Kejahatan Zionis
  • MUI Soroti Pemblokiran Rekening Aktivis, Ingatkan Ancaman Penarikan Dana Massal
  • YLBH Hidayatullah Soroti Dugaan Kewajiban Lepas Hijab bagi Calon Kadet Putri Unhan
  • Sultan Perak Dorong Persaudaraan Muslim Redam Persaingan Politik
  • Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
  • MUI Ajak Penulis Dunia Ikut ISSA-Palestine 2026, Jadikan Sastra sebagai Suara Kemanusiaan
  • APCQP Perkuat Kolaborasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?