Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Genosida Gaza: Contoh Kejahatan Barat terhadap Islam  

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Desember 2023 22:05 10:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Desember 2023 22:35
Bagikan
Masjid Syeikh Yasin Gaza hancur diroket zionis 'Israel'
Bagikan

Barat yang mengaku paling berperadaban ternyata suka melenyapkan bangsa lain, salah satu korban kejahatan mereka adalah Islam

Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi

Hidayatullah.com | SECARA sederhana dan gamblang, genosida itu dimaknai dengan: pembumi-hangusan suatu etnik atau sebuah bangsa. Dan praktik ‘Genosida paling nyata hari ini ada di Jalur Gaza, Palestina. Dan dapat dipastikan pelakunya negara Barat.

Kali ini Barat diwakili oleh Zionis-Yahudi, karena kaum yang dilaknat oleh Allah ini sudah mengakui bahwa perang melawan Hamas akan berlanjut karena mereka tengah membela peradaban Barat.

Peradaban Barat memang peradaban bar-bar. Di antara cirinya adalah suka perang. Ini karena dasar pemikiran mereka adalah “clash” (benturan, permusuhan).

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi
Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

Itu sebabnya yang menyulut terjadinya Perang Dunia I dan II adalah ambisi Barat menghabisi orang lain. Bahkan, sesama Barat pun bisa saling-bantai demi kepentingan duniawi.

Karena, sekali lagi, Barat yang mengaku paling berperadaban ini ternyata suka “clash” dan suka melenyapkan bangsa lain.

Pada tahun 2003, Geoger Bush sudah ikrar bahwa memerangi Iraq adalah ‘the new crusade’ (Perang Salib baru). Dengan fitnah keji terhadap Saddam Husain, bahwa Iraq menyimpan senjata pembunuh masal, dia hancurkan Negeri 1001 malam.

Presiden George Bush, tokoh yang tanganya berdarah, memutuskan menyerang Iraq

Negeri yang pernah memimpin peradaban dunia. Tapi Barat, yang diwakili Amerika, tak kenal peradaban. Demi membasmi Islam dan Muslimin mereka lakukan apapun, termasuk fitnah.

Tak lama, Libya pun mengalami nasib yang sama. Ternyata program Barat di Timur Tengah ketahuan, itulah ‘The New World Order’ (Tatanan Dunia Baru). Mereka ingin kuasai dunia, caranya dengan merampas minyak Timur Tengah. Tujuan akhirnya: membunuh manusia.

Sekarang, mereka melakukannya di Jalur Gaza hanya karena penduduknya tidak mau tunduk kepada Barat. Maka dengan sangat pengecut dan diwarnai frustasi dan putus-asa mereka terus membantai wanita, membunuh anak-anak, menghancurkan fasilitas umum (sekolah, rumah sakit, bahkan kamp pengungsian).

Ternyata, kaum yang konon memiliki senjata canggih itu pengecut dan suka melanggar hukum internasional, karena tak hormati etika perang. Tapi, kita kemudian sadar bahwa jika hukum yang mereka buat sendiri itu ditegakkan hancurlah peradaban mereka.

Maka ‘Genosida di Jalur Gaza harus berlanjut. Demi eksistensi peradaban mereka yang semakin tak beradab itu.

Jas Merah!

Umat Islam tidak boleh sekali-kali melupakan sejarah. Ya, sejarah ‘Genosida ini. Buktinya sudah dicatat dalam lembar sejarah: mulai perang salib yang berkali-kali, gènocide tentara Serbia terhadap Bosnia-Herzegovina, pengusiran umat Islam dari Spanyol, perang Iraq dan Libya, hingga hari ini di Jalur Gaza.

File foto tertanggal 11 Juli 2010 menunjukkan wanita Muslim Bosnia berkabung di atas peti mati selama pemakaman 775 Muslim Bosnia yang baru diidentifikasi di Potocari Memorial Center di Srebrenica, Bosnia dan Herzegovina. Peristiwa pembantaian Srebrenica Juli 1995, ketika pasukan Bosnia-Serbia mendeportasi dan kemudian membunuh 8.000 pria dan anak laki-laki muslim, dianggap sebagai kekejaman terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II (EPA)

Ini adalah contoh nyata dari kebencian Barat terhadap Islam dan umatnya. Dan perlu diingat bahwa kebencian ini telah menjadi “tulang sum-sum” sekaligus “urat nadi” kehidupan mereka. Karena Allah telah informasikan jauh-jauh hari bahwa memang musuh Islam sangat bernafsu untuk ‘memadamkan’ cahaya Allah (Islam) walaupun tidak pernah diizinkan oleh Allah (QS.9:32).

Dan serangan terhadap Islam dan umatnya siang-malam mereka lakukan. Bila perlu, dan jika mereka mampu, tujuan utamanya adalah: agar umat Islam menanggalkan dan meninggalkan Islam ini alias ‘murtad’ (Qs.2:217).

‘Genosidayang terjadi di Jalur Gaza saat ini hanya mengafirmasi ayat di atas. Maka di dalam sejarah umat Islam kita mencatat bagaimana kaum Yahudi berkhianat kepada Nabi Muhammad di Madinah.

Bahkan, dengan sangat berani mereka ‘meracuni’ Nabi lewat paha kambing yang sudah dibakar. Karena bagi mereka, setiap Nabi Allah yang ajakannya tak sesuai dengan nafsu mereka harus mengalami dua perlakuan: didustakan atau dibunuh, tidak ada pilihan ketiga (Qs.2:87; 5:70 ).

Nah, jika para nabi saja mereka bunuh konon lagi kita sebagai manusia biasa. Ini tidak berarti bahwa saudara-saudara kita di Palestina halal darahnya. Tidak! Ini hanya menegaskan kebiadaban kaum yang nenek-moyangnya dilaknat oleh Allah menjadi kera (Qs.2:65; 5:78; 7:166).

Maka, sebagai umat yang bangga memiliki predikat khaira ummah ini harus terus waspada dan selalu bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Diantaranya adalah senantiasa menyusun kekuatan dan menyiapkan bekal untuk melawan musuh agama ini (Qs.25:60).

Memang Harus Islam

Timbul pertanyaan: mengapa yang menjadi korban gènocide harus umat Islam? Ya, karena hanya umat Islam dan peradabannya yang dapat menghambat kebiadaban peradaban Barat.

Itu sebabnya, sekali lagi, umat Islam harus kembali lagi ke pangkalan pikirnya, istilah Buya Hamka. Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah: apa kata Kitabullah tentang Zionis-Yahudi; apa kata Nabi tentang bangsa laknat ini.

Semuanya lengkap. Tinggal fiqih (pemahaman) yang kita perkuat. Karena sampai kapanpun, Islam dan umat Islam akan menjadi musuh bersama Barat dan sekutunya.

Ini, misalnya, dikonfirmasi oleh Samuel P. Huntington, penulis sekalis penasihat politik Amerika Serikat. Dalam karyanya yang bertajuk ‘The Clash of Civilizations’ dia menulis sebagai berikut:

“The twentieth-century conflict between liberal democracy and Marxist-Leninism is only a fleeting and superficial historical phenomenon compared to the continuing and deeply conflictual relation between Islam and Christianity.” (Lihat, Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (New York: Simon & Schuster, 1996), 209).

Sederhananya, konflik yang terjadi antara demokrasi liberal dan Marxis-Leninisme (komunisme) hanyalah basa-basi. Itu hanya fenomena historis receh. Karena konflik yang sesungguhnya dan terus berkelanjutan adalah antara Islam dan Kristen.

Dan Kristen yang dimaksud adalah: Kristen yang telah di-Barat-kan. Kristen yang sudah disimpangkan dan dianut oleh mayoritas negara Barat. Di sini, Huntingon menegaskan sikap mereka untuk mengafirmasi firman Allah dalam QS.2:217 di atas.

Lebih jauh sebelum Huntington, seorang keturunan Nabi Muhammad ﷺ, Syed Muhammad Naquib al-Attas (lahir 1931) telah menyatakan dalam ‘Islam and Secularism’-nya bahwa: “That Western culture and civilization, which includes Chrisianity as an integral part of it, has been assuming the posture of confrontation against Islam there can be no doubt.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 97).

Jadi, Barat Kristen telah berasumsi bahwa konfrontasi antara budaya dan peradaban Barat dengan Islam itu sebuah keniscayaan.

Untuk itu, marilah kita menyadari betapa tingginya nilai agama ini. Dan sebagai agama yang memuat ajaran rahmatan li’l-‘alamin (Qs.21:107) jelas tak disukai oleh bangsa yang ingin merusak bumi ini.

Dan gènocida yang ada di Gaza bukan perlakukan peradaban Barat yang biadab terhadap umat Islam dan bukan pula yang terakhir. Di setiap etape perjalanan umat Islam selalu ada kelok tantangan kebiadaban.

Dan ini tidak akan menyurutkan kita untuk rela berkorban dengan harta, bahkan nyawa untuk membelanya. Dan ini telah dibuktikan oleh saudara-saudara kita di Jalur Gaza. Kita tentu amat “cemburu” kepada mereka.

Ya, mereka yang telah kembali kepada Allah membawa gelar “syahadah” (mati syahid). Karena mereka diberi tantangan berat yang gantinya surga nan indah. Yang wafat syahid. Harta mereka yang musnah menjadi sedekah jariah. Tidak ada yang sia-sia, kata Badiuzzaman Said Nursi dari Turki. Hanya kita yang harus terus bersiap-siap dan menyiapkan amunisi untuk bela agama ini.*/ Medan, 29 November 2023

Dosen dan Guru di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah dan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Agresi Israelbaratgenosida GazaHeadlineislam dan baratkejahatan Baratpembantaian gazaperadaban baratPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diburu Spanyol Pria Mesir Penyundup Narkoba €20 Juta dari Maroko Ditangkap di Irlandia
Tulisan selanjutnya Melihat dari Dekat Pembangkit Listrik Biogas Gamping

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perbaiki Kepengasuhan Pesantren, Muhammadiyah Bekali Musyrif dengan Keterampilan Psikologi Remaja

Berita
6 Agustus 2026 16:00
Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’
Masjid Perlu Dikondisikan sebagai Tempat Berkumpul Anak Muda
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Kedubes Amerika Serikat di Berbagai Negara Timur Tengah Imbau Warganya Tinggalkan Kawasan Itu

Terbaru

  • Kepala Intelijen Saudi di Baghdad Bahas Keamanan Regional dengan PM Iraq
  • Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
  • Erdogan Buka Pintu Bagi Negara Sahabat Gabung Perjanjian Pertahanan Makkah
  • Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
  • Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
  • Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
  • Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
  • Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
  • Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’
  • Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos

Mungkin Anda Juga Suka

Pustaka

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad

31 Juli 2026 20:21
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Artikel

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

24 Juli 2026 16:00
Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

21 Juli 2026 07:00
Artikel

Hubungan Agama dan Sains

6 Juli 2026 15:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?