Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Abbas Hassan: Duka Ria Dai Zaman Kolonial Belanda dan Jepang

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Juni 2024 18:36 6:36 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 Juni 2024 06:00
Bagikan
Bagikan

Beratnya perjuangan para mubaligh dan dai di masa penjajah Belanda dan Jepang; mulai kekurangan finansial hingga ancaman fisik, tercatat dalam sejarah

Daftar isi
  • Kisah Pertama: Perjalanan ke Solok
  • Kisah Kedua: Undangan ke Lubuk Sikaping
  • Kisah Ketiga: Perjalanan ke Desa di Pajakumbuh
  • Kisah Keempat: Perjalanan ke Sibaladung
  • Kisah Kelima: Kesalahpahaman di Padang Jepang
  • Kisah Keenam: Makan di Restoran Selamat
  • Kisah Ketujuh: Buja A.R. St. Mansur di Masa Jepang
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com | DAKWAH pada masa kolonial tidak semudah sekarang. Para dai sering menghadapi kesulitan dan kesusahan, namun tetap ikhlas dalam menyebarkan ajaran Islam.

Abbas Hassan, seorang dai, penulis produktif yang mengalami langsung masa-masa sulit ini, menceritakan beberapa kisah mengharukan yang menggambarkan duka lara dai di era kolonial.

Kisah-kisah ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh para mubaligh dalam menjalankan misi mereka. Sebelum menjelaskan lebih jauh beberapa contoh konkret pengalaman dai pada masa itu.

Ada baiknya penulis kemukakan penjelasan Abbas Hassan mengenai kondisi perjuangan dakwah dan dai pada masa kolonial.

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Pada zaman penjajahan Belanda, ketika kaum pergerakan mengobarkan semangat perjuangan untuk membela tanah air, mereka (para dai atau muballigh) menyusup ke tengah-tengah jamaah dan memberikan ide-ide kepada mereka.

Mereka mendorong agar cita-cita kemerdekaan yang tumbuh di hati jangan dilepaskan dari ajaran agama. Semangat ini memberikan jiwa pada setiap pidato dari para pemuka pergerakan, dan mengarahkan umat ke jalan yang benar. Dengan kehadiran mereka, pergerakan berkembang subur dan rakyat di desa-desa dengan mudah dapat diatur.

Di era penjajahan Jepang, meskipun suasananya tidak revolusioner, para muballigh tetap menjunjung tinggi suara suci. Mereka tidak membiarkan orang-orang gugur sia-sia, tetapi mengobarkan semangat jihad untuk membela cita-cita mulia.

Para prajurit tidak didorong untuk membalas dendam, tetapi dipompa semangat jihad siang dan malam.

Para muballigh ini bergerak siang dan malam, meskipun banyak orang mengira mereka hanya bersenang-senang di siang hari dan sekedar mengajar di malam hari.

Pada kenyataannya, malam hari adalah waktu ketika mereka kebanyakan menjalankan tugas. Mereka terus maju dengan caranya sendiri.

Di saat para pemuka politik yang mengklaim konsisten terhadap cita-cita mulai berdiam diri, dan kaum pergerakan yang hanya mencari kesempatan mulai bekerjasama dengan Jepang, para muballigh kita yang tekun tetap memperingatkan umat terhadap bahaya paham Majusi dan penyembahan dewa.

Ketika Jepang menganjurkan “kere”, mereka menerjemahkan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” dengan mendalam. Ketika “saikere” dipopulerkan oleh kaum kolaborator, mereka menjelaskan bahwa umat Islam hanya boleh rukuk dan sujud kepada Allah semata.

Di zaman Jepang itu, ketika banyak orang telah hanyut dalam arus Dai Toa Senso, para muballigh kita tetap menjalankan tugas suci mereka, membentengi jiwa rakyat dari ancaman keyakinan kepada Maha Tenno Heika, sang Anak Dewa Matahari.

Kemudian, tibalah zaman merdeka. Pada saat-saat yang kritis dan gawat itu, para muballigh kita tetap tampil ke depan, meskipun diejek sebagai kolot. Namun, pada hakikatnya, sepanjang hari siang dan malam mereka tidak pernah berhenti bertugas.

Setelah menjelaskan suasana pelik dan sulit yang dihadapi oleh para dai atau muballigh masa kolonial, berikut ini adalah akan disebutkan beberapa kisah yang diceritakan oleh Abbas Hassan dalam majalah Majalah Kiblat No. 19 (XV/1968: 32-34).

Kisah Pertama: Perjalanan ke Solok

Pada tahun 1911, Injik Menan Balingka, seorang mubaligh terkenal, diundang dari Bukittinggi ke Solok. Dalam perjalanan, mereka mengalami berbagai kesulitan, mulai dari kekurangan uang hingga ketidakmampuan untuk membeli makanan.

Injik Menan bahkan harus menjual jubahnya untuk membayar makanan di warung. Namun, semangat dakwah mereka tetap berkobar. Malamnya, tabligh akbar yang mereka selenggarakan berlangsung ramai dan penuh semangat, meski harus tidur di masjid dengan kondisi yang serba kekurangan.

Kisah Kedua: Undangan ke Lubuk Sikaping

Pada tahun 1944, di zaman Jepang, Abbas Hassan dan Duski Samad diundang ke Lubuk Sikaping. Perjalanan mereka yang panjang dan melelahkan diwarnai dengan kekurangan makanan dan kesulitan finansial.

Mereka harus tidur di masjid dengan tikar seadanya, sementara rekening makan di warung belum juga dibayar oleh panitia. Meski demikian, semangat dakwah mereka tidak surut.

Kisah Ketiga: Perjalanan ke Desa di Pajakumbuh

K.H. Rusli Abd. Wahid bersama temannya diundang ke sebuah desa sekitar 25 km dari Pajakumbuh. Meski mereka dapat menumpang bendi tanpa biaya saat pergi, mereka harus berjalan kaki saat kembali karena pengurus yang mengundang tidak terlihat.

Dalam perjalanan, mereka mengalami kejadian lucu namun menyedihkan, di mana mereka disangka sedang berpuasa oleh orang-orang yang sedang menikmati cendol di suatu kelokan jalan.

Kisah Keempat: Perjalanan ke Sibaladung

Abbas Hassan bersama Darwis Hamidy diundang untuk memberikan ceramah di Sibaladung, sekitar 15 km dari Pajakumbuh. Meski tabligh yang mereka selenggarakan ramai, mereka harus tidur di masjid dengan tikar-tikar yang dijadikan alas tidur.

Keesokan harinya, mereka disangka sebagai penjual tikar oleh penduduk setempat karena tidur di atas banyak tikar.

Kisah Kelima: Kesalahpahaman di Padang Jepang

Dalam suatu perjalanan di luar Padang Kota, Abbas Hassan sering menyebut-nyebut nama desa kelahirannya, Padang Jepang. Hal ini menyebabkan tentara Jepang marah karena mengira beliau adalah mata-mata Amerika.

Akibatnya, beliau mendapatkan perlakuan kasar dari tentara Jepang, termasuk dipukul dan dianiaya.

Kisah Keenam: Makan di Restoran Selamat

Seorang mubaligh Islam mengalami kejadian tak terduga saat makan di restoran Selamat di Bukittinggi. Beliau membagi makanannya menjadi dua untuk disimpan makan sore.

Namun, ketika meminta bungkusan tersebut, beliau mendapati bahwa bungkusan itu telah dicampur dengan sisa makanan lain oleh pemilik restoran, yang mengira makanan itu untuk anjing.

Kisah Ketujuh: Buja A.R. St. Mansur di Masa Jepang

Buja A.R. St. Mansur, bekas Ketua P.B. Muhammadiyah, memiliki siasat untuk menjamin hidup para mubaligh yang tinggal bersamanya di Padang Panjang. Beliau sering diundang untuk memberikan ceramah di desa-desa sekitar kota dan selalu meminta untuk membawa dua atau tiga orang temannya sebagai pengiring.

Meski hanya beliau yang memberikan ceramah, teman-teman pengiring juga menikmati berkah dari undangan tersebut.

Kisah-kisah di atas menggambarkan betapa beratnya perjuangan para mubaligh di masa kolonial Belanda dan Jepang. Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kekurangan finansial hingga ancaman fisik, namun tetap menjalankan tugas dakwah dengan penuh keikhlasan. Pengalaman ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para dai masa kini untuk terus berjuang dalam menyebarkan kebaikan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daiHeadlinependakwahPenjajahan JepangPilihan Redaksisejarah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Israel’ Membantai 210 Warga Palestina di Kamp Pengungsi Al-Nuseirat
Tulisan selanjutnya Kazimiya Hatim, 104, Jamaah Haji Tertua Tahun Ini

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?