Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
FeaturePalestina Terkini

Kengerian Malam Hari di Gaza yang Terjajah

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Agustus 2024 21:51 9:51 pm
Ahmad
Dipublikasikan 21 Agustus 2024 21:47
Bagikan
Situasi di 'kota tenda' yang menampung warga Palestina telah mengungsi di Deir al-Balah
Bagikan

Mayoritas bangunan di Jalur Gaza seluruhnya hancur, warga hidup di tenda-tendayang dingin membeku, di bawah hujan bom zionis “Israel”

Hidayatullah.com | MATA terbenam di Gaza. Warga Palestina yang mengungsi di tenda-tenda plastik menyusup dalam kegelapan, tersiksa oleh dengungan pesawat tak berawak penjajah ‘Israel’, diselingi tembakan artileri terus-menerus, dan ketakutan bahwa mereka tidak dapat bertahan hidup hingga pagi hari.

“Ibu, biarkan aku tidur di pelukanmu, aku tidak ingin mati,” kata Yasmine, enam tahun, sambil berpegangan pada ibunya di tempat penampungan kecil yang mereka tempati.

“Anak-anak saya takut tidur,” kata Safa Abu Yasin. “Aku juga mengkhawatirkan nyawa mereka,” ujarnya dikutip AFP.

Abu Yasin dan keempat putrinya berada di Al-Mawasi, sebuah wilayah yang menurut pasukan penjajah ‘Israel’ adalah zona kemanusiaan.

Baca Juga

OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Meski berulang kali menyusutkan wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah aman, semakin banyak pengungsi Palestina yang terus berjejalan di wilayah tersebut, mencari perlindungan yang semakin sulit diperoleh.

Mayoritas dari 2,4 juta penduduk Gaza telah meninggalkan rumah mereka setidaknya sekali selama perang, yang kini memasuki bulan ke-11.

Abu Yasin sering terjaga sepanjang malam, berusaha menenangkan bayi perempuannya Loujain, lahir pada bulan April, yang berulang kali terbangun sambil menangis.

“Sulit sekali menenangkannya,” kata Abu Yasin.

“Kami ingin dia merasa aman, tapi saya bahkan tidak punya buaian… agar dia merasa nyaman.”

“Ayo bobo, ayo bobo,” dia dengan lembut menyanyikan lagu pengantar tidur Levantine kuno yang memberi tahu anak-anak bahwa seekor burung akan datang untuk menjaga mereka saat mereka tidur.

Putri-putrinya yang lain mengeluh tentang kasur tipis yang mereka gunakan bersama di lantai, sering kali terbangun ketika mereka bertabrakan.

Tidur di reruntuhan

“Saya rindu bantal saya,” kata Farah Sharshara, 32, dari tendanya di kawasan tengah Deir el-Balah, yang dulunya merupakan distrik yang berkembang namun kini menjadi puing-puing akibat pemboman ‘Israel’.

Dia mengaku jarang mandi karena kekurangan air, sementara privasi di tenda tidak ada. “Anda harus selalu beradaptasi dengan cara orang lain,” katanya.

“Ada yang mendengkur, ada yang bangun sambil berteriak, menangis ketakutan, lalu ada penderita insomnia yang hanya ngobrol dan mengganggu semua orang,” kata Sharshara.

Salah satu pengungsi, Rami, menggambarkan tendanya yang berukuran enam kali empat meter, tempat 27 anggota keluarga besarnya tidur.

“Sebelum perang, masing-masing dari kami punya kamar sendiri” di rumah masing-masing, katanya, hanya menyebutkan nama depannya.

“Sekarang kami semua tidur di atas tikar plastik, selimut, dan kasur busa,” kata Rami, yang beberapa kali mengungsi selama perang.

Di wilayah dimana PBB memperkirakan pada bulan Mei bahwa lebih dari 55 persen bangunan telah hancur seluruhnya atau sebagian, tenda – sebagian disediakan oleh organisasi internasional, sebagian lainnya dibeli dengan harga tinggi – telah menjadi bentuk perlindungan yang paling umum bagi para pengungsi. .

Hanya beberapa hari setelah perang pecah pada tanggal 7 Oktober, beberapa kelompok bantuan membagikan perlengkapan tidur yang berisi bahan-bahan penting untuk beristirahat di malam hari.

Namun kini mereka mengatakan bahan-bahan yang sangat dibutuhkan untuk perbaikan dan pembangunan tempat berlindung tidak diizinkan masuk oleh otoritas ‘Israel’, yang mengontrol semua titik akses ke wilayah yang terkepung.

Tanpa pilihan lain, kini semakin banyak warga Gaza yang tidur di reruntuhan bangunan, atau di jalanan, tempat lalat dan serangga berkerumun di tengah limbah yang berbau busuk.

Warga Palestina sering terlihat mengobrak-abrik puing-puing, sementara ada laporan bahwa banyak warga Palestina yang membobol rumah-rumah kosong untuk mendapatkan perabotan apa pun yang bisa mereka gunakan sebagai kayu bakar untuk memasak.

Ancaman psikologis

“Orang sering kali kekurangan kebutuhan dasar untuk mendapatkan tidur yang berkualitas: privasi, pengatur suhu, kegelapan, dan ketenangan,” kata Eman Alakhras, psikolog untuk kelompok bantuan Doctors of the World, kepada AFP.

Banyak orang, terutama yang sakit, meminta obat tidur, katanya.

“Ada yang tidak bisa tidur agar tidak mati, karena banyak yang meninggal di depan mata dan mereka merasa harus tetap terjaga agar bisa melarikan diri jika ada bahaya.”

Kurang tidur yang berkepanjangan meningkatkan risiko sindrom stres pasca trauma, gangguan kognitif, dan keterlambatan perkembangan pada anak, tambahnya.

Perang di Gaza pecah setelah Hamas menyerang ‘Israel’ pada 7 Oktober, yang mengakibatkan kematian 1.198 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi ‘Israel’.

Bersumpah untuk menghancurkan pejuang Hamas, serangan militer balasan penjajah ‘Israel’ telah menewaskan sedikitnya 40.139 orang di Gaza, menurut kementerian kesehatan wilayah Gaza.

“Tidak ada yang sama seperti sebelumnya,” kata Mohammed Abdel Majid, yang mengungsi bersama keluarganya yang berjumlah 30 orang.

“Saat ini, yang kami miliki hanyalah sebuah tenda, baik saat musim dingin yang membeku atau di bawah terik matahari di musim panas,” kata Abdel Majid menceritakan keluarganya yang mempunyai tempat tinggal sebelum genosida Zionis.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:genosida IsraelHeadlineisraelJalur GazaZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 170 Jurnalis Palestina Syahid selama Serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023
Tulisan selanjutnya Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba Mencapai 3,3 Juta  

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus

Berita
8 Juli 2026 06:56
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan
PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah

Terbaru

  • Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang
  • Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
  • PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
  • Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
  • Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump
  • Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan
  • Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran
  • Anggota Uni Eropa Bahas Larangan Impor Produk Pemukiman Yahudi Israel
  • Amerika Serikat Longgarkan Ekspor Item Militer, Chip AI dan Satelit Komersial ke UEA
  • Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Palestina Terkini

Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan

6 April 2026 21:44
Palestina Terkini

Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina

3 April 2026 14:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?