Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Bukti Rasional Adanya Allah

Ahmad
Terakhir diupdate: 17 September 2024 15:38 3:38 pm
Ahmad
Dipublikasikan 17 September 2024 16:15
Bagikan
Bagikan

Banyak ayat yang memerintahkan agar manusia memikirikan adanya keteraturan alam sebagai dalil dan pedoman yang akan membimbing orang-orang berakal mengenal Allah

Oleh: Bahrul Ulum

Hidayatullah.com | UNTUK membuktikan keberadaan Allah bisa dilakukan dengan cara empirik. Terkadang seseorang dengan observasi akurat dan pemikiran yang teliti tentang berbagai fenomena dapat terbimbing kepada wujud Tuhan dan sifat-sifat-Nya.

Dengan memperhatikan beberapa keutamaan tipikal jalan ini, al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap masalah observasi emprik dan dalam banyak ayat al-Qur’an menyeru manusia untuk merenungi fenomena-fenomena semesta yang ada di sekelilingnya.

Pada beberapa tempat di al-Qur’an, kita dapat menjumpai beberapa ayat yang menjelaskan tentang fenomena-fenomena alam. Isinya merupakan tanda-tanda dan ayat-ayat atas wujud Tuhan dan mengajak manusia untuk memikirkan dan merenunginya.

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Mengenal Tuhan melalui fenomena alam merupakan pengenalan tanda-tanda takwini di alam penciptaan yang merupakan contoh nyata jalan empirik.

Adapun dalil logika yang dijadikan sandaran para ulama dalam menetapkan wujud Allah Ta’ala adalah bahwa setiap sebab pasti ada penyebabnya. Dan setiap yang baru pasti ada penciptanya.

Orang yang tidak berpendidikan seperti orang badui, juga memahami bawa anak onta menunjukkan adanya induk onta, jejak perjalanan menunjukkan ada yang berjalan. Demikian pula bumi penuh dengan tumbuh-tumbuhan, langit penuh dengan bintang gemintang, menunjukkan adanya Sang Pencipta.

Menurut Ibnu Taimiyah, semua umat umumnya mengakui adanya pencipta, namun mereka menyekutukan ibadah kepada selain-Nya. Karenanya, terhadap mereka yang mengingkari adanya Sang Pencipta –seperti Fir’aun- para Rasul menghadapainya dengan perkataan kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran.

Seperti ucapan Musa kepada Fir’aun, ‘Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.’ (QS. Al-Israa: 102). Ketika Fir’aun mengatakan, ‘Dan siapa Tuhan semesta alam.’ (QS. As-Syu’ara: 23), maka Musa mengatakan kepadanya, “Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya. Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. As-Syuara: 24-28). (Minhajus Sunnah, 2/270.)

Dalil akal lain yaitu adanya keteraturan alam. Banyak ayat yang memerintahkan agar manusia memikirikan adanya keteraturan alam sebagai dalil dan pedoman yang akan membimbing orang-orang berakal mengenal Allah.

Ayat-ayat tersebut dipandang sebagai bukti dan tanda atas keberadaan, ilmu dan kekuasaan Tuhan. Diantaranya berbunyi: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS: Ali Imran [3]:190); Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS: Al-Dzariyat [51):20-21).

Ayat di atas merupakan bukti bahwa keberadaan alam ini telah diciptakan dengan ukuran yang sangat jitu, penuh hikmah, teratur, sesuai dan harmonis. Pencipta sesuatu itu adalah satu, Dialah yang Maha Pengatur, Pencipta keteraturan dan mengharmonisasikan bagian-bagian ciptaan-Nya.
Karena itu ilmuwan Muslim, dengan bersandar pada salah satu tipologi alam natural menyebut sebagai argumen keteraturan (argument from design).

Selain itu untuk membuktikan keberadaan Tuhan bisa melalui argumen para filosof tentang realitas wujud. Menurut al-Farabi, realitas wujud ada dua bentuk. Pertama wujud kontingen yaitu ketika memperhatikan esensinya didapati eksistensi baginya tak niscaya.

Kedua, wujud wajib yaitu esensinya dapat diketahui eksistensi baginya adalah niscaya. Dalam hal ini bukan hal yang mustahil jika diasumsikan ketiadaan wujud kontingen.

Untuk mengadakan wujud kontingen memerlukan sebab dan jika telah berwujud maka eksistensinya menjadi “niscaya”. Esensi wujud kontingen tak abadi dan bersifat sementara.

Wujud kontingen mustahil menjadi sebab hakiki bagi realitas wujud lainnya. Oleh karena itu harus berujung kepada wujud wajib yang merupakan ‘Wujud Pertama’ sekaligus ‘Sebab Pertama’. Karena itu mustahil kalau mengasumsikan ketiadaan Wujud Wajib. Wujud Wajib tak memiliki sebab karena Dia adalah sebab pertama untuk semua eksistensi (Abdurrahman Badawi, Mausu’at al-Falsafah, 2/102).

Sedang Ibnu Sina menjabarkan argumen imkan dan wujub untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Menurutnya realitas wujud adalah wujud wajib dan wujud kontingen. Jika realitas wujud itu adalah Wujud Wajib maka terbuktilah realitas eksistensi Tuhan, dan jika realitas wujud itu adalah wujud kontingen, dikarenakan kemustahilan daur dan tasalsul, maka niscaya bergantung kepada Wujud Wajib (Al-Isyarat wa at-Tanbihat, 3/20).

Kesimpulan

Berdasar penjelasan di atas kita dapat pastikan bahwa argumen kaum Atheis sangat lemah tentang ketidakpercayaan terhadap adanya Allah. Tidak salah jika ada yang menilai bahwa paham atheisme ini secara sembarangan dan sewenang-wenang mengkritik keberadaan Tuhan.

Paham ini sangat berbahaya karena menghilangkan makna terdalam dari keyakinan terhadap adanya Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan direduksi menjadi sekedar proyeksi, pelarian, neurosis dan membelenggu. Padahal keyakinan terhadap Tuhan melampaui semua itu.

Rasulullah telah memperingatkan kepada kita agar hati-hati dengan pemikiran yang mempertanyakan keberadaan Allah. Rasulullah bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’ Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”[Riwayat Bukhari].

Semoga kita diselamatkan dari pemikiran kaum atheis yang sesat dan sewenang-wenang tersebut.*

Penulis aktif di ICMI dan MIUMI Jawa Timur

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adanya AllahakalHeadlineketeraturan alammanusiaMengenal Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenkes Gaza Rilis 34 Ribu Nama Warga Palestina yang Dibunuh ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Orang Tua, China Naikkan Batas Usia Pensiun China Naikkan Batas Usia Pensiun di Tengah Populasi Menurun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Berita
5 Juni 2026 08:20
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?