Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Masih Adakah Ampunan Untukku?

Ahmad
Terakhir diupdate: 26 November 2024 10:30 10:30 am
Ahmad
Dipublikasikan 26 November 2024 10:27
Bagikan
Bagikan

Hampir sebulan aku sudah tak menyentuh miras,  narkoba atau barang terlaran, telah kutinggalkan lingkunganku yang buru. Ya Allah, adakah ampunan untukku?

Hidayatullah.com | AKU hanyalah pemuda yang biasa saja. Seperti remaja umumnya,  aku bangga memiliki banyak teman. Hampir setiap hari akuhabiskan waktu untuk bermain dan keluyuran mencari aroma  ‘kepuasan’.

Sudah lima tahun ini akumengejar kepuasan, hidup sebagai anak muda yang tidak tahu arah dan tujuan hidup, kelimpungan, tak karuan, pecandu berat minuman keras.

Berbagai macam minuman telah akurasakan, cimeng, ganja, dan segala macam jenis penyumbat mulut sudah pernah akurasakan. Aku selalu menyebut perbuatan begundal itu sebagai sebuah ‘seni’. Pokoknya  aku jagolah  mencari beribu alasan untuk membenarkan perbuatan itu.

Hati kecil akusejak dulu tahu bahwa perbuatan ini salah. Sejak kecil akudiajarkan oleh guru ngaji bahwa meminum munuman keras itu haram, apa lagi narkoba.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Sejak kecil memang akusudah diajarkan agama, bahkan umur delapan tahun akusudah bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Namun beranjak dewasa akum enemukan berbagai macam pergaulan hingga membawa akuke situasi ini. Aku seakan lupa dengan jati diri.

Sudah berkali-kali aku memutuskan untuk berubah, tetapi selalu saja gagal karena terlalu banyak godaan. Mungkin iman akuyang terlalu lemah atau mungkin hidayah yang sulit masuk ke hati saya, entahlah.

Ramadahan tahun-tahun lalu,  banyak aku habiskan untuk berpoya-poya mengejar “kebahagiaan” semu. Pada selinting ganja, pada berbotol-botol minuman setan memabukkan, pada semua rutinitas yang memburu kesenangan sesaat.

Ramadhan kali ini, aku bertekad ingin memperbaiki diri (bertobat) lagi. Di hari pertama Ramadhan, aku berusaha untuk berubah.

Aku benar-benar shalat lima waktu dan berpuasa. Bacaan shalat yang mulai lupa akuperlancar lagi lewat internet. Hari kedua, akulebih permantap lagi, bahkan akusudah membaca 4 juz al-Qur’an.

Di hari ketiga Ramadhan, ujian itu muncul. Sepulang dari shalat Tarawih, kudapati teman-teman sepergaulanku sama-sama berkubang dalam kesesatan, tengah berpesta miras di dalam kamarku.

Mereka tengah asyik melambungkan angan-angan kosong, pada sebotol anggur merah yang rasanya menyedakkan tenggorokan.

Keimanannya tengah diuji, benteng pertaubatan yang baru sajaku bangun hampir tiga hari, sudah harus mendapatkan gempuran kuat dari bala tentara setan.

Ada pertempuran hebat dalam hati kecilku. Akuingin sekali menyudahi perbuatan ini dan menutup rapat-rapat celah setan yang mencoba menyusup menawarkan pesona kenikmatan.

Namun, kenyataannya sungguh mengecewakan, bala tentara setan masih terlalu tangguh dibandingkan dengan benteng taubat yang baru kubangun tiga hari itu. Akulimbung, mengalah demi satu kata, ‘toleransi’. Toleransi yang ngawur.

Hari-hari selanjutnya kujalani seperti tak ada semangat hidup. Puasa atau tak puasa aku tak peduli lagi. Siang hari memang tak pernah makan dan minum karena akutidur pagi dan bangun menjelang maghrib.

Aku merasa kecewa dengan diri sendiri. Akusemakin larut bersama miras, mabuk.

Hingga lebaran tiba saat semua orang bersuka cita. Aku tertidur di kamar hingga menjelang maghrib. Aku merasa tak pantas merayakan Idul Fitri.

Sehari setelah lebaran, seorang teman sepergaulanku dulu saat pertama kali coba-coba miras, mampir ke rumah. Setelah hampir dua tahun baru kita bertemu lagi.

Penampilannya sudah berubah total, wajahnya lebih cerah, pakaiannya rapih berkameja putih. Ia datang membawa banyak bingkisan; dari kue-kue lebaran hingga beberapa pakaian baru untukku.

Ia berkisah,   telah lama hijrah dan kini sudah menikah dengan seorang gadis berhijab. Hidupnya sudah tentram dan bahagia.

Aku menceritakan kisahku kepadanya, kegalauan hati, keinginan berubah yang selalu gagal dan rasa kecewa kepada diri sendiri.

Ia menyarankan untuk meninggalkan lingkungan itu dan pindah ke lingkungan yang lebih baik. Bergaul dengan orang-orang baik, sering mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah-ceramah ustadz di internet.

Tak butuh waktu lama aku mengikuti sarannya pindah ke sebuah kontrakan kecil dekat rumahnya. Lingkungan itu tak jauh dari sebuah pesantren.

Di tempat itu sering diadakan pengajian dan ceramah dari beberapa ustadz. Aku dikenalkan ke beberapa ustadz untuk konsultasi langsung, aku mendapatkan banyak sekali pencerahan.

Hampir sebulan aku sudah tak menyentuh sama sekali dengan miras atau pun narkoba, aku tak pernah berhubungan lagi dengan pergaulan lama saya. Aku benar-benar sibuk ikut pengajian di pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainya.

Seorang ustadz menceritakan sebuah kisah kepadaku: “Dalam Shahih al-Bukhari dikisahkan, pada masa Rasullullah ﷺ ada seorang laki-laki bernama Abdullah. Dia dijuluki dengan Himar. Abdullah seseorang pemabuk dan pernah dicambuk Rasulullah akibat perbuatannya. Meskipun Abdullah pemabuk, tetapi dia sering membuat Rasulullah tersenyum.”

“Suatu kali, Abdullah dibawa para sahabat menghadap Rasulullah untuk dihukum karena ketahuan mabuk atau minum khamar. Para sahabat pun geram melihat tingkah laku Abdullah yang tidak pernah jera dihukum. Saking kesalnya, ada sahabat yang mengatakan, ‘Laknatlah dia karena sudah terlalu sering dihukum.’

Mendengar kata laknat tersebut, Rasulullah malah mengatakan; “Jangan kalian laknat dia, demi Allah, aku tahu bahwa laki-laki ini mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Ahmad, redaksinya berbunyi; “Janganlah kalian mengatakan demikian. Jangan kalian membantu setan menjerumuskannya. Katakanlah kepada dia, ‘Semoga Allah merahmatimu’.”

Setelah mendengar kisah itu, perlahan-lahan aku mulai merasa tenang, merasa ada harapan besar. “Ya Allah, masikah ada ampunan untukku?”*/Seperti yang diceritakan oleh Randi kepada Suara Hidayatullah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ampunanHeadlineMirasnarkoba
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei Ayatollah Ali Khamenei: Pemimpin ‘Israel’ Harusnya Dihukum Mati Bukan Ditangkap
Tulisan selanjutnya Asal Moccacino Bukan dari Italia, tapi dari Arab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz

Berita
5 September 2026 16:51
Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?