Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Insiden Islamofobia di Australia Melonjak

Ama Farah
Terakhir diupdate: 13 Maret 2025 17:04 5:04 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 13 Maret 2025 17:04
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Insiden islamofobia – termasuk serangan fisik, pelecehan verbal, caci maki dan ancaman pemerkosaan – meningkat lebih dari dua kali lipat kurun dua tahun terakhir, dengan anak perempuan dan wanita Muslim di Australia paling banyak mejadi korban, menurut hasil riset terbaru.

Laporan kelima insiden islamofobia di Australia memaparkan 309 insiden yang langsung dialami korban antara Januari 2023 dan Desember 2024 – yang menunjukkan peningkatan 2,5 kali dibandingkan periode pelaporan sebelumnya. Sementara insiden islamofobia yang terjadi secara online atau daring bertambah menjadi 366.

Anak perempuan dan wanita Muslim mencakup tiga perempat korban dari keseluruhan insiden dan mereka lebih sering mengalami serangan fisik dibandingkan anak lelaki dan pria Muslim.

“Tampak sekali itu merupakan islamofobia berdasarkan gender,” kata Dr Nora Amath, direktur Islamophobia Register. “Mayoritas korban adalah wanita Muslim dan kebanyak pelaku adalah laki-laki. Hal itu sangat nyata dan sangat mengkhawatirkan.”

Hasil riset yang dilakukan oleh Islamophobia Register, Universitas Deakin dan Universitas Monash tersebut dirilis hari Kamis (13/3/2025). Laporan itu memaparkan kenaikan terbesar insiden islamofobia sejak pelaporan dimulai sebagai unggahan di laman Facebook pada 2014. Islamophobia Register merilis laporannya setiap dua tahun.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Dalam banyak kasus anak-anak juga ada di lokasi dan menyaksikan kejadiannya ketika ibu mereka “dicekik, dipukul, ditonjok atau dipanggil dengan sebutan-sebutan yang mengerikan”, kata Amath, seperti dilansir The Guardian.

Seorang wanita Muslim diserang ketika sedang duduk bersama lima anaknya di sebuah food court di pusat perbelanjaan, tulis laporan itu.“Seorang wanita tak dikenal berteriak ‘f*ck Muslims’ dan meninju saya di bagian kepala, membuat saya terjatuh di depan anak-anak saya. Saya dibawa ke rumah sakit di mana hasil pemeriksaan CT scan menunjukkan hidung saya patah,” papar wanita tersebut kepada peneliti.

“Saya dan anak-anak mendatangi psikolog guna mengatasi trauma. Kami tidak keluar rumah kecuali ada keperluan penting karena kami takut peristiwa itu terjadi lagi.”

Seorang wanita lain menceritakan pengalamannya. “Ketika sedang berjalan kaki menuju stasiun kereta, seorang pria berkata, ‘Saya akan robek kerudungmu, menghancurkan kepalamu, dan memperkosamu’.”

Laporan itu juga menyebutkan bahwa dalam satu kasus, seorang pria memasuki ruangan masjid dan mengotorinya dengan tinja.Hampir setengah dari insiden islamofobia yang langsung dialami korban terjadi di New South Wales, negara bagian di Australia yang paling banyak populasi Muslim-nya.

Lebih dari seperempat insiden terjadi di jalanan atau di tempat parkir atau saat korban sedang berkendara. Tempat kejadian terbanyak kedua yaitu di tempat kerja, kemudian di sekolah, di pusat perbelanjaan, universitas dan transportasi umum.

Wanita melaporkan tiga kali lebih banyak insiden islamofobia di tempat kerja dibandingkan pria. Padahal, di Australia wanita Muslim yang bekerja jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan pria Muslim.

Sekolah satu-satunya tempat di mana anak lelaki Muslim melaporkan lebih banyak insiden dibandingkan anak perempuan Muslim, dengan anak lelaki menjafi korban 63% insiden islamofobia di sekolah, menurut laporan tersebut.

Terjadi lonjakan insiden islamofobia pada tiga pekan setelah serangan Hamas ke Israel 7 Oktober 2023 dan selama peperangan selanjutnya di Gaza. Tercatat kenaikan 1.300% insiden yang dilaporkan selama periode itu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Islamophobia Register mendefinisikan islamofobia sebagai serangan terhadap Muslim atau orang yang dikira Muslim. Amath mengatakan bahwa dalam insiden itu ada beberapa korban yang bukan Muslim tetapi disangka Muslim.

“Bagi wanita Muslim, tempat paling berbahaya bagi mereka adalah tempat umum,” kata Amath.“

Dampaknya adalah para wanita menjadi takut untuk keluar rumah, sebagian bahkan ada yang sampai berhenti bekerja dan terlilit utang karena mereka tidak dapat bekerja. Di tempat kerja, mereka tidak menunjukkan dirinya secara penuh, mereka tidak bisa menunjukkan solidaritasnya terhadap Palestina.

Para penyusun laporan itu berkeyakinan angka yang mereka sajikan di bawah angka sesungguhnya, karena di Australia banyak insiden islamofobia yang tidak dilaporkan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Australiaislamofobia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Curi Ratusan Ternak milik Badui Arab
Tulisan selanjutnya Australia Darurat Islamofobia, Korban Mayoritas Muslimah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

15 Juli 2026 21:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?