Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Yaman dan Indonesia: Sejarah, Kesetaraan, dan Peran dalam Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Maret 2025 05:10 5:10 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Maret 2025 09:08
Bagikan
Hadramaut
Bagikan

Yaman melahirkan banyak ulama yang berkontribusi dalam dunia Islam, bahkan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, bersama Mesir, Palestina, Suriah, Lebanon, dan Arab Saudi

Hidayatullah.com | BELAKANGAN nama Yaman kerap menjadi sasaran kritik dan bahkan “cemoohan” di berbagai platform media sosial, sering kali dengan nada sinis dan bahkan rasis. Seakan-akan Yaman hanya diingat sebagai negeri yang dikaitkan dengan klaim keturunan dan eksklusivitas sosial.

Padahal, Yaman memiliki sejarah panjang dalam dunia Islam, memainkan peran penting dalam peradaban, dan bahkan memiliki hubungan erat dengan Indonesia, baik dalam sejarah keislaman maupun perjuangan kemerdekaan.

Yaman dalam Islam: Negeri yang Diberkahi

Secara historis, Yaman merupakan salah satu negeri yang memiliki keutamaan dalam pandangan Islam. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda yang artinya: “Iman itu ada di Yaman, dan hikmah itu ada di Yaman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Hadis ini dan di hadis-hadis lainnya, menunjukkan bahwa Yaman bukan sekadar wilayah geografis, tetapi pusat keilmuan dan kearifan dalam Islam.

Negeri ini menjadi rumah bagi banyak ulama besar dan tempat hijrah berbagai etnis dan kelompok dari luar, termasuk para pendatang dari Basrah dan Kufah (Iraq) seperti Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

Ahmad bin Isa datang ke Yaman pada abad ke-10 dan menjadi cikal bakal kaum Ba’alawi, kelompok yang dikenal sebagai ulama dan pemimpin spiritual di Hadramaut.

Keturunan mereka mengklaim nasabnya bersambung ke Rasulullah ﷺ melalui Sayyidah Fatimah, yang kemudian dikenal dengan gelar Sayyid atau Syarif untuk laki-laki, dan Syarifah untuk perempuan.

Kaum Ba’alawi mendapat pengakuan dari suku-suku di Yaman, konon setelah utusan mereka bersumpah di depan Ka’bah, dan sejak itu memainkan peran sebagai penasihat spiritual dan pemimpin keagamaan.

Mereka juga melakukan asimilasi dengan kalangan masyaikh, termasuk melalui pernikahan, yang semakin memperluas pengaruhnya.

Keturunan mereka kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara, dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam.

Dinamika Sosial: Dari Yaman ke Nusantara

Pengaruh Ba’alawi di Yaman sangat kuat, tetapi ketika mereka bermigrasi ke berbagai wilayah, terutama ke Nusantara, interaksi dengan komunitas Arab non-Ba’alawi pada awal abad ke-20, menciptakan dinamika baru.

Di Indonesia, muncul perbedaan pandangan antara kelompok yang masih memegang kuat hierarki sosial berdasarkan keturunan dengan mereka yang mengusung kesetaraan dalam Islam.

Puncaknya terjadi dengan lahirnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 6 September 1914 di Batavia. Gerakan ini, yang dipelopori oleh Syaikh Ahmad Surkati—ulama lulusan Makkah asal Sudan—menyerukan bahwa Islam menilai seseorang dari ilmu dan amalnya, bukan dari garis keturunan.

Pandangan ini menantang struktur sosial yang selama ini dianggap tidak dapat diganggu gugat.

Semangat kesetaraan yang dibawa Al-Irsyad Al-Islamiyyah tidak hanya menggugah komunitas Arab, tetapi juga menginspirasi pribumi untuk meninggalkan sistem feodal yang membelenggu.

Ini sejalan dengan gagasan yang muncul dalam kelompok-kelompok pergerakan Islam yang sedikit banyak terinspirasi oleh gagasan Surkati, seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam. Demikian pula sikap revolusioner seseorang yang terilhami dengan gagasan kesetaraan seperti yang terlukis dalam novel “Student Hijo” yang ditulis oleh Marco Kartodikromo.

Demikian pula dengan lahirnya Jong Islamieten Bond yang menjadi wadah bagi pemuda Muslim dalam membangun kesadaran nasional dan Islam progresif.

Selain itu, menarik untuk dicatat bahwa dalam komunitas Arab di Nusantara, terdapat penghormatan khusus kepada pribumi yang dinikahi oleh para pendatang Yaman.

Mereka diberikan gelar “Ahwal”, yang berarti saudara dari pihak ibu. Ini mencerminkan hubungan yang tidak hanya sebatas pernikahan, tetapi juga pengakuan terhadap keterikatan keluarga dan penghormatan terhadap keturunan mereka.

Orang-orang Yaman yang datang ke Nusantara umumnya tidak membawa istri-istri mereka, melainkan menikahi wanita pribumi dan menetap secara permanen.

Ini menunjukkan bahwa mereka berhijrah bukan untuk kembali ke tanah asalnya, tetapi untuk menjadikan Nusantara sebagai tanah air mereka yang baru. Dalam tradisi mereka, jika seseorang berhijrah, maka tempat ia menetap adalah tanah airnya yang sejati.

Ada darah pribumi yang  mengalir deras di tubuh orang-orang Yaman, sebagaimana pepatah yang menjiwai dirinya dengan ungkapan “dimana bumi dipijak langit dijunjung, disanalah tanah airnya”.

Yaman dan Kemerdekaan Indonesia

Di tengah opini yang cenderung merendahkan Yaman, banyak yang lupa bahwa negara ini adalah salah satu yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia, bersama Mesir, Suriah, Lebanon, dan Arab Saudi.

Pengakuan ini sangat penting dalam diplomasi internasional Indonesia yang masih baru merdeka.

Harapan Memahami Yaman Secara Adil

Yaman bukan sekadar negeri yang dikaitkan dengan klaim sosial golongan tertentu, melainkan negeri yang kaya akan sejarah, ilmu, dan kearifan.

Pengaruh kaum Ba’alawi memang besar, tetapi Yaman juga melahirkan banyak ulama dari berbagai latar belakang yang berkontribusi dalam dunia Islam.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, tetapi oleh ketakwaan, ilmu, adab dan amalnya.

Sejarah telah menunjukkan bahwa nilai kesetaraan dalam Islam menjadi pendorong bagi banyak gerakan pembaruan, termasuk di Indonesia.

Oleh karena itu, daripada terus terjebak dalam narasi sinis dan prasangka, kita seharusnya belajar dari sejarah bahwa Islam adalah agama keadilan dan persaudaraan—dan Yaman adalah bagian penting dari kisah itu.*/Abdullah Abubakar Batarfie

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dunia Islamnegeri yamanulamanyaman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Fenomena Dayuts-isme Modern
Tulisan selanjutnya Perjalanan Noor Saadeh: Dari Dunia Opera ke Cahaya Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba

Berita
3 Juli 2026 20:59
Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

Terbaru

  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?