Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menuju 100 Tahun? Majalah Hidayatullah, Pembasuh Ruhiyah dan Perekat Harakah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Mei 2025 11:18 11:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Mei 2025 05:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Tanggal 22 September tahun 1888, seratus tahun sebelum terbitnya Majalah Hidayatullah, telah terbit sebuah majalah di Amerika Serikat bernama National Geographic. Majalah ini diterbitkan oleh seorang imigran Skotlandia di Amerika, Alexander Graham Bell, yang kemudian dilanjutkan oleh menantunya. Berarti saat ini majalah tersebut berusia 137 tahun.

Daftar isi
  • Milad atau Takziyah?
  • Lima Fungsi Majalah Hidayatullah:
  • Kita Hendak ke Mana?
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Ketika itu, 1988, kami masih anak SMA yang ditugaskan oleh Ustadz Abdul Rahman dan direkrut oleh Ustadz Hamim Tohari untuk membantu penerbitan majalah. Pak Bowo yang rajin beli majalah-majalah bekas National Geographic dan lain-lain. Setiap bulan, kami ke pasar buku bekas Jalan Semarang, Surabaya, di dekat stasiun Pasar Turi untuk membeli berbagai majalah bekas, sebagai salah satu terobosan mencari inspirasi.

Waktu itu kami bertekad: Insyaallah, Majalah Hidayatullah akan hidup 100 tahun seperti National Geographic. Bahkan lebih. Tidak hanya dalam bentuk cetak, tapi sebagai gagasan, gerakan, dan media yang dinamis.

Tidak ada alasan selain optimis, bahwa kita bisa terus melanjutkan tugas ini. Karena ini bukan sekadar menerbitkan majalah biasa, melainkan menjadi penyambung lidah Rasulullah ﷺ. Kita ingin setiap insan yang membaca merasakan basuhan iman—mengutip istilah Ustadz Abdullah Said.

Milad atau Takziyah?

Hari ini, saat usia Majalah Hidayatullah memasuki 37 tahun, dalam kajian sejarah atau peradaban, usia 30–40 tahun adalah satu generasi. Maka, kita harus waspada: apakah ini milad atau takziyah? Insyaallah bukan takziyah.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Saya ingin mengutip surat Al-Furqan:

‎تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًاۙ
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi seluruh alam.”

Jika Majalah Hidayatullah adalah perpanjangan dari Al-Quran, maka dia harus menjadi nadzīrā—pemberi peringatan. Ruang lingkupnya tidak boleh hanya untuk Indonesia, apalagi hanya Jawa Timur. Harus menjangkau hingga Kuba, Korea Selatan, dan negara-negara lain. Alhamdulillah, kini itu sudah terjadi lewat website, Instagram, dan YouTube. Tinggal jenis bahasanya diperbanyak. Mudah sekarang.

‎ࣙالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
”Yang kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi”

Karena itu, majalah ini tidak boleh berhenti karena kehabisan modal. Itu bertentangan dengan statusnya sebagai penegak Al-Furqan, karena pemodalnya adalah Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi. Ini bukan milik organisasi, tetapi milik umat Muhammad ﷺ. Maka, khidmatnya juga kepada umat, bukan sekadar kepada organisasi Hidayatullah.

‎وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرً
”(Dia Allah) tidak mempunyai anak, dan tidak ada satu sekutu pun dalam kekuasaan-Nya. Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”

Ini adalah isyarat agar majalah juga mendalami terus sains dan menjadi “bahasa tengah” dalam komunikasi: bahasa jurnalistik itu tidak sekaku bahasa ilmiah, tapi juga tidak sebebas imajinasi sastra, tetapi kuat dalam isi dan indah dalam penyampaian.

Lima Fungsi Majalah Hidayatullah:

Izinkan saya merangkum pelajaran dari berbagai ceramah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said tentang lima fungsi utama Majalah Hidayatullah.

  1. Pembasuh hati dan penyegar ruhiyah
    Membaca majalah ini harus seperti mendapat siraman ruhiyah yang segar.
  2. Pengguncang dan penajam akal
    Gagasan dakwah dan pembangunan masyarakat disampaikan lewat tulisan, baik oleh Ustadz Abdullah Said maupun tim redaksi berikutnya: Ustadz Mansur Salbu, Ustadz Abdul Latif Usman, Ustadz Hamim Tohari, Ustadz Abdul Rahman, Ustadz Muhammad Chusaini, Ustadz Ir. Sulaiman, Ustadz Rahmat Rahman, Ustadz Ainur Rofiq Syahifun dan lainnya.
  3. Provokator amal saleh dan aksi
    Seperti kisah Ustadz Agis Mahruri, yang batal bekerja di Kalimantan demi memilih jalan hijrah ke Gunung Tembak, setelah membaca majalah ini.
  4. Tutorial teknis pengembangan masyarakat
    Menjadi panduan dakwah dan tarbiyah dalam membangun masyarakat Islami.
  5. Perekat jaringan harakah
    Majalah ini menjadi simpul komunikasi antar-harakah Islam. Dulu, Laskar Jihad, Majelis Mujahidin, PK dan PKS, Masyumi/DDII, Muhammadiyah, dan NU, semua tokoh dan karya mereka kita angkat di majalah ini.

Kita Hendak ke Mana?

Kini, setelah 37 tahun, pertanyaan terbesarnya bukan hanya untuk majalah ini, tapi juga untuk gerakan dan harakahnya: Apa fungsi kita yang hendak dilanjutkan? Bukan hanya meneruskan warisan Ustadz Abdullah Said, tapi juga meneruskan misi Nabi Muhammad ﷺ. Modalnya sudah Allah sediakan—lebih berat dari langit dan bumi. Tidak boleh ada ruang untuk pesimis.

Optimisme kita bukan sekadar agar majalah ini bertahan. Tapi agar media ini menyebarkan seluas mungkin risalah Ilahiyah, risalah Quraniyah, dan risalah Nabawiyah ini terus berlanjut hingga 100 tahun ke depan.

Saya tutup dengan kutipan dari Sayyid Quthb dalam pengantar Tafsir Fī Zhilālil Qurān (Di Bawah Naungan Al-Quran). Sebuah kutipan yang, menurut saya, mewakili pula semangat Ustadz Abdullah Said ketika pertama kali menerbitkan majalah ini:

“Bacalah Fī Zhilāl ini, karena aku menulisnya sebagai alat untuk mendekatkan kalian kepada Al-Quran. Maka ketika kalian sudah dekat dengan Al-Qur’an, tinggalkanlah (kitab tafsir) Fī Zhilāl Qurān.”

Maksudnya, karya manusia seperti Fī Zhilāl dan Majalah Suara Hidayatullah, seberapapun hebat dan indahnya ada batas umur pengaruhnya bagi manusia. Jangan disucikan secara berlebihan. Ia hanya jembatan kita mengarungi dan menggelegarkan peradaban Al-Quran. Begitu diri kita, masyarakat, dan harakah kita sudah melekat dengan gerak Al-Quran, ngebutlah. Biarkan jembatan itu dipakai oleh mereka yang baru memulai mendekat, sedangkan kita, lanjutkan dengan jembatan berikutnya, sampai sukses ke pelabuhan terakhir.

Maju terus Majalah Suara Hidayatullah. Generasi baru akan menggelegarkanmu kembali. Insyaa Allah.*

Disarikan dan digubah dari sambutan Dzikrullah W. Pramudya, Pemimpin Redaksi (2001–2004), pada Acara Milad ke-37 Majalah Hidayatullah (27/5/25)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineMajalah Suara HidayatullahmediaMilad 37 Suara HidayatullahPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Teknologi Pintar dan AI yang Dipakai Saudi untuk Dukung Pelayanan Ibadah Haji
Tulisan selanjutnya Persiapan Wukuf, Ini Pesan Penting Pemerintah untuk Jemaah Haji Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?