Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Pendidikan dalam Cinta dan Pengorbanan

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Juni 2025 12:55 12:55 pm
Ahmad
Dipublikasikan 5 Juni 2025 12:53
Bagikan
Bagikan

Cinta dan pengorbanan adalah ujian sejati dari keimanan. Ketulusan Ibrahim `alaihis salam dan putranya menjadi contoh nyata symbol iman dan ketaaan, juga sukses pendidikan

Oleh: Bambang Galih S

Hidayatullah.com | DALAM kehidupan, cinta dan pengorbanan adalah dua nilai utama yang menjadi fondasi pendidikan sejati. Seorang ayah yang saleh, di usianya yang telah senja — 86 tahun — menginginkan kehadiran seorang anak dalam kehidupannya. Maka ia pun berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah:

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk golongan orang-orang yang saleh.”    (QS. As-Saffat: 100)

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Demikian pula sebagaimana dicontohkan dalam doa Nabi Zakariya `alaihis salam saat memohon keturunan yang saleh — sebuah harapan tulus yang lahir dari 2. cinta dan pengorbanan sebagai orang tua:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.'”
(QS. Al-Anbiya: 89)

Anak yang saleh adalah buah dari cinta dan pengorbanan orang tua yang ikhlas. Ia bukan sekadar anak yang cerdas secara akademik, melainkan yang menjaga ibadah kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan berakhlak mulia.

Tanpa cinta dan pengorbanan, pendidikan kehilangan ruhnya. Pendidikan yang berorientasi dunia saja, tanpa nilai ibadah, tak akan mampu melahirkan generasi tangguh yang diridai Allah.

Tak layak disebut baik, jika seorang anak meraih prestasi duniawi namun mengabaikan shalat, tidak bisa membaca Al-Qur’an, tidak mendoakan orang tua, serta bersikap kasar dan egois.

Maka impian setiap orang tua yang saleh adalah memiliki keturunan yang mencerminkan cinta dan pengorbanan, yang akan menjadi amal jariyah dan investasi akhirat.

Allah pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim `alaihis salam dengan menganugerahkan seorang anak saleh, yaitu Nabi Ismail. Kisah mereka adalah simbol cinta dan pengorbanan yang luar biasa.

Ketika Ismail menginjak usia remaja, Ibrahim mendapat perintah lewat mimpi untuk menyembelih anaknya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي ٱلْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama dia, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”(QS. As-Saffat: 102)

Sebagai orang tua, tentu sangat berat menerima perintah seperti itu. Namun Ibrahim menunjukkan bahwa cinta dan pengorbanan kepada Allah lebih besar dari cinta kepada anak.

Di sinilah letak puncak pendidikan cinta dan pengorbanan — ketika seseorang rela mengorbankan apa yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Sang Pencipta.

Cinta dan pengorbanan adalah ujian sejati dari keimanan. Ketulusan Ibrahim `alaihis salam tak hanya diuji oleh perasaan, tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata. Dan Allah, dengan kasih sayang-Nya, menggantikan pengorbanan itu dengan seekor domba. Inilah awal disyariatkannya ibadah kurban yang kita kenal hari ini dalam Idul Adha — wujud cinta dan pengorbanan umat Islam di seluruh dunia.

Cinta dan pengorbanan tidak cukup hanya diucapkan. Ia menuntut bukti. Ia bukan sekadar kata-kata manis, seperti “aku cinta kamu” atau “aku rela mati untukmu” sebagaimana kerap diucapkan oleh para remaja.

Cinta dan pengorbanan sejati terlihat pada seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya, seorang ibu yang mengandung dan melahirkan dengan penuh perjuangan, seorang anak yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, seorang pemimpin yang berjuang demi keadilan, dan seorang muslim yang menjaga ibadahnya dengan sungguh-sungguh.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail adalah pelajaran spiritual dan sosial — bahwa cinta dan pengorbanan yang tulus akan menghasilkan kebaikan abadi.

Bahkan, cinta dan pengorbanan yang ditujukan kepada Allah akan dibalas dengan pahala yang tiada henti.

Kini, dalam semangat Idul Adha, jutaan kaum muslimin menunjukkan cinta dan pengorbanan mereka kepada Allah melalui ibadah kurban, berbagi kepada yang membutuhkan, dan memperkuat tali ukhuwah.

Inilah esensi dari pendidikan dalam cinta dan pengorbanan yang diwariskan oleh keluarga Ibrahim `alaihimassalam.

Cinta dan pengorbanan adalah nilai universal yang melampaui waktu. Ia adalah bahasa kasih sayang yang menghidupkan jiwa, menguatkan hubungan antar manusia, dan menjadi dasar keberhasilan pendidikan.

Tanpa cinta dan pengorbanan, hubungan orang tua dan anak menjadi hampa, pendidikan menjadi kering, dan kehidupan menjadi kehilangan arah.

Oleh karena itu, mari kita jadikan cinta dan pengorbanan sebagai nilai dasar dalam mendidik, membangun keluarga, dan beribadah. Dengan cinta dan pengorbanan, kita mampu melahirkan generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga saleh, tangguh, dan berhati mulia.

Cinta dan pengorbanan adalah ruh dari setiap amal yang bernilai. Tanpa cinta dan pengorbanan, ibadah kehilangan keikhlasan, dan amal menjadi hampa makna.

Maka, mari kita hidupkan kembali semangat cinta dan pengorbanan dalam setiap langkah kehidupan kita.

وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ

Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui kebenaran yang sejati.*

Penulis adalah pengasuh dan Pendidik di Pesantren Al Izzah, Nunukan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintaHeadlineidul adhaIsmailnabi IbrahimPendidikanpengorbananujian keimanan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wali Kota Solo Izinkan Ayam Goreng Widuran Buka, Harus Tulis Non-Halal dengan Jelas
Tulisan selanjutnya Trump Larang dan Perketat Warga Asal 19 Negara Masuk Amerika Serikat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?