Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Latifa al-Droubi, Ibu Negara Baru Suriah: Dari Gua ke Istana

Ahmad
Terakhir diupdate: 28 Juni 2025 15:51 3:51 pm
Ahmad
Dipublikasikan 28 Juni 2025 15:49
Bagikan
Istri Ahmad al-Sharaa Latifa al-Droubi
Bagikan

Lahir dari keluarga seorang ulama, Latifa al-Droubi setia menemani suami bahkah telah berpindah tempat 49 kali selama 14 tahun—dari gua hingga kandang ayam—menghindari kejaran Rezim Bashar al Assad

Hidayatullah.com | DALAM dunia politik Timur Tengah yang sering kali dikuasai oleh retorika dan kekuasaan maskulin, sosok Latifa al‑Droubi hadir seperti angin segar. Ibu Negara baru Suriah ini bukan hanya pendamping Presiden interim Ahmad al‑Sharaa, tetapi juga simbol keteguhan dan kesetiaan dalam perjuangan panjang menuju kemerdekaan dan rekonsiliasi bangsa.

Baru muncul ke publik sejak awal tahun ini, Latifa langsung mencuri perhatian. Dengan penampilan sederhana namun berwibawa, ia hadir dalam berbagai acara kenegaraan dan forum internasional, mencitrakan wajah Suriah yang lebih bersahaja dan inklusif.

Sosok Latifa al‑Droubi tidak dibentuk oleh sorotan kamera atau protokol istana, melainkan oleh penderitaan bersama rakyat. Ia bukan figur glamor, melainkan narasi sunyi dari ketabahan dan keberanian perempuan.

Dalam perjalanan Suriah menuju rekonsiliasi dan perdamaian, nama Latifa tampaknya akan terus disebut—bukan karena kekuasaan, tapi karena kasih dan kesetiaan yang ia bawa dalam tiap langkahnya

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

14 Tahun dalam Senyap dan Penderitaan

Latifa lahir tahun 1984 di kota Al-Qaryatayn, Provinsi Homs. Ia berasal dari keluarga terpelajar dan terpandang, keturunan ulama besar Syeikh Abdul Ghaffar al‑Droubi dan kerabat Aladdin al‑Droubi, perdana menteri Suriah era 1920-an.

Kecintaannya pada sastra membawanya menempuh Magister Sastra Arab di Universitas Damaskus, tempat di mana ia bertemu Ahmad al‑Sharaa—saat itu aktivis mahasiswa dan penulis muda oposisi.

Keduanya menikah di awal 2010-an, dan sejak itulah kisah mereka menjadi satu dalam pergolakan sejarah Suriah modern.

Ketika konflik sipil pecah, Ahmad Al-Sharaa menjadi buronan rezim Bashar al-Assad dan Latifa memilih untuk tidak meninggalkannya. Bersama-sama mereka hidup dalam pelarian, berpindah tempat sebanyak 49 kali selama 14 tahun—dari gua di pegunungan, rumah petani, hingga kandang ayam.

“Istriku hidup bersamaku di gua selama 14 tahun. Kami berpindah di 49 tempat—rata-rata satu rumah setiap tiga bulan. Ketabahannya mewakili peran vital perempuan dalam perjuangan, ” ujar Presiden Al-Sharra dalam wawancara dengan Al Jazeera Arabic, Februari 2025.

Muncul di Panggung Diplomatik

Setelah Ahmad al‑Sharaa dilantik sebagai Presiden interim pada 29 Januari 2025, Latifa mulai tampil di hadapan publik. Dalam hitungan minggu, ia mendampingi suaminya umrah di Makkah, bertemu Emine Erdoğan di Ankara, lalu menghadiri Antalya Diplomacy Forum (11 April), hingga ikut menyapa rakyat dalam perayaan Idul Adha di Tishreen Park, Damaskus.

Ibu negara Turki Emine Erdoğan berpose dengan Ibu Negara Suriah Latifa al-Daroubi

Kehadirannya disambut hangat. The New Arab menyebutnya “humble yet intellectually commanding.”

Penampilannya yang bersahaja—kerudung lembut, abaya elegan, senyum tulus—menjadi representasi perempuan Suriah pascaperang: kuat, berpendidikan, dan tidak kehilangan nurani sosial.

Menyentuh Rakyat

Dalam pidato pertamanya di hadapan warga pada Idul Fitri (31 Maret 2024), Latifa menyampaikan kalimat yang banyak dikutip media:

“Saya bukan Ibu Negara dari istana. Saya adalah istri dari lelaki biasa yang pernah tidur di tanah dan makan roti kering bersama kalian.”

Sementara di acara Idul Adha (7 Juni 2025), ia menegaskan visinya tentang rakyat dan negara:

“Negara bukan istana. Negara adalah kalian: janda, yatim, guru yang tetap mengajar meski tak digaji. Kalianlah Suriah. Kami hanya diberi amanah untuk melayani,” katanya dikutip Al‑Monitor.

Bukan di Belakang, tapi di Samping

Ahmad al‑Sharaa menyebut Latifa sebagai “jiwa perlawanan yang tenang.” Dalam wawancara dengan IntelliNews, ia berkata: “Tanpa dia, aku takkan selamat dari perang—secara politik maupun emosional. Ia bukan di belakangku. Ia berjalan di sampingku.”Dan tampaknya, rakyat Suriah kini juga melihatnya seperti itu—bukan sekadar Ibu Negara, melainkan penjaga nurani bangsanya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 2.000 Relawan Hadiri Jambore Nasional Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-3
Tulisan selanjutnya Serangan Bunuh Diri Tewaskan Belasan Tentara Pakistan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Suriah Larang Kelompok Bersenjata Selain Militer Negara
Berita

Suriah Buru Pelaku Kejahatan Perang, Eks Komandan Assad Ditangkap

Berita
8 Juni 2026 10:25
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
Sedang Menangkap Ikan, Remaja Palestina Syahid Dihantam Tembakan Kapal ‘Israel’
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?