Meski jasadnya kini diklaim telah tiada, Abu Ubaidah tetap hadir sebagai suara yang tersembunyi di balik kefiyah merah dan abadi dalam ingatan umat sebagai simbol perlawanan Palestina
Hidayatullah.com | MILITER ‘Israel’ pada 30 Agustus 2025 mengumumkan bahwa mereka telah mengklaim membunuh Abu Ubaidah, juru bicara resmi Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap bersenjata Hamas.
Serangan udara di kawasan Rimal, Kota Gaza, disebut mengenai Hudayfa Samir Abdallah al-Kahlout, pria berusia 40 tahun yang selama hampir dua dekade dikenal dunia dengan nama samaran “Abu Ubaidah”. Hingga kini, pejuang Hamas belum mengonfirmasi secara resmi kematiannya.
Abu Ubaidah menjadi wajah publik Hamas sejak pertama kali muncul di media pada 2002. Setelah penjajah menarik diri dari Jalur Gaza pada 2005, ia ditunjuk sebagai juru bicara militer Hamas dan pada 2007 mulai secara rutin menyampaikan pernyataan dalam setiap eskalasi konflik.
Identitasnya tetap disembunyikan dengan kefiyah merah yang menutupi seluruh wajah, menjadikannya sosok yang sulit diidentifikasi dan diburu oleh intelijen Penjajah ‘Israel’.
Menurut Departemen Keuangan Amerika Serikat, yang pada April 2024 memasukkan namanya ke dalam daftar sanksi, Abu Ubaidah adalah Hudayfa al-Kahlout, lahir pada 11 Februari 1985 di Gaza.
Otoritas penjajah selama bertahun-tahun menyebutnya sebagai target prioritas, namun keberadaannya selalu sulit dilacak.
“’Israel’ mengerahkan seluruh kemampuan teknologinya untuk membunuhnya, tetapi selama lebih dari 15 tahun ia berhasil tetap berada di garis depan propaganda Hamas,” tulis Washington Post, 31/8/2025.
Sebagai juru bicara, Abu Ubaidah memegang peran strategis dalam menyampaikan keberhasilan militer Hamas, termasuk video serangan roket, pengumuman penyergapan, dan pernyataan mengenai tawanan penjajah.
Dalam setiap konflik besar, seperti perang 2008–2009, 2014, hingga eskalasi setelah serangan 7 Oktober 2023, ia tampil sebagai suara utama Brigade al-Qassam. Middle East Eye menggambarkannya sebagai “sosok yang menjadi lebih dari sekadar juru bicara, melainkan simbol perlawanan Palestina.”
Bahasa yang digunakannya dalam siaran pers dianggap bernuansa religius dan penuh simbol. Dalam salah satu pernyataan pada 2021, ia berkata: “Musuh akan menyaksikan bahwa Gaza tidak sendirian, dan bahwa perlawanan mampu membuat Tel Aviv bersembunyi di tempat perlindungan.”
Menurut Asharq Al-Awsat, gaya retorikanya menjadikan namanya identik dengan semangat juang di kalangan pendukung Palestina.
Keberhasilan Hamas menjaga kerahasiaan identitasnya membuat Abu Ubaidah menjadi teka-teki. Media Penjajah ‘Israel’ menilai penyamaran permanennya, dengan kefiyah merah dan seragam militer, adalah strategi psikologis yang menambah beban moral pasukan Penjajah ‘Israel’.
“Ia adalah orang tanpa wajah, dan itu menjadikan perburuannya lebih sulit,” tulis Haaretz dalam analisis 2022.
Kematian yang diklaim Penjajah ‘Israel’ ini menimbulkan spekulasi luas mengenai dampak terhadap struktur komunikasi Hamas. Associated Press melaporkan, jika benar tewas, kepergian Abu Ubaidah akan meninggalkan kekosongan simbolis yang besar karena ia telah menjadi tokoh ikonik perlawanan lebih dari satu dekade.
Namun sebagian analis menilai, kerahasiaan Hamas berarti kemungkinan sudah disiapkan pengganti yang mampu melanjutkan perannya.
Bagi masyarakat Gaza dan simpatisan Palestina, Abu Ubaidah selama ini bukan hanya juru bicara, melainkan representasi suara militer mereka di hadapan dunia.
The Palestine Chronicle menyebutnya sebagai “wajah paling terkenal dari al-Qassam, meski dunia tidak pernah benar-benar melihat wajah aslinya.”
Peringatan Arab
Abu Ubaidah berkali-kali melontarkan kritik tajam kepada para pemimpin Arab yang dianggap bungkam saat rakyat Palestina mengalami pembantaian dan pengepungan.
Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa sikap diam dan ketidakpedulian itu akan dicatat sejarah sebagai bentuk pengkhianatan dan saksi dihadapan Allah kelak di akherat.
Pada 7 Oktober 2023, dalam sebuah video pernyataan yang dikutip oleh komunitas Palestina di Reddit, Abu Ubaidah mengecam kelemahan para pemimpin Arab:
Abu Ubaidah mengejek para pemimpin Arab karena tidak mampu menggerakkan tentara mereka demi membantu saudara-saudara mereka di Palestina. Ia menegaskan bahwa mereka akan selamanya dicatat dalam buku sejarah sebagai pengecut yang diperbudak Amerika Serikat.
Beberapa pekan kemudian, pada 29 Oktober 2023, ia kembali mengarahkan kata-kata kerasnya kepada elit Arab yang bungkam:
“Kepada para pemimpin Arab, kami katakan dari jantung pertempuran… Apakah kelemahan dan ketidakberdayaan kalian sudah sampai pada titik di mana kalian bahkan tidak bisa mengirimkan bantuan ke sebagian kecil tanah Arab-Islam kalian sendiri?” (29 Oktober 2023)
Dalam konteks pengepungan Gaza City pada awal 2024, pernyataannya yang paling banyak dikutip media internasional juga bernada ancaman dan sindiran:
“Prajurit-prajurit kalian akan kembali dalam kantong jenazah.” (dirujuk dari pernyataan resmi al-Qassam, 2024)
Saat krisis bantuan kemanusiaan pada Februari 2025, Abu Ubaidah menuduh penjajah menghalangi pasokan ke Gaza. Meski fokus utama diarahkan ke Tel Aviv, ucapannya sekaligus menyinggung dunia Arab yang tidak menekan dibukanya jalur bantuan.
“Para pejuang kami… Pelanggaran ini termasuk kegagalan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan… Sementara itu, perlawanan telah memenuhi seluruh kewajibannya.” (18 Februari 2025).
“Musuh tidak akan melakukan genosida di hadapan para pemimpin bangsa (Arab) ini, kecuali jika mereka yakin akan mendapatkan impunitas, jaminan kebisuan, dan pengkhianatan yang sudah dibeli,” ujarnya kepada Middle East Eye, Juli 2025.
Lebih jauh, bahkan sejak Juni 2020, Abu Ubaidah sudah mengingatkan bahwa rencana ‘Israel’ untuk mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat merupakan deklarasi perang. Ia menegaskan kemampuan perlawanan Gaza meskipun negara-negara Arab memilih diam.
“Kami mengingatkan umat Islam yang berjumlah dua miliar orang bahwa umat Muslim Arab ini, yang telah berjuang selama lebih dari 70 tahun, sedang menghadapi genosida, kelaparan, dan pengungsian di depan mata kalian. Apa yang akan kalian katakan kepada Tuhan kalian?,” tambahnya.
Dengan klaim kematian ini, satu babak baru dalam perang informasi dan psikologi antara Penjajah ‘Israel’ dan Hamas kembali terbuka.
Identitas sosok di balik kefiyah merah itu mungkin kini telah terungkap, tetapi warisan simboliknya bagi perjuangan Palestina diperkirakan akan terus bertahan.*




