Hidayatullah.com—Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan tanggapannya mengenai rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza kepada para mediator. Tanggapan ini datang menjelang batas ultimatum yang ditetapkan Trump.
Dalam pernyataan resminya, Hamas menyebut telah melakukan “konsultasi luas untuk mencapai posisi yang bertanggung jawab” dalam menanggapi rencana Trump, dengan tujuan menghentikan agresi Israel, demikian dikutip Al Jazeera, Sabtu, 3 Oktober 2025.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Mousa Abu Marzouq, memberikan penjelasan lebih lanjut:
Prioritas Utama: Abu Marzouq menegaskan bahwa prioritas Hamas adalah menghentikan perang dan pembantaian. Ia menyatakan bahwa masa depan Gaza adalah masalah nasional yang tidak bisa diputuskan oleh Hamas sendirian.
Penyatuan Senjata: Dia menegaskan bahwa Hamas bersedia menyerahkan senjatanya kepada negara Palestina di masa depan, dan bahwa yang memerintah Gaza nantilah yang akan memegang kendali senjata.
Waktu Penyerahan Tahanan: Mengenai klausul penyerahan tahanan dalam 72 jam, Abu Marzouq menyebutnya “tidak realistis” dalam kondisi saat ini.
Pandangan Positif: Dia mendesak Amerika Serikat untuk melihat masa depan rakyat Palestina “secara positif.”
Sebelumnya, Donald Trump melalui platform Truth Social-nya memberikan ultimatum hingga Ahad sore waktu AS kepada Hamas untuk menerima rencananya. Trump mengklaim kesepakatan ini akan “menyelamatkan nyawa semua pejuang Hamas yang tersisa,” sambil memperingatkan bahwa penolakan akan membuka “gerbang neraka yang belum pernah terjadi sebelumnya” bagi kelompok tersebut.
Gedung Putih juga telah mengonfirmasi bahwa mereka menunggu tanggapan Hamas atas proposal yang mereka terbitkan pada 29 September 2025, yang menyerukan gencatan senjata langsung, diikuti dengan program rekonstruksi menyeluruh dan penataan ulang situasi politik serta keamanan di Gaza.
Sehari sebelumnya, pada Jumat (2/10/2025), anggota biro politik Hamas Mohammad Nazzal menolak tekanan Presiden Trump yang memberikan deadline hari Ahad ini bagi Hamas menerima rencana tersebut.
Nazzal menegaskan, “Kami tidak akan tunduk pada tekanan, ancaman, atau ultimatum,” dan menyatakan bahwa Hamas mencari ruang dialog yang mengedepankan kepentingan rakyat Palestina. Ia juga mengingatkan, “Waktu adalah darah,” menandakan urgensi menghentikan pembantaian yang terus berlangsung.
Proposal Trump mengandung rencana pembentukan badan teknokratik yang didukung Arab dan Islam untuk mengelola Gaza, sekaligus menuntut pelucutan senjata oleh Hamas dalam proses pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Namun, Hamas menyatakan siap memenuhi persyaratan ini hanya jika sesuai dengan kerangka nasional Palestina dan resolusi internasional terkait.
Meski Hamas tidak menyetujui seluruh isi proposal, telah membuka pintu dialog dan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk mengakhiri perang di Gaza. Namun, kenyataan bahwa negosiasi lanjutan masih diperlukan menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik dan keamanan di kawasan tersebut.
Sejak awal genosida pada 7 Oktober 2023, lebih dari 66.000 warga Palestina telah menjadi syahid akibat agresi militer zionis – ‘Israel’ dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, termasuk banyak anak-anak dan perempuan. Hamas menegaskan bahwa perdamaian yang adil hanya dapat tercapai dengan kedaulatan dan kemerdekaan yang dihormati, bukan melalui tekanan atau paksaan.*
Isi Tanggapan Hamas
Hamas mengumumkan sejumlah poin persetujuan dan penekanan dalam tanggapannya:
1. Pertukaran Tahanan: Menyatakan kesediaan untuk melepaskan semua tahanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sesuai usulan Trump, sebagai bagian dari upaya menghentikan perang dan menarik pasukan.
2. Kesiapan Bernegosiasi: Menegaskan kesiapan “segera” untuk masuk dalam perundingan melalui mediator guna mendiskusikan semua detail perjanjian.
3. Tata Kelola Gaza: Sepakat untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada sebuah badan Palestina yang terdiri dari para independen, berdasarkan kesepakatan nasional dan dengan dukungan Arab-Islam.
4. Masa Depan Gaza dan Palestina: Menekankan bahwa bagian dalam proposal Trump mengenai masa depan Gaza dan hak rakyat Palestina harus dibahas dalam kerangka nasional Palestina yang komprehensif, di mana Hamas akan berpartisipasi secara bertanggung jawab.*




