Hidayatullah.com— Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) memberikan tanggapan resmi terhadap rencana perdamaian yang ditawarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Arabi, pimpinan Hamas Osama Hamdan memaparkan sejumlah poin utama sebagai sikap resmi gerakan tersebut.
Berikut inti pernyataan Hamas:
🟩 1. Tiga Pertimbangan Utama dalam Menanggapi Rencana Trump
Hamas menyambut baik setiap upaya internasional yang bertujuan mengakhiri perang di Gaza. Menurut Osama Hamdan, ada tiga faktor utama yang menjadi dasar sikap Hamas:
- Menghentikan genosida dan agresi terhadap rakyat Gaza.
- Konsultasi dengan seluruh faksi Palestina sebelum mengambil keputusan.
- Dukungan dunia Arab dan Islam sebagai landasan legitimasi.
“Kami terbuka terhadap inisiatif ini, tetapi semua keputusan harus melalui pertimbangan nasional,” kata Hamdan.
🟩 2. Penolakan Pasukan Asing dan Usulan Pengelolaan Gaza
Hamas menolak kehadiran pasukan internasional atau administrasi asing di Jalur Gaza.
Hamdan menegaskan, “Masuknya pasukan asing tidak dapat diterima oleh rakyat Palestina.”
Sebagai alternatif, Hamas mengusulkan pembentukan otoritas nasional independen Palestina yang akan mengelola Gaza dengan dukungan tokoh-tokoh nasional dan koordinasi bersama Otoritas Palestina. “Langkah ini sudah menjadi kesepakatan nasional dan didukung dalam KTT Arab-Islam,” ujarnya.
🟩 3. Proses Pertukaran Tawanan dan Jaminan dari AS
Hamas siap berunding langsung untuk pertukaran tawanan dan penghentian agresi Israel.
Hamdan menilai batas waktu 72 jam yang disebut dalam rencana Trump tidak realistis. “Kami serius menyelesaikannya secepat mungkin, tetapi proses teknis dan koordinasi di lapangan memerlukan waktu lebih lama,” jelasnya.
Hamas meminta jaminan resmi dari Amerika Serikat agar Israel tidak melanggar kesepakatan. “Rencana ini tidak akan berarti tanpa jaminan dari AS,” tegas Hamdan.
🟩 4. Bantuan Kemanusiaan, Rekonstruksi, dan Peran Mediator
Hamas mendukung mekanisme bantuan kemanusiaan yang diusulkan dalam rencana tersebut, karena serupa dengan kesepakatan Januari lalu. “Kami memerlukan bantuan kemanusiaan dan medis segera karena situasi kesehatan di Gaza sangat buruk,” ujar Hamdan.
Ia juga memuji peran Qatar dan Mesir sebagai mediator utama, dan berharap kedua negara terus berperan dalam pemantauan dan rekonstruksi Gaza. “Peran mereka sangat penting dalam menghentikan agresi dan memastikan pelaksanaan kesepakatan,” katanya.
🟩 5. Hamas Tegaskan Tetap Menjadi Bagian dari Palestina
Hamdan membantah tuduhan bahwa kesepakatan ini dimaksudkan untuk menyingkirkan Hamas dari politik dan militer Gaza.
“Hamas adalah bagian asli dari rakyat Palestina. Tidak ada kekuatan yang dapat menghapus peran kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, perlawanan adalah bagian dari sejarah panjang bangsa Palestina. “Ketika negara Palestina berdiri, senjata perlawanan akan menjadi senjata negara yang melindungi rakyatnya,” kata Hamdan menutup wawancara.*




