Hidayatullah.com—Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyatakan sikap terbuka terhadap rencana perdamaian yang ditawarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, namun menegaskan bahwa keputusan akhir akan diambil berdasarkan tiga pertimbangan utama: penghentian genosida di Gaza, tanggung jawab nasional Palestina, serta dukungan dari dunia Arab dan Islam.
Salah satu pimpinan Hamas, Usama Hamdan, mengatakan pihaknya mempelajari rencana tersebut dengan serius. “Ada tiga faktor yang kami pertimbangkan: menghentikan genosida di Gaza, berkonsultasi dengan faksi-faksi Palestina, dan mempertimbangkan dukungan Arab dan Islam,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Hamdan menambahkan bahwa Hamas menyambut baik semua upaya internasional, termasuk inisiatif dari Trump. “Kami siap melakukan perundingan langsung untuk pertukaran tawanan dan mencapai kesepakatan yang menghentikan agresi, menarik pasukan Israel, serta memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan,” katanya dalam wawancara dengan TV al-‘Arabī, Jumat, (3/10/2025).
Penolakan Pasukan Asing dan Pengelolaan Gaza
Menanggapi rencana yang mencakup kemungkinan kehadiran pasukan internasional di Gaza, Hamdan menyampaikan penolakan tegas. “Masuknya pasukan asing atau administrasi asing di Gaza tidak dapat diterima oleh rakyat Palestina, baik oleh Hamas maupun kelompok lainnya,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Hamas mendukung pembentukan otoritas nasional Palestina independen yang dikelola oleh tokoh-tokoh independen dan bekerja sama dengan Otoritas Palestina. Menurut Hamdan, langkah ini telah menjadi kesepakatan nasional sejak tahun lalu dan mendapat dukungan dari negara-negara Arab dan Islam.
Ia juga menegaskan bahwa masa depan Palestina tidak bisa diputuskan sepihak. “Isu-isu seperti pembentukan negara dan masa depan senjata perlawanan harus dibahas secara nasional. Ketika negara Palestina berdiri, senjata perlawanan akan menjadi senjata negara yang melindungi rakyatnya,” kata Hamdan.
Proses Pertukaran Tawanan dan Jaminan Amerika Serikat
Terkait klausul rencana yang menyebut pembebasan tawanan dalam waktu 72 jam setelah persetujuan Hamas, Hamdan menilai batas waktu itu tidak realistis. “Kami serius untuk menyelesaikan ini secepat mungkin, tetapi perlu koordinasi di lapangan dan mungkin membutuhkan waktu lebih dari 72 jam,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pembebasan tawanan harus dilakukan dengan kesepakatan detail mengenai jumlah dan urutan pembebasan. “Ini bukan sekadar angka, tapi juga menyangkut nyawa manusia dan kondisi di lapangan,” katanya.
Hamdan menambahkan, keberhasilan kesepakatan membutuhkan jaminan dari Amerika Serikat agar Israel benar-benar mematuhi setiap poin yang disepakati. “Rencana ini tidak akan berarti tanpa jaminan. Pemerintah AS harus memastikan Israel menghormati kesepakatan,” ujarnya.
Peran Mediator dan Bantuan Kemanusiaan
Hamdan memuji peran Qatar dan Mesir yang menjadi mediator utama dalam perundingan. “Peran mereka sangat penting dalam mencapai formula yang bisa mengakhiri agresi di Gaza,” katanya. Ia berharap kedua negara tersebut terus berperan dalam implementasi kesepakatan, termasuk pemantauan jaminan, rekonstruksi Gaza, dan pelaksanaan keputusan KTT Arab-Islam.
Terkait mekanisme bantuan kemanusiaan, Hamdan menyatakan bahwa Hamas tidak keberatan dengan mekanisme yang diusulkan, karena serupa dengan kesepakatan pada Januari lalu. Namun, ia menegaskan pentingnya bantuan darurat segera setelah gencatan senjata diberlakukan. “Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan dan medis segera, terutama karena banyak rumah sakit di Gaza telah hancur,” katanya.
Hamas Tegaskan Tetap Menjadi Bagian dari Palestina
Hamdan membantah tuduhan bahwa kesepakatan ini bertujuan menyingkirkan Hamas dari peran politik dan militer di Gaza. “Hamas adalah bagian asli dari rakyat Palestina. Penjajahan pernah mencoba menyingkirkan Fatah dan kelompok lain, dan gagal — mereka juga tidak akan berhasil menyingkirkan kami,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perlawanan adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan Palestina. “Dari Revolusi al-Qassam hingga Fatah dan Hamas — semua adalah kesinambungan alami perjuangan rakyat Palestina,” katanya.
Menutup wawancara, Hamdan berharap Amerika Serikat memberi respons positif terhadap sikap konstruktif Hamas. “Yang tepat saat ini adalah respons positif yang seimbang dengan sikap positif Hamas terhadap rencana Presiden Trump,” ujarnya.*




