Hidayatullah.com—Sebuah analisis yang diterbitkan oleh harian ‘Israel’ Haaretz menyatakan bahwa perang dua tahun di Gaza tidak menghasilkan kemenangan strategis bagi ‘Israel’, sementara Hamas justru keluar dari konflik dalam kondisi tetap utuh dan solid.
Menurut kolumnis politik Haaretz, Haim Levinson, ‘Israel’ gagal mencapai tujuannya untuk menghancurkan Hamas, sementara gerakan perlawanan Palestina itu berhasil mempertahankan struktur organisasinya, membebaskan tahanan, dan mengembalikan isu Palestina ke panggung dunia internasional.
“Sampai hari terakhir perang, Hamas tetap mempertahankan hierarki politik dan militernya di Gaza. Tidak ada perpecahan internal, tidak ada yang menyerah atau menjual tawanan ‘Israel’ demi uang,” tulis Levinson dalam analisis yang dirilis Jumat (10/10/2025).
Struktur Hamas Tetap Kokoh
Menurut laporan tersebut, meski dua tahun berada di bawah kepungan, gempuran, dan blokade, tidak ada faksi dalam Hamas yang membelot atau bernegosiasi secara independen dengan ‘Israel’.
Kondisi itu, menurut Haaretz, menandakan “keteguhan struktur organisasi dan loyalitas luar biasa di dalam tubuh perlawanan” yang membuat ‘Israel’ gagal memecah barisan mereka.
Levinson menilai bahwa Hamas tetap akan menjadi aktor utama dalam masa depan Gaza, menepis kemungkinan bahwa kelompok-kelompok kecil pro-’Israel’ di Gaza dapat bertahan begitu pasukan ‘Israel’ mundur.
Kemenangan Politik Yahya Sinwar
Tulisan di Haaretz menyoroti dua “keberhasilan besar” Hamas, terutama di bawah kepemimpinan Yahya Sinwar, pemimpin politik gerakan itu di Gaza.
Pertama, Sinwar berhasil mengembalikan isu Palestina ke pusat perhatian global setelah selama bertahun-tahun pemerintahan Benjamin Netanyahu berusaha menyingkirkannya dari agenda internasional melalui kebijakan normalisasi dengan negara-negara Arab.
“Yahya Sinwar memahami bahasa politik internasional lebih baik dari Netanyahu. Sementara Netanyahu sibuk menuduh negara Palestina sebagai hadiah bagi terorisme, Sinwar justru membaca ulang opini publik global dan mengubahnya menjadi dukungan bagi Palestina,” tulis Levinson.
Kedua, keberhasilan Hamas dalam membebaskan ratusan tahanan Palestina melalui kesepakatan pertukaran tawanan, disebut Haaretz sebagai “pukulan telak bagi otoritas Palestina” yang selama ini dinilai tidak mampu memperjuangkan nasib rakyatnya meski bekerja sama dengan ‘Israel’ secara keamanan.
“Bagi rakyat Palestina, Hamas—bukan Otoritas Palestina—yang berhasil memulangkan anak-anak mereka dari penjara ‘Israel’. Itulah sumber legitimasi sebenarnya,” tulis Levinson.
Pesan Kuat Bagi Dunia dan ‘Israel’
Dalam analisanya, Haaretz menilai pesan yang disampaikan Hamas melalui perang ini sangat jelas: “Seranglah, bertahanlah, dan bahkan jika dijatuhi seratus hukuman seumur hidup—suatu hari kami akan membebaskanmu.”
Harian itu juga menyebut bahwa Hamas telah mengubah persepsi dunia, dari kelompok tertuduh menjadi simbol perlawanan rakyat yang menghadapi genosida.
Sementara di sisi lain, ‘Israel’ kini “terjebak dalam isolasi diplomatik dan tekanan hukum internasional,” termasuk ancaman tuntutan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu dan pejabat militernya.
‘Israel’ di bawah Netanyahu bukan lagi negara korban, melainkan negara yang dikepung secara diplomatik,” tulis Levinson.
Qatar dan Realpolitik Baru di Timur Tengah
Selain Hamas, Haaretz menilai Qatar sebagai salah satu pihak paling diuntungkan dari perang ini. Negara Teluk itu, menurut Levinson, kini menjadi mediator yang tak tergantikan, memainkan peran kunci dalam setiap tahap negosiasi antara Hamas dan ‘Israel’.
“Orang bisa menuduh Qatar mendukung terorisme seribu kali, tapi dalam dunia realpolitik, semua pihak tetap harus berbicara dengannya,” tulisnya sinis.
Levinson menambahkan bahwa Qatar telah membangun kekuatan globalnya sejak 40 tahun lalu melalui diplomasi, pendidikan, dan olahraga, menjadikannya negara kecil dengan pengaruh besar di panggung internasional.
‘Israel’: Kekuatan Militer Tanpa Visi Politik
Di bagian akhir analisanya, Haaretz menyimpulkan bahwa meski ‘Israel’ memiliki keunggulan militer yang luar biasa, mereka gagal menerjemahkan kemenangan di medan tempur menjadi pencapaian politik.
‘Israel’ tetap seperti yang digambarkan oleh komandan Angkatan Udara tahun 1973, Benny Peled—sebuah desa kecil dengan angkatan udara besar,” tulis Levinson.
Dia menegaskan, “Kemenangan sejati bukan hanya tentang menghancurkan musuh, tetapi tentang menciptakan masa depan.” Dan menurut Haaretz, masa depan Gaza kini justru ditentukan oleh perlawanan Palestina yang masih berdiri tegak di bawah bendera Hamas.*




