Hidayatullah.com—Tiga faksi utama perlawanan Palestina — Hamas, Jihad Islam, dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (FPLP) — mengeluarkan pernyataan bersama pada Jumat malam, bertepatan dengan pengumuman tahap pertama kesepakatan penghentian perang di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya, ketiga faksi menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan “pencapaian nasional penting setelah perundingan maraton yang dijalani oleh faksi-faksi Palestina.”
Penolakan terhadap “Perwalian Asing” atas Gaza
Faksi-faksi tersebut menegaskan penolakan mutlak terhadap setiap bentuk intervensi luar dalam urusan Gaza, dengan menekankan bahwa pengelolaan wilayah tersebut adalah urusan internal Palestina.
“Kami menegaskan penolakan kami yang tegas terhadap segala bentuk perwalian asing, dan kami menegaskan bahwa penentuan bentuk pengelolaan Jalur Gaza serta dasar kerja lembaga-lembaganya merupakan urusan internal Palestina yang ditentukan bersama oleh komponen nasional rakyat kami,” bunyi pernyataan itu.
Namun, mereka juga menyatakan keterbukaan terhadap dukungan Arab dan internasional di bidang rekonstruksi dan pembangunan pascaperang.
“Kami siap memanfaatkan partisipasi Arab dan internasional dalam bidang rekonstruksi, pemulihan, dan dukungan pembangunan, demi memperkuat kehidupan yang layak bagi rakyat kami dan menjaga hak-hak mereka di tanahnya,” lanjut pernyataan itu.
Simbol Keteguhan Rakyat
Faksi-faksi tersebut menyampaikan penghormatan kepada rakyat Palestina, khususnya penduduk Jalur Gaza, atas ketabahan mereka menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “kejahatan paling biadab dari pendudukan Zionis.”
Mereka menegaskan bahwa keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi pembantaian dan kehancuran “merupakan simbol nyata dari kehendak rakyat Palestina yang tidak dapat dikalahkan.”
Dalam pernyataan tersebut juga disampaikan penghormatan kepada para pejuang perlawanan, tenaga medis, tim penyelamat, dan jurnalis.
“Keteguhan mereka menggagalkan rencana pemindahan dan pengusiran, dan mengabadikan pelajaran dalam keteguhan yang akan tetap terukir di halaman paling gemilang sejarah Palestina,” tulis pernyataan itu.
Mereka menggambarkan pemandangan kembalinya pengungsi ke Kota Gaza melalui jalan-jalan yang hancur sebagai “perwujudan kehendak rakyat yang menolak pengusiran paksa dan bersikeras hidup di atas tanahnya.”
“Perlawanan berdiri tegak di antara reruntuhan, mengguncang moral musuh, dan menimbulkan kerugian besar di pihaknya,” tambah pernyataan bersama itu.
Apresiasi terhadap Dukungan Regional dan Upaya Mediasi
Ketiga faksi tersebut juga menyampaikan salam kepada “front-front pendukung di Yaman, Lebanon, Republik Islam Iran, dan Irak,” sambil menilai peran mereka sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perjuangan Palestina.
Mereka juga menyampaikan apresiasi atas “peran penting Mesir, Qatar, dan Turki dalam menyukseskan kesepakatan,” serta menyerukan kepada para mediator “untuk terus menekan pihak pendudukan agar mematuhi seluruh butir perjanjian.”
Dukungan Global dan Isolasi ‘Israel’
Dalam pernyataan itu, Hamas, Jihad Islam, dan FPLP memuji gelombang solidaritas internasional yang luas terhadap Gaza, dengan menyebutnya sebagai bukti bahwa “isu Palestina adalah isu kemanusiaan dan politik global.”
Mereka menambahkan bahwa “pendudukan kini telah menjadi entitas pelanggar hukum yang semakin terisolasi di dunia.”
Ketiga faksi menyatakan bahwa kesepakatan terbaru ini “mewakili kegagalan politik dan keamanan bagi rencana pendudukan,” serta merupakan “langkah penting menuju penghentian total perang kriminal, pengakhiran agresi terhadap Gaza, penarikan pasukan, dan pencabutan blokade.”
Tahanan dan Rekonsiliasi Nasional
Dalam menjelaskan proses negosiasi, faksi-faksi tersebut menegaskan bahwa mereka telah “menjalani proses negosiasi dengan tanggung jawab nasional yang tinggi meskipun menghadapi keberpihakan terhadap pendudukan.”
Mereka menyebut bahwa “pelaksanaan kesepakatan masih memerlukan kewaspadaan nasional dan pemantauan yang cermat untuk memastikan keberhasilannya.”
Soal para tahanan, mereka menegaskan bahwa upaya besar telah dilakukan untuk membebaskan semua tahanan, khususnya para pemimpin gerakan nasional yang masih mendekam di penjara-penjara ‘Israel’.
“Pendudukan telah menggagalkan pembebasan sejumlah besar tahanan, namun kami menegaskan bahwa isu para tahanan akan tetap menjadi prioritas nasional kami,” tegas pernyataan itu.
Ketiga faksi juga menyerukan peningkatan solidaritas sosial di Gaza, bantuan kepada keluarga terdampak, serta memperkuat kerja sama antara faksi dan lembaga lokal maupun internasional untuk memperkokoh ketahanan internal.
Mereka kembali menyerukan “persatuan nasional dan dimulainya jalur politik nasional terpadu melalui pertemuan komprehensif yang diprakarsai oleh Mesir,” guna menyatukan posisi Palestina dan membangun kembali lembaga nasional di atas dasar kemitraan dan transparansi.
Komitmen terhadap Perlawanan dan Hak Nasional
Di akhir pernyataannya, Hamas, Jihad Islam, dan Front Populer menegaskan tekad untuk “melanjutkan perlawanan dalam semua bentuknya hingga terwujudnya seluruh hak nasional rakyat Palestina, termasuk penghapusan pendudukan, hak menentukan nasib sendiri, dan pendirian negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.”
Sementara itu, situs Axios melaporkan pada Jumat bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggelar KTT para pemimpin dunia tentang Gaza selama kunjungannya ke Mesir pekan depan, yang bertujuan menghimpun dukungan internasional bagi rencana perdamaian baru di wilayah tersebut.
Laporan itu menyebut, KTT tersebut dapat “menggalang dukungan global tambahan untuk rencana Trump bagi perdamaian di Gaza,” di tengah berlanjutnya pembahasan isu pemerintahan, keamanan, dan rekonstruksi pascaperang.
Pada hari yang sama, ribuan warga Palestina kembali ke wilayah utara Jalur Gaza yang hancur parah, bertepatan dengan berlakunya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Perjanjian tersebut menimbulkan harapan baru untuk mengakhiri perang dua tahun antara ‘Israel’ dan Hamas, yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan memaksa sekitar 90 persen dari dua juta penduduk Gaza mengungsi berulang kali.*




