Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

Ahmad
Terakhir diupdate: 26 Desember 2025 17:51 5:51 pm
Ahmad
Dipublikasikan 26 Desember 2025 17:50
Bagikan
Bagikan

Sosok Mas Jazir menunjukkan bahwa keteguhan akidah Islam, keberanian intelektual, dan kecintaan pada Pancasila dapat berjalan serasi dalam menjaga umat sekaligus merawat keutuhan bangsa di tengah badai konflik dan stigma global.

Oleh: Dzikrullah W. Pramudya

Masjid Hijau dan Partai Merah

Hidayatullah.com | BAGIAN ini susah untuk ditulis, bukan karena soal aman atau tidaknya, tapi justru karena sangat multiversal-nya pergerakan Mas Jazir antara Islam yang Mahaluas, Nasionalisme dan Sosialisme-omunisme.

Beliau hidup di Jogokariyan yang di tahun 1960-an adalah kampung merah alias stronghold-nya pendukung PKI. Bahkan  diceritakan, sering di Jogokariyan digelar lakon tradisional dengan judul sejenis “Matine Gusti Allah” (Matinya Tuhan Allah). Pelakonnya para aktivis Pemuda Rakyat, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang semua underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca Juga

Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

Ikhwan di Masjid Jogokariyan pasti punya riwayat lebih rinci tentang bagaimana Mas Jazir tumbuh sejak remaja sampai jadi pemuda yang digembleng memiliki aqidah dan fikrah yang tangguh di tempat seperti itu. Penulis hanya kebagian bertemu Mas Jazir yang sudah matang dan kokoh.

Kematangan dan kekokohan itu biasanya diuji di saat api berkobar hebat. Tahun 2001, api aftermath pergolakan politik Indonesia masih belum padam. Ambon membara. Tual hangus. Poso mendidih.

Darah kaum Muslimin dan Kristen tumpah. Banyak yang sadar, bahwa ini semua kerjaan tangan-tangan siluman yang puluhan tahun sebelumnya berkuasa di negeri ini, dan sangat terlatih memperpanjang kekuasaan dengan membakar titik-titik sensitif bangsa ini.

Tapi di saat yang sama, bagi kaum Muslimin, membela darah dan nyawa saudara pun suatu ujian yang harus dijawab.

Tahun-tahun itu, bangsa kita dicekik oleh dilemma yang berat, antara membela keluarga seagama yang dibantai dan mempertahankan keutuhan Indonesia rumah bersama semua orang yang sama-sama kita cintai sebagai warisan para mujahidin dan syuhada.

Penulis bolak balik ke Jogokariyan dan menyaksikan bagaimana Mas Jazir menjalankan peran alamiahnya sebagai pemimpin anak-anak muda aktivis Muslim sekaligus sebagai pemikir Nasionalis antara tahun 1999 sampai 2004.

Di antara peristiwa yang paling menggambarkan posisi beliau itu terjadi di sekitar tahun 2002. Paginya kami ngobrol, sorenya penulis diajak menemani beliau berceramah di depan pengurus dan kader-kader PDIP Bantul, malam harinya mendatangi rumah seorang kader Gerakan Pemuda Ka’bah-nya PPP yang dibakar massa PDIP. Kocak tapi menyedihkan.

Waktu itu, “War on Terror” yang sedang jadi mainan Presiden USA George W. Bush dan sekondannya  sedang laris-larisnya menjadi industri global. Mulai dari produksi dan marketing alat perang  yang meningkat drastis, lewat pengkondisian koalisi multinasional “either you are with us or with the terrorists”, sampai program-program deradikalisasi, liberalisasi agama, moderasi dll yang dilatahi negeri-negeri lemah sebagai bancakan oknum-oknum bermata duitan yang menangkap peluang-peluang kucuran dollar.

Jadi, dituduh fundamentalis, radikal itu sama dengan dituduh teroris. Alhamdulillah, sekarang jualan itu tak laku. Meski rasa-rasanya sedang ada yang mau coba buka lapak lagi. Doakan bangkrut sebelum dibuka.

Kalau Iya, Kenapa?

Jadi di tahun 2002, di teras rumah yang sama, Mas Jazir bercerita sambil menyuguhi teh nasgitel, “Beberapa hari lalu seorang wartawan Swedia kesini mewawancarai saya, mencecar saya: ‘Kami dapat banyak informasi bahwa Anda ini salah satu simpul fundamentalisme dan kekerasan agama di Yogyakarta. Apa benar?”

Khayalkan, di tahun-tahun itu, kalau seorang Ketua Ormas Islam ditanya begitu, kemungkinan besar akan membantah dan berusaha menjawab dengan narasi-narasi ‘moderat’, ‘inklusif’, dan ‘toleran’.

Jawaban Mas Jazir bikin penulis melongo lalu kami ngakak berdua, “Mas jawab apa?”

“Saya bilang, kalau iya, memangnya kenapa?” kata Mas Jazir sambil mengunyah kacang dari toples di depannya.

Gubrak!

Setelah tawa kami mereda, penulis bertanya lagi, “Lalu dia bilang apa?”

Mas Jazir, “Saya nggak peduli dia bilang apa. Wong apa pun jawaban kita pasti dia pakai memojokkan umat Islam kok.”

Mas Jazir melanjutkan, “Dia (wartawan Swedia itu) terus mendesak, apa benar Anda mengirim anak-anak muda berjihad ke Ambon? Apa benar Anda ingin melaksanakan syariat Islam di Indonesia? Apa benar menurut Anda Pancasila harus di-Islam-kan…?”

Mas Jazir, “Iya benar, saya mengirim anak-anak muda ke Ambon. Memangnya kenapa?”

“Iya benar, Syariat Islam sudah ada di Indonesia sebelum Republik ini berdiri dan masih terus berjalan bahkan menjadi bagian dari dasar negara ini. Anda tahu nggak, Pancasila itu isinya syariat Islam semua? Jadi Pancasila tidak perlu di-Islam-kan, memang landasan pemikiran Pancasila itu nilai-nilai Islam.”

Wartawan Swedia itu mencecar lagi, “Anda fundamentalis ya?”

Mas Jazir, “Kalau iya kenapa? Anda maunya kami jadi Muslimin yang tidak keras, lembek, supaya mudah ditindas dan dibunuhi kan?”

Jawaban-jawaban itu bisa ditiru, bunyi dan kata-katanya, tapi tidak getarannya. Mas Jazir menjawab itu dengan logat Jawa, tapi saya bayangkan, jawaban itu wujud dari kokohnya batu karang Iman Akal merdeka, yang akan membuat lidah-lidah jahil kelu dan akal-akal terjajah macet.

Sorenya penulis diajaknya ke Bantul. “Acara apa Mas?” tanyaku.

“PDIP Bantul minta saya ceramah tentang Pancasila dan Warisan Pemikiran Bung Karno,” jawabnya santai.

Di situlah pertama kalinya saya mendengar orang memanggilnya “Kiai”, dan pertama kalinya saya menyaksikan Mas Jazir mengorasikan pidato-pidato Bung Karno sampai titik komanya.

Belakangan baru saya tahu, Mas Jazir hafal tidak kurang dari 16 pidato Presiden Pertama RI itu dari zaman sebelum kemerdekaan sampai sesudahnya.

Ibaratnya Al-Quran, beliau “pemegang sanad” pemikiran Bung Karno sampai ke makhraj, tajwid dan nada-iramanya.

Tak heran kelak Mas Jazir diangkat jadi Tim Ahli di Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada. Asli.

Rumah Kader Dibakar

Pulang dari Bantul pas adzan maghrib. Baru selesai solat, dua orang pemuda mendatangi beliau, tenang tapi agak tegang, berbisik, “Mas, rumahnya Kang …. (tidak begitu jelas namanya) wis diobong… (sudah dibakar).”

Wajah Mas Jazir tidak berubah sama sekali. Seakan itu peristiwa yang sudah dijadualkan dalam perkiraannya. “Cahe piye.. (orangnya bagaimana)?” tanyanya.

“Selamet, keluarganya ngungsi”

Sejak Reformasi 1998, Pemilu 1999, dan konflik Ambon berkobar Idul Fitri 1999, Indonesia memang tegang. Percikan sedikit bisa meledak. Malam itu saya diajak Mas Jazir berjalan kaki sekitar 1 kilometer dari Jogokariyan mendatangi rumah salah satu pemuda binaannya, tokoh Gerakan Pemuda Ka’bah ubderbouw PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang merupakan fusi 4 partai Islam, Parmusi (kelanjutan Masyumi), NU, Partai Syarikat Islam Indonesia dan Partai Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di tahun 1973.

Secara alamiah lawan dari GPK adalah pemuda PDIP fusi dari partai-partai Nasionalis, Soekarnois, Katolik, Kristen dan kelak anak keturunan PKI. Di Jogja tawuran dan pembakaran antar keduanya biasa terjadi di masa itu. Apa lagi konflik Ambon menambah panjang faktor ketegangan.

Belakangan kalau dipikir-pikir, satu-satunya yang beruntung dari perseteruan itu ya tangan-tangan siluman yang sama, yang tega menggunakan konflik antarwarga itu sebagai alat menekan siapapun yang mendapat jabatan publik resmi, agar manut pada agenda-agendanya.

Rumah itu masih berdiri tembok dan atapnya, tapi hangus total, tak tersisa dalamnya. Ada garis polisi, tapi Mas Jazir menemui pemilik rumah. Seorang ayah muda yang bertubuh langsing tapi kekar, wajahnya dingin. Tidak kelihatan sedih sama sekali. Hanya terdengar Assalaamu’alaykum, tak ada jabat tangan. Keduanya, penulis dan beberapa pemuda masuk ke dalam rumah, meski ada garis polisi. Tak ada petugas berseragam, tapi di dekat rumah itu ada dua tiga orang petugas reserse. Isi rumah basah siraman pemadam, tapi sudah gosong semua.

Mas Jazir hanya memastikan keluarga si Pemilik rumah tidak cidera, menepuk pundak Kang … tadi, lalu mengajak saya pergi. Sepanjang jalan kembali ke Jogokariyan kami berdua hanya diam. 

Wartawan Australia

Tahun 2004, penulis dan istri mendapat amanah dari John Wallace, seorang wartawan senior Australia, untuk menjalankan sebuah program tour berjudul “Journey into Islam in Indonesia”.

John itu Direktur Eksekutif APJC (Asia Pacific Journalism Center), pernah jadi coach di The Jakarta Post sebelum reformasi. Dia meminta kami mengatur perjalanan 10 wartawan Australia mengenal lembaga, organisasi, pesantren dan tokoh-tokoh Islam.

Dengan bus kita  mulai dari Masjid Ampel Surabaya berakhir di Masjid Istiqlal Jakarta. Di Gontor bertemu KH Syukri Zarkasyi, di Bandung bertemu Aa Gym, kami ajak juga mereka ke Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, di Jogja bertemu Mas Jazir.

Di depan para wartawan itu, Mas Jazir menjelaskan butir-butir pemikiran Islam dalam Pancasila sebagai rumusan yang disepakati Para Ulama dan tokoh bangsa ini, sehingga lebih dari 300 suku bangsa Indonesia di belasan ribu pulau dan laut yang sangat luas ini, dan berbagai penganut agama, sepakat untuk bersatu dalam sebuah republik, bukan kerajaan.

Pesan inti yang disampaikan Mas Jazir kepada para wartawan itu, di Indonesia bisa terjadi Konflik Ambon, Bom Bali, dan lain-lain. Tapi jauh di lubuk pikiran dan dasar hati bangsa Indonesia, “Kami meyakini bahwa bangsa dan negeri ini adalah amanah Allah yang harus dijaga dengan ketaatan kami kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dengan Musyawarah yang melibatkan seluruh anak bangsa.”

Sebagian wartawan itu merasa terbuka wawasannya tentang Islam dan Muslimin Indonesia. Beberapa diantara tetap negatif.

Penulis adalah wartawan dan guru ngaji

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidah IslamJazir ASPMasjid Jogokariyanpancasilastigmaumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mantan Bos Mafia Australia Tembus Titik Paling Gelap Sebelum Bertemu Islam
Tulisan selanjutnya Hutang Barat terhadap Islam: Andalusia, Ilmu, dan Ingatan yang Dilupakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

perang skala penuh
Berita

Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober

Berita
26 Juni 2026 15:27
Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

Terbaru

  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?