Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

Mahmud
Terakhir diupdate: 18 Maret 2026 14:00 2:00 pm
Mahmud
Dipublikasikan 18 Maret 2026 13:00
Bagikan
Bagikan

Kegagalan di bulan Ramadhan berakar pada tiadanya ketakwaan batin. Mereka yang gagal adalah yang memenjarakan perutnya, namun membebaskan hawa nafsunya untuk merusak segala amalan yang telah dibangun dengan susah payah selama bulan puasa.

Hidayatullah.com | OLEH sebagian kalangan ulama saleh terdahulu (salaf saleh), bulan Ramadhan sering kali digambarkan sebagai musim panen raya atau sebuah madrasah ruhani untuk membersihkan jiwa dan meraih ampunan-Nya yang luas. Di balik keutamaan yang luar biasa ini, seorang ulama kenamaan madzhab Hanbali, Ibnu Rajab dalam mahakaryanya “Lathā’ifu al-Ma’ārif fīmā li-Mawāsim al-‘Ām min al-Wazā’if” (158-217), memberikan peringatan terkait beberapa indikator kegagalan seseorang di bulan puasa.

Bagi Al-Hafizh Ibnu Rajab, tidak semua orang yang menahan lapar otomatis meraih kemenangan. Ada jurang besar antara “orang yang berpuasa” dengan “orang yang sekadar tidak makan”. Berdasarkan keterangan dari beliau saat membahas bulan Ramadhan dan yang terkait dengannya, berikut adalah 7 penyebab utama mengapa seseorang bisa gagal total dalam mengarungi bulan suci ini.

Pertama, Puasa “Cangkang”: Hanya Meraih Lapar dan Dahaga. Penyebab kegagalan yang paling mendasar adalah ketika seseorang hanya menjalankan kewajiban fisik namun mengabaikan ruh puasa itu sendiri. Puasa bukanlah memindahkan jam makan, melainkan menahan anggota tubuh dari dosa.Keterangan ini didasarkan atas sabda Nabi Muhammad SAW:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

Baca Juga

Jihad Santri di Era Modern
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun bagian dari puasanya hanyalah rasa lapar dan haus.” (HR. Ahmad). Mengapa ini terjadi? Karena mereka berpuasa dari hal yang halal (makan dan minum), namun tetap “berbuka” dengan hal yang haram melalui lisan dan perbuatan.  Sebagaimana diperingatkan dalam hadits:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Kedua, Merusak Pahala dengan Ghibah (Menggunjing Orang Lain). Ghibah adalah “pemutus” aliran pahala. Ibnu Rajab menceritakan kisah dua wanita di zaman Nabi SAW yang hampir mati kehausan saat berpuasa. Ketika diperintahkan untuk muntah, keluarlah darah kental dan potongan daging segar dari mulut mereka. Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَاتَيْنِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللهُ لَهُمَا، وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمَا؛ جَلَسَتْ إِحْدَاهُمَا إِلَى الْأُخْرَى، فَجَعَلَتَا يَأْكُلَانِ لُحُومَ النَّاسِ

“Sesungguhnya kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi keduanya (makan dan minum), namun berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas keduanya; salah satunya duduk bersama yang lain lalu mereka berdua memakan daging manusia (ghibah).” (HR. Ahmad)

Ketiga, Berbuka dengan Harta dan Makanan Haram. Keberkahan puasa sangat bergantung pada kehalalan apa yang masuk ke dalam tubuh. Ibnu Rajab mengingatkan bahwa doa orang yang makanannya haram sulit untuk diijabah. Ia menukil hadits tentang seseorang yang berdoa “Ya Rabbi, Ya Rabbi,” (Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku) namun:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“…sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan harta haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Bagaimana mungkin doa bisa diterima −termasuk dalam bulan Ramadhan− jika kita masih mengonsumsi barang haram? Orang seperti ini mustahil mendapat kemenangan di bulan Ramadhan.

Keempat, Terjebak dalam Adat (Kebiasaan), Bukan Ibadah. Banyak orang gagal karena mereka berpuasa hanya karena mengikuti arus sosial. Ibnu Rajab menyebutkan ada orang yang sangat malu jika ketahuan berbuka di siang hari −bahkan jika dipukul sekalipun mereka tetap bertahan− namun di saat yang sama, mereka tidak ragu melakukan zina atau mengambil harta orang lain secara zalim. Mereka berjalan di atas kebiasaan, bukan di atas tuntutan iman.

Karena itulah beliau menyarankan puasa harus didasari iman bukan sekadar tradisi: “Barangsiapa beramal sesuai dengan tuntunan iman, maka kenikmatannya justru terletak pada kesungguhannya menahan diri dari hal-hal yang disukai oleh hawa nafsunya apabila hal itu mendatangkan murka Allah. Bahkan bisa jadi ia naik ke derajat yang lebih tinggi, yaitu membenci segala sesuatu yang dibenci Allah darinya, dan menjauhinya, meskipun hal itu sesuai dengan kecenderungan jiwa manusia.”

Kelima, Menjadikan Al-Qur’an sebagai Musuh. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, namun bagi sebagian orang, Al-Qur’an justru akan menjadi penuntut (khashm) mereka di hari kiamat. Kegagalan besar adalah bagi mereka yang membaca Al-Qur’an namun mengabaikan hukum-hukumnya dan tidak mengamalkan isinya. Nabi bersabda:

يُمَثِّلُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلًا، فَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ قَدْ حَمَلَهُ فَخَالَفَ أَمْرَهُ، فَيَتَمَثَّلُ لَهُ خَصْمًا

“Al-Qur’an akan diserupakan sebagai seorang laki-laki pada hari kiamat. Didatangkanlah seseorang yang membawanya (membacanya) namun menyelisihi perintahnya, maka Al-Qur’an pun berdiri menjadi penuntut baginya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Keenam, Racun Niat: Berencana Kembali Maksiat Pasca-Lebaran. Inilah poin yang sangat krusial. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa salah satu tanda ditolaknya amalan seseorang adalah ketika ia berniat kembali pada kemaksiatan tepat setelah Ramadhan usai. Beliau mengutip perkataan Ka’ab Al-Ahbar:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَهُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ أَنَّهُ إِذَا أَفْطَرَ بَعْدَ رَمَضَانَ عَصَى رَبَّهُ، فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُودٌ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan namun hatinya membisikkan niat bahwa jika Ramadhan usai ia akan kembali bermaksiat kepada Tuhannya, maka puasanya tertolak (mardud).” Hal ini berkaitan dengan kaidah besar:

ثَوَابُ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Balasan dari keburukan adalah keburukan setelahnya.” Jika setelah Ramadhan perilaku seseorang tidak berubah atau justru kembali rusak, itu adalah indikasi nyata bahwa “obat” Ramadhan tidak bekerja pada jiwanya.

Ketujuh, Melewatkan Ampunan di Bulan Ampunan. Penyebab kegagalan yang paling tragis adalah ketika seseorang berada di bulan penuh ampunan, namun ia tidak mendapatkan ampunan tersebut hingga Ramadhan usai. Ibnu Rajab mengutip doa Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah SAW:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah (merugi besarlah) seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Tirmidzi).

Melewatkan kesempatan ini adalah kerugian yang tidak bisa diganti dengan apapun. Sebagaimana kata Qatadah:

مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيمَا سِوَاهُ

“Barangsiapa yang tidak diampuni dosanya di bulan Ramadhan, maka kapan lagi ia akan diampuni di bulan selainnya?”

Bagi Ibnu Rajab, Ramadhan bukan sekadar perlombaan menahan lapar, melainkan peperangan melawan hawa nafsu. Kegagalan di bulan ini berakar pada tiadanya ketakwaan batin. Orang yang berhasil adalah mereka yang menyambung amal saleh Ramadhan dengan amal saleh berikutnya. Sebaliknya, mereka yang gagal adalah yang memenjarakan perutnya, namun membebaskan hawa nafsunya untuk merusak segala amalan yang telah dibangun dengan susah payah sepanjang bulan puasa. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bulan puasagagalHeadlineRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Tulisan selanjutnya 200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Penjajah ‘Israel’ Bakar Kamp Pengungsian di Gaza, Lebih dari 200 Keluarga Terusir

Berita
27 Oktober 2026 14:54
Sebagian Pecahan Rudal Balistik Houthi Jatuh di Mekah
Menteri Ekstremis Zionis Terobos Masjidil Aqsha Jelang Pemilu ‘Israel’
Parlemen Turki Setujui RUU Ratifikasi Pakta Pertahanan Mekkah
Memahami Wahyu dan Kenabian: Fondasi Keyakinan Islam di Tengah Tantangan Pemikiran Barat

Terbaru

  • Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar
  • Tersangka Penembakan di Pinggiran Paris Menarget Orang Berpenampakan Muslim atau Afrika
  • Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
  • LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor
  • Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi
  • Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, UBN: Jangan Beri Panggung Pendukung Genosida
  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir
  • Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah
  • Pekerja Pelabuhan di 20 Negara akan Gelar Mogok Kerja Serentak untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

29 September 2026 12:00
Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?