Mencintai sahabat adalah bagian dari iman, sedangkan mencela mereka merusak fondasi ajaran Islam itu sendiri.
Oleh: Bambang Galih S
Hidayatullah.com | PARA sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan manusia yang juga pernah melakukan kesalahan semasa hidup dan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan kesulitan dan perjuangan mereka di jalan keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta‘ala dan Rasul-Nya—dengan segenap harta, jiwa, dan hidup mereka—maka kesalahan itu tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka persembahkan.
Banyaknya kebaikan dan amal shalih mereka tidak sebanding dengan sedikit kesalahan mereka; laksana butiran pasir di antara gunung-gunung yang menjulang, dan tetesan air di samudra.
Tidak ada seorang pun yang mampu menyamai ilmu dan amal mereka, apalagi menyusulnya; hal itu mustahil. Mereka adalah manusia pilihan dan terbaik setelah para nabi. Namun demikian, mereka bukan ma‘shum. Tidak ada yang ma‘shum selain para nabi dan malaikat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, lalu yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Umat Islam pada generasi setelahnya hingga kini, merupakan hasil didikan dan heroisme (kepahlawanan) para Sahabat. Dan para sahabat merupakan generasi terbaik dan orang terdekat Rasulullah ﷺ, yang terdidik dan tumbuh langsung dalam pembinaannya. Mereka mendengar dan menyaksikan segala hal langsung dari Rasulullah ﷺ .
Sehingga mereka ibarat menara yang terang benderang dalam hal pemahaman akan kebenaran, kelurusan aqidah, kesungguhan ibadah, kemuliaan akhlak dan kesahajaan hidup. Yang semua itu tergores dalam tinta emas sejarah peradaban Islam dan dunia. Sehingga menjadi pondasi dan ujung tombak bagi kejayaan Islam pada generasi setelahnya.
Maka ketika ada orang-orang yang membenci sahabat, dan menolak para sahabat Rasulullah, sebagaimana penganut ideologi Syi`ah. Maka artinya mereka sama saja dengan telah menolak Islam itu sendiri yang telah dibawa, dijaga dan dilanjutkan oleh para sahabat setelah Rasulullah ﷺ hingga sampai pada umat Islam saat ini.
Sahabat berasal dari kata Shaahib. Secara etimologi Shaahib memiliki arti terus menemani dan kepatuhan. Sedangkan menurut terminologi atau istilah, maknanya adalah, orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ, dalam keadaan beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan Muslim.
Para sahabat Rasulullah merupakan orang-orang yang terbaik yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, dijamin keselamatan, mendapatkan janji surga, 10 sahabat itu diantaranya disebutkan namanya dalam hadist-hadist Rasulullah, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abdurrahman bin Auf ra, Saad bin Abi Waqqash ra, Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Zubair bin Awwam ra, Thalhah bin Ubaidillah ra, Said bin Zaid ra. Sebagian lagi mengatakan 11 dengan memasukkan Bilal bin Rabbah ra.
Allah Ta‘ala berfirman:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ، فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18),
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Dia ridha kepada orang-orang yang membaiat Nabi ﷺ di bawah pohon. Sebab, Allah mengetahui keimanan dan kejujuran yang ada dalam hati mereka.
Kemudian Allah Swt menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka saat itu. Inilah kesaksian Allah Swt atas kebenaran iman mereka yang membaiat Nabi ﷺ di bawah pohon, yaitu pada Ba`iatur Ridwan. Rasulullah ﷺ, kemudian memperjelasnya dalam hadistnya, kecuali seorang munafik pemilik unta merah, yaitu al Jadd bin Qais, yang ikut bersama mereka, tetapi hakikatnya ia tidak ikut berbaiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، إِلَّا صَاحِبَ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ
“Tidak akan masuk neraka orang yang berbaiat di bawah pohon (Bai’at Ridwan), kecuali pemilik unta merah.” (HR. Muslim)
Demikian juga para sahabat Nabi Salallahu `alihi wasallam yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah (Kaum Muhajirin), meninggalkan semua kesenangan dan hartanya sebagai kesungguhan di jalan Islam.
Dan orang-orang yang menyambut di mereka di Madinah (Kaum Anshar), yang memberikan harta dan kecintaannya pada saudaranya yang datang atas dasar keimanan dan Islam. Serta banyak dalil lain yang menjelaskan tentang keutamaan para sahabat.
Allah Ta‘ala juga berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Menghina para sahabat berarti menyakiti Rasulullah ﷺ dan merusak keotentikan Islam.
Menghina dan melecehkan orang-orang yang telah dijamin oleh Allah Swt, dan dikhususkan bagi Rasulullah ﷺ, tidak diragukan akan menyakiti beliau ﷺ, dan merusak tatanan jalur periwayatan dan keotentikan Islam.
Para sahabat merupakan representasi utama bagi aqidah Islam, yang mana kaum Muslimin bersepakat menjadikannya dasar hukum setelah Rasulullah Salallahu `alihi wasallam, yaitu ijma` sahabat. Rasulullah juga telah menjamin kemurnian dan kebenaran mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat… Barang siapa di antara kalian yang hidup akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan jauhilah perkara baru (bid’ah), karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اخْتَارَنِي، وَاخْتَارَ لِي أَصْحَابًا، فَجَعَلَهُمْ أَنْصَارِي وَأَصْهَارِي، فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا
“Sesungguhnya Allah memilihku dan memilihkan bagiku para sahabat… Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima amalnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tabrani dan Al-Hakim)
Maka mencela sahabat dapat menyeret kepada kekufuran dan nifak, sedangkan mencintai mereka adalah bagian dari iman.
Imam at Tahawi, dalam kitab aqidahnya, yang merupakan salah satu kitab aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, mengatakan “Kami cinta kepada sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, namum kami tidak berlebih-lebihan dalam cinta kepada seorangpun diantara mereka, dan juga tidak berlepas diri dari seorangpun dari mereka. Kami benci kepada yang membenci mereka atau menyebut mereka selain kebaikan. Maka kami tidak menyebut-nyebut mereka kecuali dengan kebaikan”.
Ali bin Abi Thalib ra, yang diklaim kaum Syi`ah sebagai imam tertinggi mereka, ketika ditanyakan kepadanya tentang siapa orang yang paling mulia setelah Rasulullah ﷺ. “Kutanyakan kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib r.a) siapa yang paling baik setelah Rasulullah ﷺ?” Beliau menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab “Umar”. Dan aku takut jika beliau menyebut Ustman sesudahnya maka kukatakan, “Setelah itu pasti Anda”. Namun beliau menjawab,”Aku hanyalah salah seorang dari kaum Muslimin” (HR.Bukhari dan Ahmad).
Ali bin Abi Thalib ra, juga mengancam akan mencambuk siapa saja yang melebihkan beliau atas Abu Bakar ash Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra.
Ali bin Abi Thalib tidak mungkin memusuhi tiga Khulafa Rasyidin yang dihormati dan dimuliakannya. Bahkan mereka banyak berbagi, membantu dan berjuang bersama selama hidupnya. Abu Bakar, Umar dan Utsman lah, yang mendorong Ali bin Abi Thalib, untuk menikahi Fatimah binti Rasulullah Muhammad dan mempersiapkan serta menjadi saksi atas pernikahannya.
Ali bin Abi Thalib juga menikahkan putrinya, Ummu Kultsum binti Fatimah, dengan Umar bin Khattab. Bahkan Ali bin Abi Thalib juga memberi nama anak-anaknya, dengan nama para sahabat yang dicintainya tersebut, yaitu dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman, serta anak-keturunan Ali setelahnya banyak yang menggunakan nama-nama serupa. Ali juga memuji kesalehan mereka dan berharap menjadi seperti mereka.
Maka jika kita mendengar seseorang mencela Abu Bakar dan mensifatinya dengan munafik. Maka tanyakan kepadanya, “Abu Bakar siapa yang engkau maksud?” Apakah Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib? Ataukah Abu Bakar bin Hasan bin Ali? Ataukah Abu Bakar bin Husain bin Ali? Ataukah Abu Bakar bin Musa al Kadzim? Maka tentukan “Abu Bakar” siapa yang engkau maksud? Dan tanyakan kepadanya, mengapa Imam Ahlul Bait menamai anak-anaknya dengan Abu Bakar, kecuali mereka memuliakan pemilik nama Abu Bakar yang asli.
Ketika kita mendengar seseorang melaknat “Umar”, tanyakan kepadanya “Umar siapa yang engkau maksud?” Apakah Umar bin Ali bin Abi Thalib? Ataukah Umar bin Hasan bin Ali? Ataukah Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali? ataukah Umar bin Musa al Kadzim?” Tolong tentukan “Umar siapa yang mereka maksud”. Mengapa Imam Ahlul Bait menamai anak-anaknya dengan Umar, kecuali mereka menghormati pemilik nama Umar yang asli.
Jika kita mendengar seseorang mengatakan bahwasannya “Aisyah” adalah pelacur dan syaitan penduduk api neraka, maka katakan kepadanya “Aisyah siapa yang engkau maksud?” Apakah dia adalah “Aisyah binti Ja`far ash Shadiq? ataukah “Aisyah binti Musa al Kadzim? Ataukah Aisyah binti Ali al Hadi?” Maka “Aisyah” mana yang engkau maksud? Dan tanyakan kepadanya, mengapa Imam Ahlul Bait menamai anak-anaknya dengan Aisyah, kecuali mereka menghargai dan mencintai pemilik nama Aisyah yang asli.
Orang-orang Yahudi, ketika ditanya, siapa yang terbaik dikalangan penganut agamamu? Mereka menjawab “Sahabat Nabi Musa as”. Orang-orang Nasrani ketika ditanya, siapa yang terbaik dikalangan penganut agamamu? Mereka menjawab “Sahabat Nabi Isa as”.
Namun, orang-orang Syi`ah Rafidhah ketika ditanya, siapa yang paling jahat dikalangan penganut agamamu? Mereka menjawab “Sahabat Nabi Muhammad ﷺ”. Maka dari sisi ini sangat tampak cacat logika dalam pemikiran Syi`ah. Padahal kita sangat meyakini, orang yang terbaik dan terdekat di sisi Rasulullah, yaitu para sahabat Rasulullah tanpa terkecuali.
Ketika Umar bin Khattab ra wafat, Ali bin Abi Thalib ra mendoakannya, semoga Allah Subhanahu wa ta`ala merahmatinya, lalu berkata “Sungguh, aku sangat berharap berjumpa Allah dengan membawa amal-amal seperti engkau. Demi Allah, aku yakin Allah Swt menjadikan engkau bersama kedua teman engkau; bahkan aku sering sekali mendengar Nabi ﷺ bersabda “Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Hingga Allah Subhanahu wa ta`ala mengumpulkan jasad mereka dalam satu tanah, yang kini dapat kita lihat makam Rasulullah ﷺ dan kedua sahabat tersebut berdampingan di Madinah. (Lihat biografi mereka dalam buku-buku sejarah ulama-ulama Sunni, yakni karya Imam al Hafizh Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Nihayah dan Imam al Hafizh adz Dzahabi, Taariikhul Islam).
Hasan Nasrullah (Pemimpin Syi`ah Hizbullah) pernah berkata “Kami tidak mau masuk Masjid Nabawi melewati pintu Umar bin Khattab, karena kami membencinya. Lalu dijawab oleh Syaikh Dr. Muhammad al `Arifi (Ulama Sunni, Ketua Ikatan Dai Internasional). “Semoga Allah merahmatimu wahai Umar, syaitan telah lari darimu baik ketika engkau hidup ataupun setelah engkau meninggal. Wallahu A`lam bi shawab.*
Pengasuh Pesantren Al Izzah Nunukan, Kalimantan Utara




