Hidayatullah.com— Sedikitnya 200 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, menurut juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, Selasa (17/3/2026).
Dari jumlah tersebut, sekitar 10 tentara dilaporkan mengalami luka serius, sementara lebih dari 180 lainnya telah kembali bertugas.
Kapten Hawkins menjelaskan bahwa jenis cedera yang dialami meliputi luka bakar, cedera otak traumatis (traumatic brain injury/TBI), serta luka akibat serpihan ledakan.
Menurut pejabat militer AS, sebagian besar korban disebabkan oleh serangan drone “satu arah” yang diluncurkan Iran—bagian dari gelombang serangan balasan Teheran di berbagai negara kawasan.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, juga menyatakan bahwa drone menjadi penyebab utama korban di pihak militer Amerika.
Sejauh ini, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas sejak konflik dimulai, termasuk korban dalam kecelakaan pesawat militer di Irak.
Perang dimulai pada 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap target militer Iran. Sejak itu, konflik meluas ke berbagai negara di Timur Tengah dengan serangan saling balas.
Iran siap perang panjang
Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari Iran yang secara spesifik mengonfirmasi atau membantah angka sekitar 200 tentara AS yang terluka.
Namun, pejabat Iran dan Garda Revolusi (IRGC) menegaskan bahwa mereka siap menghadapi perang berkepanjangan dan mengklaim inisiatif pertempuran kini berada di tangan Iran, bahkan menyebut tingkat keberhasilan serangan mereka tinggi.
Iran juga menegaskan serangan terhadap pangkalan AS akan terus berlanjut hingga target-target militer Amerika di kawasan menjadi “tidak berdaya,” menandakan potensi eskalasi konflik ke depan.*




