Hari raya adalah momentum untuk menjadi bagian dari lingkaran kasih sayang. Jangan biarkan harta berhenti di saku Anda saja; biarkan ia berputar, menyembuhkan luka, dan kembali kepada Anda dalam bentuk keberkahan yang tak terhingga.
Hidayatullah.com | BAYANGKAN jika Anda hanya punya satu-satunya harta berharga di tangan −sebut saja seluruh tabungan hidup− tepat beberapa hari sebelum Lebaran. Di saat semua orang sibuk memikirkan baju baru dan hidangan mewah, atau atribut hari raya lainnya, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seorang kawan yang sedang kesulitan memberi makan keluarganya.
Apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan dari kita mungkin akan memberikan “seikhlasnya” atau sekadar sisa kembalian. Uniknya, dalam sejarah tercatat sebuah anomali kedermawanan yang luar biasa.
Sebuah kisah tentang “uang panas” yang tidak mau diam, terus berpindah tangan karena setiap pemiliknya merasa ada orang lain yang lebih berhak. Inilah kisah 100 dinar yang berputar, sebuah tamparan bagi egoisme kita di hari raya.
Kisah yang memikat ini diabadikan oleh Ahmad bin Nashir ath-Thayyar dalam buku “Hayātus Salaf baina al-Qaul wa al-‘Amal” (794). Dikisahkan oleh Ya’qub bin Syaibah, ada seorang pria dari kalangan salaf menghadapi hari raya dengan simpanan 100 dinar (sekitar ratusan juta rupiah jika dikonversi hari ini). Itu adalah modal satu-satunya.
Menariknya, ketika surat dari sahabatnya datang memohon bantuan nafkah, pria ini tidak melakukan kalkulasi rumit. Ia mengirimkan seluruh dinar tersebut dalam satu kantong. Plot twist dimulai di sini. Sahabat kedua yang menerima uang itu ternyata juga menerima surat dari sahabat ketiga yang kondisinya lebih memprihatinkan. Tanpa membuka segel kantongnya, ia meneruskan 100 dinar itu.
Cerita kian menakjubkan saat sahabat ketiga, yang merasa prihatin dengan kondisi sahabat pertama (si pemilik asli), justru mengirimkan kantong dinar yang sama kembali ke rumah asalnya. 100 dinar itu melakukan perjalanan “mudik” spiritual, kembali ke tangan pertama tanpa berkurang satu keping pun.
Membedah Spirit “Ītsār”: Saat Logika Kalah oleh Cinta
Apa yang terjadi di antara ketiga sahabat ini bukanlah sekadar transaksi pinjam-meminjam, melainkan ītsār. Ini adalah kasta tertinggi dalam etika berbagi: mendahulukan orang lain di saat kita sendiri sedang “cekak”. Dalam kitab “at-Taʿrīfāt” (1983: 40) karya ‘Ali Asy-Syarif Al-Jurjani dijelaskan bahwa ītsār adalah:
أَنْ يُقَدِّمَ غَيْرَهُ عَلَى نَفْسِهِ فِي النَّفْعِ لَهُ وَالدَّفْعِ عَنْهُ، وَهُوَ النِّهَايَةُ فِي الْأُخُوَّةِ
“Mendahulukan orang lain atas dirinya sendiri, baik dalam memberi manfaat maupun menolak bahaya darinya. Itulah puncak dari persaudaraan.”
Akhlak ini pernah digambarkan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an ketika menunjukkan betapa luar biasanya persaudaraan antara sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
Hari raya seringkali menjebak kita dalam ritual pamer. Kita ingin terlihat paling makmur. Namun, kisah ini mengingatkan bahwa perayaan sejati adalah saat kita mampu memastikan tidak ada orang di sekitar kita yang merasa sendirian dalam kemiskinan. Mereka tidak memberikan recehan; mereka memberikan “jantung” dari harta mereka.
Ketakutan terbesar manusia adalah menjadi miskin setelah memberi. Ketiga pria dalam kisah ini membuktikan bahwa saat semua orang memiliki mentalitas “tangan di atas”, maka terciptalah jaring pengaman sosial yang instan. Jika Anda memberi, dan orang yang Anda beri juga memberi, maka pada akhirnya semua orang akan terjamin.
Matematika Langit: 100 – 100 = Berkah
Dalam kalkulator manusia, 100 dinar dikurangi 100 dinar hasilnya adalah nol. Pria pertama seharusnya tidak punya apa-apa untuk Lebaran. Namun, karena ia melepaskan keterikatan pada benda tersebut, Tuhan menggerakkan hati manusia lain untuk mengembalikannya ke pemilik awal.
Kisah yang memiliki sanad sahih ini −sebagaimana juga tercantum dalam kitab “Siyar A’lām an-Nubala (II/962-963)− bukan untuk mengajarkan kita agar berharap uang kembali setelah memberi, melainkan untuk menunjukkan bahwa kebaikan memiliki resonansi.
Satu tindakan tulus bisa memicu gelombang kebaikan yang lebih besar. Di akhir cerita, ketika rahasia ini terbongkar, mereka bertiga berkumpul, tertawa haru, dan membagi rata uang tersebut. Sebuah solusi kolektif yang jauh lebih indah daripada menikmatinya sendirian.
Di era digital, kita mungkin tidak lagi mengirim kantong koin emas. Tapi kita punya akses yang lebih mudah untuk “memutarkan” kebahagiaan.
Pertama, Berbagi Tanpa Tapi. Jangan menunggu sisa. Cobalah berbagi sesuatu yang sebenarnya masih kita sukai atau butuhkan.
Kedua, Peka Tanpa Diminta. Ketiga sahabat itu saling tahu kondisi masing-masing melalui rasa peduli yang mendalam. Di zaman sekarang, seringkali tetangga kita “lapar dalam diam”. Ketiga, Merayakan Kebersamaan. Hari raya adalah tentang kita, bukan aku. 100 dinar itu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang menguji siapa di antara mereka yang paling luas hatinya.
Melalui catatan emas para pendahulu ini, kita belajar bahwa hari raya adalah momentum untuk menjadi bagian dari lingkaran kasih sayang. Jangan biarkan harta berhenti di saku Anda saja; biarkan ia berputar, menyembuhkan luka, dan kembali kepada Anda dalam bentuk keberkahan yang tak terhingga.
Inilah indahnya berbagi, yang seringkali mengundang rezeki yang tidak disangka-sangka dan untuk menjaganya adalah dengan sedekah. Dalam kitab “Fayḍh al-Qadīr” (1/501) disebutkan Riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib:
اسْتَنْزِلُوا الرِّزَقَ بِالصَّدَقَةِ
“Mintalah turunnya rezeki (dari Allah Sang Maha Pemberi) dengan cara bersedekah.” Maksudnya berbagi kepada hamba-hamba-Nya yang membutuhkan. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik kepada mereka. Wajar jika rezeki Allah terus berputar bagi mereka yang suka berbagi. (MBS)




