Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Ilusi Kosmik dalam Wajah Kekuasaan

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 April 2026 08:43 8:43 am
Ahmad
Dipublikasikan 2 April 2026 08:42
Bagikan
Bagikan

Ketika manusia salah memaknai dunia, harta, kuasa, dan ambisi mudah disangka sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Oleh: Imam Nawawi

Hidayatullah.com | KATA kosmik berasal dari bahasa Yunani, kosmein, yang berarti menata atau mengatur dengan baik. Dari akar kata inilah lahir konsep kosmos, yakni tatanan yang teratur. Dalam konteks pemikiran peradaban, ada dalam tradisi Hindu/India, istilah “cosmic illusion” atau ilusi kosmik, merujuk pada konsep Maya—yakni dunia fenomenal yang menipu persepsi manusia tentang realitas sejati.

Erich Fromm dalam To Have or To Be?  (1976) membedakan manusia yang hidup dalam mode “memiliki” dengan yang hidup dalam mode “menjadi”. Orang yang hidup untuk “memiliki” akan terus mengejar benda, status, dan penguasaan, tetapi tetap kosong secara batin.

Sementara Tim Kasser dalam The High Price of Materialism menunjukkan bahwa orientasi hidup yang terlalu materialistik berkaitan dengan kecemasan, rendahnya kesejahteraan psikologis, dan hubungan sosial yang lebih buruk.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Ilusi kosmik, yaitu cara pandang yang keliru tentang bagaimana manusia menata hidup agar tampak baik, bahagia, tenteram, dan sejahtera, tetapi seluruhnya diletakkan di atas fondasi materi.

Sekilas, pandangan semacam ini tampak wajar. Banyak orang memang tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan selesai bila seseorang memiliki cukup harta, kedudukan, dan pengaruh.

Namun, di situlah ilusi itu bekerja: ia membuat manusia mengira bahwa kebahagiaan bisa diraih hanya dengan menguasai dunia lahiriah, padahal ada dimensi yang jauh lebih menentukan dalam diri manusia, yaitu jiwa.

Orang yang termakan ilusi kosmik biasanya menempatkan harta, tahta, dan syahwat sebagai pusat orientasi hidup. Ia mengejar semuanya dengan penuh tenaga, bahkan kadang dengan cara-cara yang secara batin sebenarnya ia tahu keliru.

Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi hidup dengan kejernihan nurani, melainkan digerakkan oleh hasrat untuk memiliki, menguasai, dan menang.

Di sinilah letak kesalahpahaman mendasarnya: manusia dipahami hanya sebagai makhluk jasmani. Padahal manusia bukan sekadar tubuh yang makan, tidur, bekerja, dan menikmati dunia. Ia juga memiliki ruh, hati, dan kesadaran moral.

Ketika dimensi ruhani ini diabaikan, manusia perlahan kehilangan arah. Ia mungkin tampak berhasil di mata dunia, tetapi kosong di dalam. Bahkan, dalam bahasa Al-Qur’an, manusia yang hanya memperturutkan hawa nafsu dapat jatuh pada derajat yang lebih rendah daripada hewan ternak, karena hidupnya tak lagi dipandu oleh akal sehat dan cahaya kebenaran.

Ilusi Kosmik dalam Politik Global

Ilusi kosmik tidak hanya bekerja pada level individu. Ia juga dapat menjangkiti para pemegang kekuasaan, bahkan memengaruhi arah sejarah dunia. Dalam politik global, kita sering menyaksikan bagaimana ambisi, ego, dan kepentingan kuasa dibungkus dengan narasi keamanan, perdamaian, atau kepentingan nasional.

Dalam konteks inilah serangan Amerika Serikat dan ‘Israel’ terhadap Iran dapat dibaca. Bagi banyak pihak, langkah itu bukan sekadar keputusan militer, tetapi cerminan dari cara pandang yang meyakini bahwa dominasi, tekanan, dan kekuatan bersenjata adalah jalan untuk mempertahankan pengaruh dan membangun citra kemenangan.

Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa keputusan yang lahir dari ambisi dan ilusi sering kali justru menghasilkan efek sebaliknya. Penolakan warga Amerika sendiri melalui gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” menunjukkan bahwa tidak semua orang menerima logika kuasa semacam itu.

Di mata banyak warga, tindakan semacam itu justru merugikan Amerika, memperdalam ketegangan global, dan mencederai nilai-nilai demokrasi yang selama ini diklaim dijunjung tinggi.

Jika dibaca melalui kerangka ilusi kosmik, maka tindakan menyerang pihak lain demi keuntungan politik atau citra global adalah tanda seseorang sedang terjebak dalam pandangan yang keliru.

Ia mengira bahwa kekuasaan akan semakin kokoh bila lawan ditundukkan. Padahal kenyataan sering membuktikan sebaliknya: semakin besar ambisi yang dibangun di atas ilusi, semakin besar pula kegelisahan yang mengikutinya.

Karena itu, krisis yang muncul sering kali bukan hanya krisis kebijakan, melainkan juga krisis jiwa. Seseorang bisa saja tampak kuat di depan publik, tetapi sesungguhnya rapuh dalam batin. Ia tidak tenang, tidak jernih, dan tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar maslahat dan mana yang sekadar memuaskan ego sesaat.

Buta dan Tuli Mata Hati

Dalam pandangan Al-Qur’an, kondisi seperti ini bukan semata kesalahan intelektual, tetapi juga penyakit hati. Manusia yang terlalu lama hidup dalam ilusi kosmik lambat laun akan mengalami kebutaan dan ketulian batin. Ia tidak lagi peka terhadap kebenaran, nasihat, atau peringatan. Yang menjadi ukuran utamanya hanya satu: apakah hasratnya terpenuhi atau tidak.

Ketika seseorang telah sampai pada titik ini, ia tidak lagi memandang dunia sebagai amanah, melainkan sebagai arena pemuasan diri. Kekuasaan bukan lagi sarana menegakkan keadilan, melainkan alat menundukkan orang lain. Harta bukan lagi titipan, melainkan ukuran kehormatan. Dan manusia lain tidak lagi dipandang sebagai sesama makhluk Allah, melainkan sekadar alat atau ancaman.

Di sinilah kita memahami bahwa persoalan utama sebenarnya bukan pada dunia itu sendiri. Dunia tetaplah ciptaan Allah yang bisa menjadi ladang kebaikan. Yang menjadi masalah adalah cara manusia memaknainya.

Ketika dunia dibaca dengan hawa nafsu, ia berubah menjadi jebakan. Tetapi ketika dunia dipahami dengan cahaya iman, ia menjadi jalan menuju kemuliaan.

Semua ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun. Islam tidak memaksa manusia untuk berpikir secara buta, tetapi justru mendorongnya untuk menggunakan akal, hati, dan kesadaran ruhani.

Orang yang mau berpikir jernih pada akhirnya akan mencari yang hakiki, bukan yang semu; mencari kebenaran, bukan sekadar kemenangan; dan mencari ridha Allah, bukan sekadar tepuk tangan dunia.

Karena itu, bahaya terbesar dalam hidup bukan semata kemiskinan atau kekalahan, melainkan ketika manusia tenggelam dalam ilusi kosmik—lalu mengira bahwa dunia, dengan seluruh harta, tahta, dan syahwatnya, adalah kiblat akhir kehidupan.*

Pegiat literasi

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ambisiduniahartakebahagiaankekuasaankosmikkuasa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya homoseksual Senegal Gandakan Hukuman Penjara untuk Homoseksual
Tulisan selanjutnya Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?