“Wahai dunia, apakah aku yang kau inginkan, apakah aku yang kau rayu? Jauh, jauh sekali! Pergilah bujuklah selainku. Waktumu telah habis, aku telah menceraikanmu tiga kali, tidak ada lagi rujuk bagiku kepadamu.” (Ali bin Abi Thalib)
Hidayatullah.com | JARANG sekali ditemukan sosok yang mampu memadukan keagungan kekuasaan dengan ketajaman zuhud secara menakjubkan. Di dalam sebuah riwayat yang termaktub dalam karya Ibnu Abid Dunya berjudul “Maqtalu ‘Aliy” (89/105), kita menemukan potret itu pada diri Ali bin Abi Thalib Ra.
Sebuah fragmen sejarah yang diceritakan Abdullah Al-Asadi terkait pertemuan antara Muawiyah bin Abi Sufyan dengan seorang lelaki dari Bani Kinanah bernama Dhirar bin Dhamrah.
Dhirar diminta menggambarkan sosok Ali. Sebuah permintaan yang berat, hingga Dhirar memohon untuk dimaafkan dari tugas itu. Namun, ketika desakan tak lagi bisa dihindari, meluncurlah untaian kalimat yang bukan sekadar pujian, melainkan kesaksian spiritual yang membuat musuh politiknya sekalipun bersimbah air mata.
Dhirar memulai narasinya dengan melukiskan dimensi intelektual dan fisik Ali. Beliau digambarkan sebagai sosok yang memiliki pandangan jauh ke depan dan kekuatan fisik yang hebat. Meski demikian, kekuatan itu bukanlah untuk menindas. Ali adalah pribadi yang jika berbicara selalu memutus perkara dengan keadilan, dan dari setiap sisi dirinya, ilmu serta hikmah seakan memancar tanpa henti.
Menariknya, di balik kebesaran namanya, Ali justru merasa asing dengan gemerlap dunia. Dhirar menyebutkan: “Beliau merasa asing (gerah) dengan dunia dan keindahannya, namun merasa tenang dalam kegelapan malam.”
Bagi Ali, malam bukan sekadar waktu istirahat, melainkan panggung komunikasi vertikal yang intim dengan Allah. Beliau adalah sosok yang banyak menangis karena penyesalan dan panjang pemikirannya. Dalam keseharian, ia memilih pakaian yang pendek (sederhana) dan makanan yang kasar. Tidak ada sekat protokoler yang kaku; ia duduk bersama rakyatnya, menjawab jika ditanya, dan memulai salam jika bertemu. Namun, wibawanya begitu besar sehingga orang-orang segan untuk berbicara lebih dulu karena rasa hormat yang mendalam.
Puncak dari narasi Dhirar adalah sebuah kesaksian yang sangat dramatis. Ia menceritakan bagaimana ia melihat Ali di tengah malam yang pekat, saat bintang-bintang telah tenggelam. Di dalam mihrabnya, Ali berdiri memegang janggutnya, gelisah layaknya orang yang terkena sengatan kalajengking, dan menangis dengan kesedihan yang menyayat.
Di sanalah, kalimat legendaris itu meluncur:
يَا دُنْيَا إِيَّايَ أَرَدْتِ أَمْ بِي تَشَوَّقْتِ؟ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، غُرِّي غَيْرِي، لَا حَانَ حِينُكِ، قَدْ بَتَتُّكِ ثَلَاثًا، لَا رَجْعَةَ لِي فِيكِ
“Wahai dunia, apakah aku yang kau inginkan, apakah aku yang kau rayu? Jauh, jauh sekali! Pergilah bujuklah selainku. Waktumu telah habis, aku telah menceraikanmu tiga kali, tidak ada lagi rujuk bagiku kepadamu.”
Kalimat ini bukan sekadar retorika. Ali sedang melakukan “talak tiga” kepada dunia. Beliau menegaskan bahwa dunia tidak akan pernah bisa kembali padanya. Mengapa? Karena bagi Ali, umur dunia itu pendek, kemewahannya hina, dan risikonya sangat besar. Sebuah kesadaran eksistensial bahwa dunia hanyalah jembatan, bukan tujuan. Ia menutup rintihannya dengan keluhan yang menggetarkan jiwa: “Aah… betapa sedikitnya bekal, betapa jauhnya perjalanan, dan betapa sunyinya jalan yang harus ditempuh.”
Dhirar menekankan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pelindung bagi mereka yang terpinggirkan. Beliau mencintai orang-orang miskin dan memuliakan ahli agama. Di bawah kepemimpinannya, orang yang kuat tidak akan pernah bisa memanfaatkan kebatilan untuk kepentingannya, dan orang yang lemah tidak akan pernah berputus asa dari keadilannya.
Prinsip keadilan ini adalah manifestasi dari penolakannya terhadap dunia. Karena ia tidak menginginkan apa pun dari dunia, maka ia tidak bisa disuap oleh kepentingan atau ditekan oleh kekuasaan. Senyumnya diibaratkan seperti butiran mutiara yang tersusun rapi; indah namun penuh wibawa.
Mendengar penuturan Dhirar yang begitu jujur dan menyentuh, Muawiyah bin Abi Sufyan Ra. tak kuasa menahan tangis. Bukan hanya beliau, orang-orang di sekitarnya pun turut terisak. Muawiyah kemudian berucap: “Semoga Allah merahmati Abu Hasan (Ali). Demi Allah, dia memang seperti yang kau katakan.”
Muawiyah kemudian bertanya kepada Dhirar, “Lantas, bagaimana kesedihanmu atas kehilangannya?” Dhirar menjawab dengan perumpamaan yang sangat pedih: “Kesedihanku seperti kesedihan seorang ibu yang anak tunggalnya disembelih di pangkuannya. Air matanya tidak akan pernah mengering, dan rasa sedihnya tidak akan pernah sirna.”
Pesan “Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!” adalah sebuah tamparan bagi manusia era kontemporer yang seringkali terjebak dalam perlombaan materi tanpa batas. Ali bin Abi Thalib mengajarkan bahwa integritas hanya bisa dicapai ketika seseorang sudah selesai dengan urusan dunianya.
Ketika seseorang tidak lagi bisa “dibeli” oleh dunia, maka ia menjadi manusia merdeka. Ia menjadi pribadi yang ba’īdul mada : memiliki visi yang menembus batas-batas materi hingga ke ufuk akhirat.
Sejarah selalu menyimpan Pelajaran-pelajaran berharga; di tengah hiruk-pikuk perebutan kekuasaan dan harta, pernah ada seorang pemimpin yang memilih makanan kasar dan pakaian sederhana, yang menangis di kegelapan malam karena takut akan tanggung jawabnya, dan yang dengan tegas mengusir rayuan dunia demi sebuah perjalanan panjang yang lebih abadi.
“Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!” adalah seruan kebebasan bagi setiap jiwa yang ingin pulang dengan membawa bekal yang cukup menuju ridha Allah, menyongsong kehidupan abadi di akhirat; dan selama nyawa masih dikandung badan, tiada kata terlambat. (MBS)




