“Kasus-kasus pelecehan oleh figur otoritas agama harus menjadi alarm keras. Jangan biarkan jubah-jubah kesucian terus dijadikan tameng pelindung oleh para serigala berbulu domba.”
Hidayatullah.com | MENDENGAR berita tentang pelecehan dan kekerasan seksual seringkali menyisakan duka yang mendalam. Apa lagi ketika pelakunya adalah sosok yang dikenal alim, seorang pemuka agama, atau pengasuh lembaga pendidikan keagamaan. Publik seolah tak percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang fasih merapalkan ayat suci, berpakaian religius, dan mengajarkan akhlak mulia, justru menjadi predator keji bagi murid-muridnya sendiri?
Realitas pahit ini memaksa kita untuk membuka mata terhadap sebuah fenomena kelam yang sebenarnya telah diwanti-wanti sejak berabad-abad lalu. Bersembunyi di balik jubah agama untuk memuaskan hawa nafsu dan mengeksploitasi sesama adalah ciri dari apa yang dalam literatur Islam disebut sebagai Ulama Sū’ (orang berilmu yang buruk atau jahat).
Imam Al-Ghazali dalam “Ihyā ‘Ulūmiddīn” (I/59) menggambarkan ulama demikian dengan ungkapan:
فَأَمَّا عُلَمَاءُ السُّوْءِ فَقَصْدُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ التَّنَعُّمُ بِالدُّنْيَا، وَالتَّوَصُّلُ إِلَى الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ عِنْدَ أَهْلِهَا
“Adapun ulama sū’ (ulama yang buruk), tujuan mereka dari (memiliki) ilmu adalah semata-mata untuk bersenang-senang dengan dunia, serta untuk meraih kedudukan dan pangkat (kehormatan) di mata penduduk dunia.”
Fenomena Serigala Berbulu Domba
Dalam banyak kasus kekerasan seksual di lingkungan keagamaan, pelaku hampir selalu memanfaatkan relasi kuasa yang timpang. Mereka memanipulasi doktrin “ketaatan pada guru”, menggunakan penampilan yang menyejukkan, dan tutur kata yang teramat lembut untuk menjerat serta menundukkan korbannya.
Fenomena mengerikan ini bukanlah hal yang mengejutkan jika kita merujuk pada sabda Rasulullah SAW tentang tanda-tanda akhir zaman. Beliau bersabda:
يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ، يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ، وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ
“Akan keluar di akhir zaman, orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Mereka memakai pakaian dari bulu domba di hadapan manusia untuk menunjukkan kelembutan. Lisan mereka lebih manis dari gula, namun hati mereka adalah hati serigala.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini meskipun dinilai lemah oleh sebagian ulama, namun bisa dijadikan sebagai kewaspadaan. Kandungannya secara akurat memotret para pelaku yang berlindung di balik “bulu domba” (simbol kesucian, zuhud, dan kelembutan) namun memiliki insting memangsa layaknya serigala. Jubah agama bukan lagi simbol ketakwaan, melainkan alat kamuflase yang sempurna untuk menutupi kebejatan moral mereka.
Peringatan Umar: Esensi Agama adalah Amanah
Reaksi masyarakat ketika kasus semacam ini terungkap seringkali bernada pembelaan yang keliru terhadap pelaku. Tidak sedikit yang menolak percaya hanya karena melihat rutinitas ibadah sang tokoh. “Tidak mungkin beliau melakukan itu, beliau kan rajin tahajud, puasanya tak pernah putus, hafal kitab suci, Pasti ini fitnah dari pembenci.” begitu dalih sebagian orang.
Di sinilah kita perlu mengingat kembali peringatan tegas dari Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendekonstruksi makna kesalehan sejati yang tidak boleh sekadar diukur dari ritual fisik semata:
لَا تَغُرَّنَّكُمْ صَلَاةُ امْرِئٍ وَلَا صِيَامُهُ، مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ صَلَّى، وَلَكِنْ لَا دِينَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Janganlah kalian tertipu oleh shalat dan puasa seseorang. Siapa yang mau, dia bisa shalat dan puasa. Akan tetapi, tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga amanah.” (Baihaqi, Syu’abu al-Īmān, IV/326)
Esensi tertinggi dari beragama adalah menjaga amanah. Seorang guru atau pemuka agama memikul amanah yang amat besar dari Tuhan dan dari orang tua murid untuk mendidik serta melindungi jiwa raga para muridnya. Ketika kehormatan seorang murid justru direnggut, maka runtuhlah nilai agamanya, tak peduli sebanyak apa rakaat shalat yang ia dirikan setiap malam.
Dampak dari pelecehan yang dilakukan oleh tokoh agama jauh lebih destruktif dibandingkan kejahatan serupa oleh masyarakat awam. Korbannya tidak hanya mengalami trauma fisik dan psikologis, tetapi berpotensi besar mengalami trauma spiritual. Rasa percaya korban terhadap agama, Tuhan, dan institusi pendidikan bisa hancur berantakan.
Terkait hal ini, Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan analogi yang sangat tajam dan menohok:
عُلَمَاءُ السُّوءِ جَلَسُوا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ يَدْعُونَ إِلَيْهَا النَّاسَ بِأَقْوَالِهِمْ، وَيَدْعُونَهُمْ إِلَى النَّارِ بِأَفْعَالِهِمْ… فَهُمْ فِي الصُّورَةِ أَدِلَّاءُ، وَفِي الْحَقِيقَةِ قُطَّاعُ طُرُقٍ
“Ulama sū’ itu duduk di depan pintu surga, mereka menyeru manusia ke surga dengan ucapan mereka, namun menyeru manusia ke neraka dengan perbuatan mereka… Secara penampilan, mereka seolah-olah adalah penunjuk jalan, namun pada hakikatnya mereka adalah pembegal jalan.” (Ibnu Qayyim, Al-Fawā’id, 85)
Para predator berjubah ini pada hakikatnya adalah “pembegal jalan” yang merampok iman umat. Mereka berpidato tentang surga dan moralitas di atas mimbar, namun di ruang tertutup, kejahatan mereka justru menjauhkan manusia dari rahmat Tuhan.
Ilmu Sebagai Alat Manipulasi
Lantas, mengapa ilmu agama yang begitu tinggi tidak mampu mencegah perbuatan nista tersebut? Hasan Al-Bashri, ulama besar dari kalangan Tabi’in, menjelaskan akar masalahnya:
الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ، فَذَاكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ، فَذَاكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ
“Ilmu itu ada dua macam: Ilmu yang menetap di dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang sekadar di lisan, maka itulah hujjah (saksi yang memberatkan) dari Allah atas anak Adam.” (Ath-Thibi, Syarh al-Misykāt, II/714).
Bagi para Ulama Sū’, ilmu tidak pernah menyentuh kalbu mereka. Ilmu itu hanya tertahan di tenggorokan, menjadi kosmetik lisan untuk meraup simpati, kekayaan, dan ketundukan total dari para pengikutnya. Pada hari penghakiman kelak, deretan gelar dan hafalan ayat itulah yang justru akan menjadi bumerang dan saksi paling memberatkan atas kejahatan mereka.
Menghadapi akhir zaman yang penuh dengan fitnah dan kepalsuan, umat Islam dituntut untuk cerdas, rasional, dan kritis. Menghormati guru dan pemuka agama adalah sebuah keharusan dalam adab menuntut ilmu, namun glorifikasi buta atau pengkultusan individu adalah sebuah kesalahan fatal. Ketaatan kepada seorang tokoh tidak boleh mematikan akal sehat dan naluri keadilan kita.
Kasus-kasus pelecehan oleh figur otoritas agama harus menjadi alarm keras. Jangan biarkan jubah-jubah kesucian terus dijadikan tameng pelindung oleh para serigala berbulu domba. Masyarakat harus berani berdiri tegak di pihak korban, karena membela kehormatan dan keadilan bagi manusia yang dizalimi jauh lebih mulia daripada sekadar menjaga reputasi palsu seorang oknum penceramah. Waspadalah terhadap Ulama Sū’, karena merekalah ancaman tersembunyi yang merusak agama dari dalam. (MBS)




