Hidayatullah.com– Jumlah warga Palestina yang gugur akibat perang genosida yang dilancarkan ‘Israel’ di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 meningkat menjadi 73.223 orang, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza pada Ahad (12/7/2026).
Kementerian Kesehatan menyatakan jumlah korban luka juga bertambah menjadi 173.654 orang. Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima dua jenazah warga sipil dan merawat 11 korban luka.
Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 1.100 warga Palestina gugur, sementara 3.546 lainnya mengalami luka-luka.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouthi, mengatakan perang genosida yang dilakukan penjajah ‘Israel’ terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza telah berubah menjadi perang penghancuran kemanusiaan dan ekonomi yang berlangsung di hadapan dunia.
Dalam pernyataan persnya, Barghouthi menegaskan seluruh tindakan brutal yang dilakukan pendudukan tidak akan mampu mematahkan tekad rakyat Palestina maupun menghentikan perjuangan mereka melawan penindasan.
Menurutnya, tujuan utama perang yang dijalankan ‘Israel’ adalah melakukan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.
“Penjajah ‘Israel’ tidak menyembunyikan tujuan sebenarnya dalam perang ini, yaitu pembersihan etnis secara menyeluruh,” kata Barghouthi dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC).
Barghouthi juga menyoroti meningkatnya serangan para pemukim ekstremis di Tepi Barat yang, menurutnya, berlangsung dengan dukungan para pemimpin ‘Israel’ dan perlindungan tentara pendudukan.
Ia mengkritik langkah sejumlah negara Barat yang hanya menjatuhkan sanksi terbatas kepada beberapa pemukim.
Menurutnya, langkah tersebut sekadar menjadi alasan untuk menghindari pemberian sanksi yang nyata terhadap penjajah yang mendukung dan melindungi aksi kekerasan para pemukim.
Selain itu, Barghouthi menyoroti memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah Palestina. Ia mengecam perang kelaparan yang disengaja, penyiksaan terhadap para tahanan Palestina, serta berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi di penjara-penjara ‘Israel’.
Di Tepi Barat, kata Barghouthi, lebih dari 1.300 pos pemeriksaan militer dan sekitar 250 gerbang elektronik telah memutus hubungan antara kota-kota dan desa-desa Palestina sehingga wilayah tersebut berubah menjadi penjara terbuka.
Ia juga mengungkapkan lebih dari 100 komunitas Palestina di Tepi Barat mengalami pengusiran paksa. Sementara itu, lebih dari 40.000 warga terpaksa meninggalkan kamp-kamp pengungsi di Tulkarem, Nur Shams, dan Jenin.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pendudukan untuk melanjutkan tragedi Nakba 1948 dan menghapus keberadaan rakyat Palestina.
Barghouthi memperingatkan bahwa pendudukan berupaya membuat dunia terbiasa dengan kejahatan yang terus berlangsung dan memaksa rakyat Palestina hidup di bawah ketidakadilan.
Meski demikian, ia menegaskan seluruh upaya penjajah ‘Israel’ selama puluhan tahun untuk mematahkan semangat perjuangan rakyat Palestina telah gagal dan tidak akan pernah berhasil.*




