Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Sedalam Samudra Hati Mbak Ana

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 November 2011 08:24 8:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 November 2011 08:24
Bagikan
Bagikan

TERUNTUK rasa syukur kita yang tipis dan kian terkikis, saya kisahkan sebuah penggal kehidupan sederhana yang dalam. Sedalam kita memantik hikmah di belakangnya, sedalam itu pula saya harap keberkahan mengalir pada sungai kebahagiaan mereka.

Sebut saja Mbak Ana, perempuan paruh baya berputri 1 kelas 6 SD ini sudah 3 bulan menjadi ART paruh waktu di rumah saya. Mbak Ana, begitu saya menyebut nama samarannya, adalah tetangga teman sekantor suami saya. Sehingga kami merasa sedikit ada garansi tentang ART baru kami. Sebab cemas akibat ulah ART sebelumnya yang tertangkap tangan mencuri sejumlah uang belumlah sempurna hilang. Inilah kisahnya yang saya tulisa dalam bentuk cerita.

****

Gesit. Itu kesan pertama saya terhadap Mbak Ana. Beliau membereskan pekerjaan yang tidak saya limpahkan padanya. Seperti halnya mencuci, saya hanya membutuhkan tenaga Mbak Ana untuk mencuci tangan popok bayi dan pakaian kantor suami. Selebihnya bisa saya giling dengan mesin. Namun dihari pertama bekerja, betapa saya takjub mendapati pakaian di dalam mesin sudah dibereskan semua dengan tangannya. “Nggak apa, Mbak,” katanya ikhlas.

Lantai rumah pun menjadi kesat sebab tehnik mengepel yang sungguh saya tak sanggup melakukannya. Di bulan Ramadhan, saya mengingatkan Mbak Ana untuk tidak memforsir tenaga. Namun ia melakukan semua pekerjaan seperti biasa.
Hari libur yang saya beri di awal Ramadhan pun tak diambilnya. Bahkan pada 2 syawal (versi pemerintah) Mbak Ana sudah masuk. Dan terpaksa pulang sebab saya sungguh tak ingin merobek jalinan silaturahimnya dengan sanak saudara.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

“Saya tak punya saudara, Mbak,” ceritanya satu kesempatan setelah syawal. Sembari menyetrika, saya ajak ngobrol Mbak Ana yang perantauan asal Jawa Tengah.

“Suami punya saudara kandung 1 tapi sepertinya sudah tak ingin bersaudara dengan kami yang miskin ini,” lanjutnya menceritakan sang ipar yang punya jabatan pada institusi Negara di Batam ini. Pikir saya, sombong betul pejabat ini.

“Mbak dan suami punya salah apa dengan mereka?”

“Nggak tahu, Mbak. Dulunya kan rumah kami depan-belakang. Ya itupun nggak kayak saudara. Saya operasi melahirkan pun mereka nggak menjenguk. Saya tanya suami katanya dia gak pernah ada masalah dengan saudaranya itu. Tau lah, Mbak.Makanya kami mending menjauh saja. Eh, kami pergi, malahan rumah kami dicaplok. Gak ijin pula, cuma nyuruh orang aja bilang ke kami,” jawabnya dengan nada sungguh biasa. Barangkali, perasaan Mbak Ana ini sudah melompong.

Lalu saya yang outsider ini tak habis pikir, bagaimana mungkin si saudara yang mampu, mencaplok rumah hasil kerja Mbak Ana dan suaminya. Sehingga sudah 12 tahun ini Mbak Ana menjadi kontraktor. Ngontrak sana-ngontrak sini. Jika diperbolehkan, rasanya ingin sekali saya meninjunya!

“Lha, dulu suami Mbak katanya kerja di Hotel, kenapa keluar?” sengaja saya putar topik agar tak terlalu membuat Mbak Ana mengenang yang suram.

“Nah, dulu kan suami saya punya guru, orang pinter gitu Mbak. Orang pinter itu bilang, kamu kerja di Hotel kan tahu Hotel itu tempat apa. Banyak maksiat di sana. Sekarang kamu punya istri sudah punya anak juga, apa kamu mau ngasi makan anak istrimu dari tempat yang kayak gitu. Gitu katanya, Mbak….” Saya manggut-manggut mendengar cerita Mbak Ana.

“Jadi suami saya mikir-mikir. Memang betul katanya. Dia tahu kalau hotel tempatnya kerja sering didatangi Pak K (seorang pengusaha kelas kakap di Batam) berikut gadis-gadis yang kinyis-kinyis. Itu kan maksiat. Tapi suami saya gak berani bilang ke saya sampai 3 hari dia gak bisa tidur. Waktu saya tanya ada masalah apa baru dia bilang, “Bu, kalau aku keluar dari hotel trus gak dapet kerjaan, cuma ngojek aja, apa Ibuk masih mau sama aku”? tanyanya begitu.

So weet banget, yah? Saya pikir dialog ini cuma ada di sinetron-sinetron, lho…

“Wah sayang banget padahal, ya Mbak…” pancing saya untuk mengetahui respon Mbak Ana tentang alih profesi menjadi ojekr ini.

“Gak papa lah, Mbak. Walau ngojek yang penting rejeki halal.” Jawabnya mantap. Menohok saya yang masih suka galau soal rejeki. Padahal kalau belum rejekinya, mungkin Allah kira-kira mau bilang ke saya…periksa lagi jalan rejekimu, kalau lurus tak mungkin nyasar!

Berbilang 12 tahun, saat ini, suami Mbak Ana masih tetap ngojek. Pun mereka masih kontraktor. Tetapi kebahagiaan mereka nyata. Anak semata wayang sungguh manis berbakti pada orangtua. Sama sekali jauh dari kesan anak jaman sekarang yang banyak tuntutan. Bahkan ia selalu mendapat peringkat terbaik pada tiap-tiap pembagian rapor di sekolah.

Sebagai hamba yang diberi lebih banyak kenikmatan oleh Allah, saya nyaris miris. Kondisi serba kontradiktif dengan keluarga Mbak Ana yang sejatinya mampu menghalau banyak galau di hati saya.

Hari ini, saya coba selami dalamnya samudra hati dari keluarga Mbak Ana yang tak kunjung membawa saya hingga ke dasarnya; keikhlasan…*/Dwi, Batam, November 2011

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Melaka Bidik Kaum Homo dengan Syariat Islam
Tulisan selanjutnya Mengenal Komunitas Muslim Aborigin

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?