Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Mengais Rezeki di Suramadu

Ahmad
Terakhir diupdate: 13 Juli 2011 11:46 11:46 am
Ahmad
Dipublikasikan 13 Juli 2011 11:46
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Mugiono tampak sibuk menyortir tahu dalam keranjang di motornya. Tahu yang dipilihnya itu lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Setelah terisi penuh, plastik yang berisi lima buah tahu itu ditumpuk di atas keranjang. Mugiono pun menawarkan kepada setiap orang yang lewat.

“Tahu, mas. Enak dan murah ko,” katanya menawari hidayatullah.com. Lelaki berkulit gelap ini membandrol tahunya sekantong plastik Rp 5 ribu. Tapi, bila ada pembeli yang menawar bisa turun.

“Tergantung berapa nawarnya. Paling banter turun seribu,” katanya.

Siang Selasa (12/07/2011) lalu, barang dagangan Mugiono terlihat masih banyak. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Lelaki bertubuh kecil ini baru mendapat uang Rp 30 ribu. Hari itu memang terbilang sepi. Tak banyak pembeli seperti biasanya.

“Sing teko entek. Tapi tahune akeh,” ujarnya dengan berbahasa Jawa.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Mugiono tampak khawatir. Ia takut uang yang didapat hari ini tidak cukup untuk biaya setoran tahunya. Sebab, setiap hari, ia harus menyetor Rp 180 ribu ke bosnya. Jumlah yang cukup besar baginya. Bila kurang, maka ia harus menambah dengan uang sendiri. Setiap harinya ayah satu anak ini menjual sekitar 400 tahu. Keuntungan yang didapat yaitu sisa dari uang setoran.

“Untungnya nggak tentu mas. Kadang Rp 150 ribu sering juga hanya Rp 100 ribu,” terangnya.

Untuk menghabiskan tahu sebanyak itu, Mugiono harus berjualan sehari semalam. Sebab, bila hanya menjual siang saja, sering tahunya tidak habis dan itu berarti tidak mendapatkan apa-apa. Karena itu, ia harus sering menginap bersama barang dagangannya. Bila ngantuk ia akan tidur di bangku panjang yang terbuat dari bambu tak jauh dari tahunya mangkal.

Dalam berjualan, Mugiono hanya menggunakan motor dan keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Bambu itu ditaruh di atas motornya. Untuk berlindung dari terik panas dan hujan, Mugiono meletakkan payung kecil di atas motornya.

“Meski hanya payung paling tidak bisa untuk ngiup,” katnya.

Tempat jualan lelaki berusi 42 tahun ini adalah kawasan jalan dekat jembatan Suramadu. Kasawan ini terletak di kanal sebelah kanan atau di arah Madura. Setelah adanya Suramadu, kawasan yang dulunya sepi dan gersang ini kini ramai oleh pedagang. Banyak pedagang yang mencoba mengais rezeki dari para lalu lalang pengguna jalan.

Suami Prihastuti ini berasal dari Jombang, Jawa Timur. Ia dulunya pekerja di PT pembuatan sendok di daerah Surabaya. Keluarnya dari situ, ia menjual tahu ke Suramadu. Setiap hari ia pun pulang pergi Jombang-Suramadu dengan sepeda motor. Lama perjalanan sekitar dua jam, tapi bila pagi-pagi buta hanya sekitar satu jam setengah.

Hal itu dilakukan demi menghidupi keluarga. “Ya gimana lagi mas. Keluarga kan harus dinafkahi. Sudah tanggung jawab suami,” jelasnya. Ia pun harus lebih kerja keras lagi. Pasalnya, tahun ini anaknya, Rizki Utama Putri masuk SMA. Biaya per bulannya mahal. “Saya segaja sekolahkan dia di sekolah yang bagus. Biar pendidikannya cemerlang,” harapnya.

Tidak hanya Mugiono yang mengais Rezeki di Suramadu. Ratusan orang juga menjadikan Suramadu sebagai tempat mengadu nasib. Tapi, rata-rata warga asli Madura. Untuk warga Madura disediakan tempat atau lapak khusus jualan. Seperti Hamidah, warga asal Bangkalan Madura ini.

Hamidah berjualan minuman dan makanan. Selain itu, ia juga menyediakan baju dan kaos khas Madura. Disediaka juga beberapa pernak-penik khas pulau garam ini. Dari usaha itu, Hamidah bisa meraup untung sekitar Rp 50 ribu per hari. “Nggak tentu mas. Kalau lagi sepi bisa Rp 50 ribu. Tapi kalau lagi ramai bisa Rp 200 ribu,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Biasanya, kata Hamidah, para pembeli banyak pada hari Sabtu dan Ahad. Di hari libur, pendapatanya bisa naik drastis. Adapun yang sering dicari pembeli adalah kaos dan minuman. Karena itu, ia menyediakan es degan dan kaos khas Madura.

Sebelum berjualan, Hamidah hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Hanya sesekali membantu suami, Riyadi di sawah atau mengurus sapinya. Hamidah sendiri petani biasa. Hanya memiliki satu sapi. Karena ekonomi rendah itulah, Hamidah tidak bisa menguliahkan anaknya.

“Dua anak saya lulus SMA langsung kerja karena nggak ada uang,” katanya. Dengan adanya ladang rezeki baru, Hamidah berharap bisa mendongkrak perekonomian keluarganya. Setidaknya, bisa membantu biaya sekolah kedua anaknya yang masih sekolah.

Para pedagang memang terlihat kreatif dalam memancing minat pembeli. Mereka menyediakan berbagai aneka khas Madura. Dari kuliner, handycraft dan pakaian. Dari pakaian, misalanya, para pedagang menyediakan batik; tulis maupun printing. Begitu juga dengan pernak-pernik. Para pengunjung pun bisa membawa celuri

Foto: ant

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mencintainya Tanpa Syarat
Tulisan selanjutnya Sertifikasi Halal Membuka Peluang Ekspor

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 15 Tahun

Berita
23 Juli 2026 05:00
Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina

Terbaru

  • ‘Israel’ Disebut Gali Parit Berisi Buaya di Sekitar Blok Penjara Tahanan Hamas
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Larang Media Sosial untuk Anak di Bawah 15 Tahun
  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?