Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tak Ada Burung Mati Karena Kelaparan, Apalagi Manusia Yang Mau Berusaha! (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 November 2014 07:03 7:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 November 2014 07:03
Bagikan
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Bagikan

TANTANGAN yang dihadapi manusia makin hari makin berat. Lahan pekerjaan yang terbatas, harga kebutuhan rumah tangga terus naik, biaya pendidikan tinggi sehingga tak sedikit orang yang putus dari sekolahnya. Berobat semakin mahal karena tidak semua orang mendapat jaminan dari pemerintah. Bahkan tak sedikit lelaki menunda menikah karena alasan ekonomi padahal usianya sudah lanjut.

Benarkah hidup ini serasa semakin sempit saja?

Mari merenung sejenak. Pelbagai masalah dunia sebenarnya selalu ada jalan keluar. Pekerjaan tidaklah sulit didapat jika seseorang mau bergerak dan keluar berusaha. Lahan kesempatan dan rezeki selalu terbentang luas, asal pikiran kita tidak terbelenggu oleh persepsi-persepsi sempit yang ujungnya ikt membatasi langkah kita.

Menjemput rizki Allah tak harus menjadi pegawai kantoran, menjadi PNS atau harus begaji bulanan dengan seragam resmi. Terkadang, banyak paradigma seperti menjadikan seseorang terbelenggu.

Tak sedikit kaum Hawa terbelenggu oleh persepsinya sendiri yang akhirnya menyulitkan hidupnya. Ia berkali-kali menolak pria yang datang melamar lantaran menunggu pria mapan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Padahal jika dipikir, apa ada bujang yang kaya raya? Umumnya bujang pasti miskin, tetapi punya potensi menjadi kaya raya. Itu paradigma dan persepsi yang menyulitkan.

Seseorang menjadi kaya raya karena anugerah Allah Ta’ala. Tak ada orang menjadi kayak mendadak kecuali dia keturunan kaya. Umumnya yang bertambah rezekinya seiring perjalanannyausai menikah. Ketika awal menikah hidupnya susah payah, seiring perjuangan dan usaha ekonominya, ia akhirnya menuju hidup lebih layak dan makmur.

Di zaman sekarang banyak orang membuat sekolah hingga univeristas, dengan mudahnya lembaga-lembaga pendidikan mencetak para sarjana, jumlahnya semakin tak terhitung, bahkan saat ini sudah ada belajar via online. Mudah bukan?

Jika banyak orang mudah menjadi sarjana, seharusnya banyak pula orang berpikir jauh lebih mudah. Fakta justru sebalilnya. Banyak orang memburu gelar sarjana karena orientasi belajar untuk mudah mendapat pekerjaan. Perbedaan manusia zaman sekarang dengan masa lalu adalah pada orientasinya. Dahulu orang mencari uang untuk bisa belajar, sekarang orang belajar untuk bisa mencari uang.

Tanpa sadar para sarjana –meminjam istilah Prof Rhenald Kasali—adalah mereka yang pandai memindahkan isi buku ke dalam lembar jawaban, tetapi sayangnya mereka tidak pandai memindahkannya ke lembar kehidupan yang penuh teka teki.

Para sarjana seyogyanya merubah pola pikir, saat lulus bukan hanya berpikir bagaimana caranya bisa bekerja dan terikat pada rutinitas, tetapi bagaimana seseorang bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk sesama, minimal untuk dirinya sendiri.

Banyak orang takut menjadi pengangguran, padahal ‘menganggur’ di zaman seperti juga menghasilkan uang. Tak sedikit orang yang karena bagus komunikasinya, pribadinya hangat, pandai bergaul, banyak membangun relasi justru berpeluang memiliki rizki, dipercaya orang lain dan berani membuka usaha apapun jenisnya. Sementara orang-orang yang bekerja jungkir-balik, mengandalkan gaji bulanan hanya bisa mengelus dada karena gajinya kadang kala tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Sesungguhnya lapang dan sempitnya hidup seseorang tergantung bagaimana orientasi dan tujuan hidupnya.Tuntutan demi tuntutan yang terus menghiasi alam bawah sadar seseorang, bisa membuat hidupnya menjadi sempit bak daun kelor, padahal bumi Allah sangat luas, seluas karunia Tuhan pada manusia, maka bertebarlah di muka bumi. keluarlah dari zona nyaman.

Padahal Allah, Sang Pemberi Rizki berfirman; وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Semakin besar frekuensi dan kuantitas seseorang terpisah dari keluarga dan orang-orang terdekat maka semakin besar pula kualitas kecintaan antara keduanya.”

Orang yang bertawakal hanya memiliki ketergantungan kepada Allah Ta’ala dalam berbagai keadaan dan selalu menyandarkan segala urusan kepadaNya, karena menurut Imam Ahmad rahimahullah tawakal adalah tidak berharap dari makhluk.

Sifat tawakal adalah ciri dari orang yang beriman, orang yang bertawakal pasti ia beriman dan orang yang beriman pasti ia bertawakal, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan seperti anggota tubuh manusia yang saling berhubungan satu sama lainnya.

Diantara sifat orang yang bertawakal yaitu mereka yang berdoa kepada Tuhan semesta alam dengan penuh pengharapan akan rahmatNya dan dengan suara yang merendah.

وَمَا لَنَا أَلاَّ نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami.” (QS : Ibrahim ayat 12)

Dengan berserah diri kepada Allah Ta’ala bukan serta merta seseorang melepaskan nalarnya sebagai makhluk yang dikaruniakan akal sehat dan pikiran, karena ajaran Islam menunjukkan jalan kepada manusia untuk menjadi pribadi yang peka akan isu-isu yang terjadi di sekitarnya dan cerdas dalam mengambil sikap atau keputusan.*/bersambung.. “Barangsiapa bertakwa, Allah memberi jalan keluar”

Guntara Nugraha Adiana Poetra Pimred kajian dunia Islam progresif www.infoisco.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Allahhalalpekerjaansarjana
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komunitas ‘Aswaja Garis Lurus’ Ajak Teladani Ketegasan Pendiri NU
Tulisan selanjutnya Pemerintah Perlu Perkuat UU Penistaan Agama, Bukan UU Perlindungan Umat Beragama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?