Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Antara Radio Dakwah dan Dakwah Radio

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 September 2011 10:13 10:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 September 2011 10:13
Bagikan
Bagikan

Oleh: ASM. Romli

BERBICARA tentang dakwah dan radio kita harus membedakan antara “radio dakwah” dan “dakwah radio”. Radio dakwah adalah sebuah stasiun radio yang visi, misi, dan semua program dan materi siarannya tentang dakwah (syiar Islam). Sedangkan dakwah radio itu aktivitas dakwah di media radio.

Radio dakwah diformat atau diprogram untuk syiar Islam. Semua programnya bermuatan atau bernuansa syiar Islam. Lagu-lagu yang diputarnya lagu-lagu religi (nasyid dan pop religi), tidak ada lagu lain selain yang bernuansa religius. Semua acara non-lagu pun berisi dan berorientasi dakwah.

Ada juga radio dakwah yang “anti-musik” –mengikuti dalil haram mutlak semua jenis musik. Tidak ada lagu yang diputar atau tidak ada siaran musik (song) di radio itu, semuanya “full” siaran kata (talk), berupa ceramah, dialog, dan sejenisnya. Radio dakwah jenis ini tergolong “ekstrem”, bahkan “kaku”, dalam hal format radio dakwah.

Konsekuensinya, segmentasi radio dakwah demikian pun terbatas, mungkin sebatas jamaah ustadz yang mengisi siaran. Pendengarnya biasanya “hanya” kalangan yang “sudah Islami” atau “sudah memiliki kesadaran keislaman”. Namun, ada pula pendengar awam yang ingin memahami Islam.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Konsekuensi radio “full dakwah” tanpa musik, hanya berisi pengajian, ceramah, talkshow, dan monolog (narasi) keislaman, layaknya ustadz tengah mengajar para santrinya di pesantren, pendengarnya tidak akan banyak, tapi terbatas, kalangan tertentu, dan mad’u (objek dakwah) pun tidak bisa meluas kepada mereka yang “sekuler” atau tidak bisa menyentuh pendengar umum yang mendengarkan radio karena lagu.

Radio tanpa musik bisa dikatakan menyimpang “khittah radio” yang identik dengan musik (Radio is music!). Umumnya orang menyalakan radio untuk mendengarkan lagu. Sejarah radio pun menyebutkan asal-usul radio adalah “music box”, kotak musik yang memperdengarkan lagu.

Ada juga radio dakwah yang tergolong “moderat”. Sebagian kalangan menudingnya sebagai “mencampurkan hak dan batil”, yaitu radio yang bermisi dakwah, namun programnya lazimnya “radio umum”, seperti acara musik pop, dangdut, dan lain-lain, namun sarat sajian program keislaman, seperti insert renungan milsalnya tiap pergantian acara, insert dakwah tiga menit (narasi), ceramah dan dialog agama tiap ba’da Subuh dan jelang Magrib, juga mengemas acara dengan format musik lagu-lagu nasyid.

Karena bermisi dakwah, lagu-lagu pop dan dangdut yang diputar diseleksi ketat. Tidak boleh ada yang bernuansa cabul, SARA, dan “terlalu tidak Islami”. Lagu yang diputar sedapat mungkin bertema “netral”. Sebut saja lagu dangdut Rhoma Irama yang sarat dakwah atau lagu-lagu balada yang biasa bertutur tentang alam.

Format siaran radio dakwah “aliran moderat” ini tetap sarat nuansa Islam. Para penyiar harus memulai siaran dengan basmalah dan salam, mengakhiri dengan hamdalah, dan selama siaran harus sering berucap kalimah thayibah. Penyiar perempuannya wajib berjilbab.

Dengan model radio dakwah yang “moderat” ini, objek dakwah jauh lebih luas. Pendengar pun tidak merasakan sedang “didakwahi”, padahal “injeksi” nilai Islam terus disuntikkan kepada mereka di semua acara. Pesan dakwah secara diam-diam dan pelan-pelan sampai kepada pendengar “sekuler” yang sedang asyik mendengarkan lagu favoritnya.

Dakwah di Radio

Dakwah di radio bagian dari da’wah bil lisan. Ada yang menyebutnya i’lam, yakni penyiaran Islam lewat radio atau televisi. Medianya tidak mesti radio dakwah. Radio “sekuler” pun dapat menyiarkan program dakwah atau menjadi tempat siaran dakwah, biasanya ba’da Subuh atau jelang Magrib (cermah dan dialog).
Dakwah radio atau dakwah melalui radio artinya memperlakukan dan memanfaatkan media paling populer di dunia ini sebagai channel, sarana, atau alat untuk mencapai tujuan dakwah.

Jenis program dakwah di radio, selain ceramah dan dialog Islam (talkshow), antara lain “insert” renungan tiap jam atau tiap setengah jam. Durasi maksimal satu menit, berupa paket “voicer” layaknya spot iklan.

Materinya terjemahan hadits, ayat Al-Quran, ungkapan sahabat Nabi Saw, nasihat ulama, atau mutiara kata Islami. Jadi, di tengah keasyikan menikmati –misalnya– lagu-lagu pop Indonesia, para pendengar “didakwahi” secara “tidak sadar”.

Para da’i dan lembaga-lembaga dakwah harus memanfaatkan radio untuk menebarkan risalah Islam. Pilihannya, mendirikan radio dakwah atau sekadar berdakwah di radio.

Jika mendirikan radio dakwah, saya lebih setuju dengan format moderat, yakni tetap memutar lagu-lagu “umum” –namun selektif– sebagai strategi mengumpulkan pendengar (mustami’/mad’u) sebanyak-banyaknya, lalu pesan-pesan dakwah pun menyapa kalangan luas.

Jika pilihannya berdakwah di radio, maka sang da’i harus dibekali ilmu dan teknik siaran (announcing skill) agar mampu siaran layaknya penyiar profesional.

Lembaga-lembaga dakwah atau ormas Islam pun jangan “malas” jika diberi jam siaran. Pengalaman saya, sering jam siaran “jatah” ormas Islam kosong dengan alasan “tidak ada biaya transportasi” bagi sang da’i.

Alternatif lain, lembaga dakwah membuat paket-paket program religius, seperti drama radio, feature, atau sekadar insert/spot renungan Islami yang dikemas semenarik mungkin untuk disiarkan di radio.

Media radio terbukti efektif sebagai sarana komunikasi massa yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menembus batas, terlebih dengan adanya fasilitas streaming (internet). Radio dakwah dan dakwah radio pun sangat prospektif mendatangkan iklan, khususnya produk-produk Islami. Tantangannya, bagaimana menyadarkan para pengusaha Muslim untuk beriklan di radio dakwah dan mensponsori dakwah radio.

Radio terbukti tetap diminati publik karena karakternya yang akrab, personal, menghibur –utamanya sarana hiburan musik, theater of mind, murah, serta portabel dan fleksibel –dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja, bahkan sambil melakukan aktivitas lain. Wallahu a’lam.

Penulis adalah praktisi media (wartawan & penyiar). Tinggal di Bandung. Blog:www.romeltea.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Barat Gelar Kompetisi Perebutkan Ladang Minyak Libya
Tulisan selanjutnya “Perang” NATO-Taliban Merambah Dunia Maya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?