Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pahlawan untuk Diteladani, Bukan Hanya Dikagumi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 November 2011 09:15 9:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 November 2011 09:15
Bagikan
Bagikan

oleh: Ahmad Arif Ginting

HARI ini, sepuluh November, setiap tahunnya, didedikasikan untuk mengenang jasa para pahlawan di seluruh Indonesia atas perjuangan dan pengorbanan mereka dalam merebut kemerdekaan dari para kolonialis, dan juga untuk mereka yang telah berkontribusi dalam proses pembangunan pasca kemerdekaan.

Beragam acara dan seremoni dibuat, tapi jamaknya adalah upacara dan mengheningkan cipta dilanjutkan dengan tabur bunga saat ziarah ke makam-makam pahlawan. Namun, bagi tulang belulang yang berserakan di makam itu, apakah makna yang kita berikan kepada mereka?

Atau kah tak ada lagi perempuan di negeri ini yang mampu melahirkan orang-orang seperti mereka? Sama halnya dengan perempuan Arab yang tidak mampu lagi melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?

Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi, karena kalian pergi menyempurnakan, kemerdekaan negeri ini.” Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kemiskinan Berkelanjutan

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pada 2010 sekitar 31 juta jiwa penduduk masih dalam keadaan miskin (13.33 persen). Hal baiknya adalah jumlah ini menurun dibandingkan 2009 yang mencapai 32,5 juta jiwa (14,15 persen). Namun, hal buruknya justru terletak pada aspek fundamental, yaitu perbedaan indikator kemiskinan.

World Bank melansir bahwa seseorang dikatakan miskin ketika tidak sanggup memenuhi kebutuhan kalori standar untuk tubuhnya (2.000-2.500 kalori per hari), di mana jika dikonversi ke dalam dolar, dibutuhkan minimal satu dolar AS per hari atau 30 dolar AS per bulan (sekitar Rp 270 ribu).

Namun, BPS menggunakan indikator lebih rendah, yaitu Rp 211.726 per kapita per bulan. Belum lagi masalah perhitungan lain, di mana seseorang yang telah bekerja sudah tidak dianggap miskin. Padahal, bekerja bukan jaminan semua kebutuhannya terpenuhi.

Terlepas dari perbedaan indikator kemiskinan tersebut, satu hal yang pasti bahwa 32,5 juta jiwa dari total warga Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini adalah miskin. Padahal, dunia pun mengakui, negeri ini merupakan wilayah dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Dus, wajar sekali jika kita bertanya, tidak adakah korelasi positif-konstruktif antara keberlimpahan sumber daya alam dengan kesejahteraan rakyat negeri zamrud khatulistiwa ini?

Kemiskinan merupakan persoalan asasi yang multikompleks, tentu sangat mengganggu laju pembangunan negara ini pasca sentralisasi pemangunan berkepanjangan selama rezim orde baru plus pembangunan setengah hati oleh rezim reformasi, terutama selama kepemimpinan Pak Beye yang lebih mengutamakan penguatan citra diri sendiri.

Karenanya, urgently required (sangat dibutuhkan) pahlawan -dalam artian yang luas- untuk Indonesia kontemporer. Masih adakah mereka para pahlawan itu saat ini? Seperti apakah criteria utama mereka? Siapa yang bisa mereposisi Bung Tomo, Soekarno, Hatta, HAMKA, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Malahayati, dan sederetan pahlawan nasional lainnya?

Kriteria Utama Kepahlawanan

Dalam Mencari Pahlawan Indonesia (2004), M. Anis Matta menjelaskan secara gamblang dan panjang lebar tentang pelbagai karakteristik kepahlawanan yang harus dimiliki oleh seorang untuk menjadi pahlawan. Namun bagi penulis, paling tidak ada tujuh criteria utama kepahlawanan berikut ini.

Pertama, pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar walau berfisik kecil atau bahkah tidak sempurna (cacat). Karena itu pula mereka selalu muncul di saat-saat sulit atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi sulit. Namun mereka bukanlah kiriman gratis dari langit.

Kedua, pahlawan sejati selalau merupakan seorang pemberani sejati. Pekerjaan/tantangan besar selalu membutuhkan keberanian yang sama besarnya sebab selalu ada resiko besar di dalamnya. Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang atau diperoleh melalui latihan. Namun keduanya selalu berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemuNya. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin.

Ketiga, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran paripurna. Keberanian merupakan aspek ekspansif dari kepahlawanan sementara kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa seorang pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan. Kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya; santun, lembut, jujur, amanah, kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang paling penting adalah ketenangan.

Keempat, seseorang disebut pahlawan karena kebaikan dan kekuatannya jauh mengalahkan sisi keburukan dan kelemahannya. Tetapi kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam memori kolektif /sejarah.

Nilai sosial setiap pahlawan itu berbanding lurus dengan kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadiannya. Dus, hadirnya pahlawan sejati yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi hidup dan mengorbankan semua yang dimilikinya bagi orang lain dan agamanya merupakan jawaban tuntas dari pertanyaan “Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan syariat (baca; hukum) dalam realitas kehidupan?”

Kelima, kompetisi. Pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apa dia akan ditempatkan dalam sejarah manusia.

Melainkan bagaimana meraih posisi terhormat di sisiNya, itulah cita-cita sejatinya. Itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang melahirkan semangat kompetisi yang tidak bertepi. Adapun indicator yang digunakan untuk menilai kompetisi itu adalah keterpaduan yang harmonis antara waktu (kecepatan), kualitas, kuantitas dan manfaat social dari tiap pekerjaan yang dilakukan.

Keenam, filosofi yang solid. Tindakan kepahlawanan selalu lahir dari pikiran kepahlawanan. Orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran besar tidak akan pernah terarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kepahlwanan. Filosofi membicarakan harapan, arti kehormatan, sumber motivasi, apa yang disukai dan atau dibenci, proses pemaknaan terhadap sesuatu, fungsi keterampilan kepribadian dan seterusnya.

Ketujuh, optimisme yang merupakan titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realism yang terlalu pragmatis. Pahlawan mukmin sejati percaya bahwa bekerja saja merupakan suatu kemenangan; atas rasa takut, sifat pengecut, cinta dunia dan atas diri sendiri. Adapun hasil, bahwa mereka gugur dalam proses pekerjaan itu atau masih sempat menikmatinya, semua itu diserahkan kepadaNya. Dari keyakinan seperti inilah lahir optimisme yang solid.

Akhirnya, perlu ditegaskan di sini bahwa semua kita –orang biasa- pada jamaknya bisa menjadi pahlawan untuk negeri ini. Orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan besar itulah yang dibutuhkan di saat krisis. Bukan orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya.
Para pahlawan bukan untuk dikagumi, tapi untuk diteladani. Karena itu, makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali, dan bara kagum menjadi api….. (Chairil Anwar)

Penulis adalah delegasi khusus pemuda dan Mahasiswa Aceh, sekaligus panelist speaker dalam “1st Conference On Cultural Cooperation Among The Muslim Youth”, Bursa – Turki, 2005

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 11 Faktor Keberhasilan Siswa
Tulisan selanjutnya Gereja Tanggapi Usulan Khitan untuk Warga Papua

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?