Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pendidikan Berkarakter atau Berakhlak? [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Maret 2015 13:00 1:00 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Maret 2015 12:59
Bagikan
Foto sekelompok anak SD yang sedang berjalan di atas trotoar melewati seorang pengemis. Salah satu anak mengacungkan jari tengah ke arah pengemis. Inilah contoh kegagalan pendidikan. Foto ini sempat menjadi pembicaraan netizen di Barat (ilustrasi)
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Syahrullah Asyari

DALAM kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter adalah akumulasi dari seluruh ciri pribadi seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai dan pola-pola pemikiran. Adapun kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arab ‘khuluqun’ yang secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Melihat arti ‘karakter’ dan ‘akhlak’ dari sisi bahasa, nampaknya sama. Akan tetapi, dalam ajaran Islam, akhlak ini mengandung makna media yang menunjukkan adanya hubungan antara Khaliq dan makhluk, serta antara makhluk dan makhluk.

Kata ‘akhlak’ bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Qur’an, (artinya) “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) mempunyai (khuluq) yang agung.” (QS.Al-Qalam: 4).

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, maksud ayat ini adalah benar-benar memiliki agama yang agung. Tidak ada agama yang lebih Aku cintai dan lebih Aku ridhai dari agama itu. Yaitu agama Islam. Jadi, Allah subhanahu wata’ala menjadikan agama Islam ini seluruhnya adalah akhlak. Maka, siapa saja yang menambahkan akhlak lain di luar akhlakmu berarti ia telah menambahkan hal baru dalam agamamu. Adapun menurut Hasan radhiyallahu ‘anhu, yang dimaksud dengan akhlak yang agung itu ialah adab-adab Al-Qur’an. Selain itu, Ibnul Qayyim mengatakan: “Maksudnya ialah engkau memiliki akhlak yang hanya diberikan kepadamu di dalam Al-Qur’an.”

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Adapun menurut imam An-Nawawi, maksudnya adalah mengamalkan Al-Qur’an, mematuhi hukum-hukumnya, mengikuti adab-adabnya, mengambil pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan dan kisah-kisahnya, merenungkan maknanya dan membacanya dengan cara yang baik.

Demikian juga, hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, (artinya) “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhari, Muslim dan Al-Hakim).

Menurut Fadhlullah Al-Jailani, maksud hadits ini adalah: “Tidak ada agama yang sepi dari nilai-nilai akhlak yang mulia. Tetapi nilai-nilai akhlak yang mulia itu belum pernah dihimpun seluruhnya dalam salah satu agama di masa lalu sampai Allah subhanahu wata’ala menghimpun semua akhlak yang baik di dalam agama Islam. Inilah yang dimaksud dengan kata ‘untuk menyempurnakan akhlak yang baik’.

Semakin jelas, makna kedua istilah tersebut berbeda. Apabila dimasukkan ke dalam proses pendidikan menjadi ‘pendidikan karakter’ atau ‘pendidikan akhlak’, implementasinya pun jelas berbeda. Kalau kita meninjau ‘karakter’ dari lensa ‘akhlak’, maka pembatasan ‘pendidikan karakter’ oleh Thomas Lickona hanya pada hubungan horizontal antarmanusia di dalam masyarakat (individu dengan individu lain) akan menjadi keliru, karena Lickona memberikan pemaknaan yang sangat sempit.

Dalam Islam, hubungan horizontal bukan hanya antarmanusia, tetapi antarmakhluk Allah ‘azza wajalla yang lain, termasuk hubungan antara manusia dengan jin, manusia dengan malaikat, manusia dengan binatang, dan antara manusia dengan alam. Bahkan, mengenai aturan berakhlak seperti ini, bukan hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga berlaku bagi bangsa Jin.

Dari alasan yang telah diuraikan di atas, kiranya umat Islam sadar akan perbedaan makna antara ‘karakter’ dan ‘akhlak’ yang kelihatannya mirip atau dianggap sama secara bahasa, padahal secara istilah sebenarnya berbeda dan ternyata menyangkut perkara besar, yaitu akidah. Karenanya, penting bagi umat Islam untuk tidak memasyarakatkan istilah karakter, tetapi akhlak. Bukan pendidikan karakter, tetapi pendidikan akhlak atau secara komprehensif pendidikan Islam. Wallahu A’lam Bishshawab.*

Penulis adalah Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar, [email protected]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlakPendidikanpendidikan anakpendidikan berkarakterpendidikan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Memperbaiki Semampu Yang Kita Bisa
Tulisan selanjutnya Persatuan Ulama Internasional: Hanya Perlawanan Bisa Usir Penjajah Zionis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Berita
14 Oktober 2026 16:55
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?