Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Anjangsana ke Bumi Cenderawasih

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Juni 2005 02:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Perjalanan ke Papua (dulu Irian Jaya)-bagi sebagian orang-laksana melanglang ke ujung dunia. Perlu waktu satu minggu mengarungi laut dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, atau 8 jam perjalanan pesawat udara dari Jakarta, untuk tiba di kawasan paling timur Indonesia itu. Wajar bila banyak hal tentang kawasan ini belum terpublikasikan. Lebih-lebih yang berkaitan dengan dakwah Islam dan komunitas kaum Muslimin di sana.

Maka wajar bila hingga hari ini banyak orang bertanya: Adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi yang menganut Islam sebagai agama mereka? Pertanyaan bernada skeptis ini sama sekali bukan hal aneh. Apalagi selama ini pandangan umum beranggapan bahwa di Papua tidak terdapat penduduk pribumi (asli) yang Muslim. Bahkan ada semacam kesimpulan yang cukup kereng, bahwa Papua itu identik dengan Kristen. Atau Papua sama dengan Kristen! Wow. Tentu ini sebuah pencitraan keliru sebagaimana Ambon sama dengan Kristen, atau Batak mesti Kristen. Padahal dari sekitar 2,4 juta keseluruhan penduduk Papua, sekurang-kurangnya 900 ribu di antara mereka adalah Muslim. 

Gubernur pertama Papua bahkan seorang Muslim yakni H. Zainal Abidin Syah(1956-1961) yang merupakan Sultan Tidore. Kemudian disusul Gubernur Muslim lainnya yakni P. Parmuji, Acup Zaenal, Sutran dan Busiri. Sejak Gubernur Busiri sampai sekarang, Pimpinan Kepala Daerah (Gubernur) dijabat oleh Kristen.

Tidak hanya itu. Faktanya, menurut data sejarawan-baik dari kalangan Kristen maupun Islam-menyatakan bahwa Islam bukan saja pernah eksis di Papua, tapi juga hadir lebih dulu  hadir dua abad dibanding para missionaris Kristen. Islam hadir di kawasan ini pada abad ke XVI melalui pengaruh Kesultanan Bacan di Maluku(1520 M). Seorang sejarawan berkebangsaan Inggris yakni Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam  menjelaskan: " …Agama ini (Islam) pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat (mungkin di Semenanjung Onin) oleh para pedagang yng berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk dan itu terjadi sejak tahun 1606…(hal. 350)"

Dalam buku "Nieuw Guinea" WC.Klein menceritakan sbb: "de Heer Pieters maakete on 1664 eenwreksnaar Onin. Indie raiswaren ook een aantal mensen uit Soematera, Waarin de Heer Abdul Ghafur betrokken is." ( Tuan Pieters pada tahun 1664 melakukan perjalanan ke Onin di mana ikut serta beberapa orang dari Sumatera, termasuk Abdul Ghafur)

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Sementara kedatangan Kristen ke kawasan ini dimulai saat gerakan para Zending atau misi Krinten Protestan dari Jerman( C.W.Ottow dan G.J.Geissler) tiba di pulau Mansinam, Manukwari yang terjadi pada 5 Februari 1855. Secara resmi, bahkan,  Kelompok Studi Etnografi–yang anggotanyaa terdiri atas kelompok intelektual Kristen–Irian Jaya mencatat kedatangan Kristen Protestan ke Ibukota Jayapura baru terjadi pada tahun 1930.

Awal abad pertama dakwah Islam di kawasan ini, sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama, Kerajaan Salawati, Kerajaan Fatagar dan Kerajaan Raja Ampat dan daerah-daerah di semenanjung Onin di Kabupaten Fak-Fak telah memeluk Islam dan memiliki kekuasaan dalam arti sebenarnya. Di kala itu mereka telah dapat mengatur tata hukum dan kemasyarakatan berlandaskan ketentuan hukum Islam seperti terkait dengan pernikahan, pembagian hak waris, shalat dan penyelenggaraan jenazah.(lihat buku "Islam atau Kristen Agama Orang Irian?, Pustaka Dai, hal. 155)

Saat ini, secara umum, perkembangan dakwah di sana relatif lebih menggembirakan, walau dengan gerak lamban.

Bila menyaksikan gerak dakwah Muslim di kawasan ini sekarang, sungguh mereka menghadapi tantangan yang tidak kecil dari lingkungannya yang bernuansa Nasrani. Hal itu terjadi karena kegigihan para missionaris yang hampir merata memberikan pelayanan rohani di seluruh kawasan.  
Mereka datang dan berkumpul dari berbagai negara seperti Australia, Amerika, Canada dan Belanda, sudah puluhan bahkan ratusan tahun, malang melintang di kawasan ini, dengan dukungan dana tak terbatas dan peralatan sangat canggih.

Selain puluhan pesawat perintis mereka juga memiliki tak kurang 400 lapangan terbang perintis di seluruh pedalaman Papua. Sekadar catatan, untuk pembinaan warga yang ada di pedalaman tak jarang aparatur pemerintah justru menyewa pesawat dari para Missionaris ini. Dengan kata lain, para missionaris ini lebih menguasai medan/wilayah Papua dari aparat sendiri!

Namun demikian kendati dengan susah payah, sejumlah kawasan komunitas Muslim semkin  berkembang di berbagai tempat. Sebutlah misalnya di daerah Kokas, Kaimana, Patipi, Rumbati, dan di Semenanjung Onin. Demikian juga di kabupaten Sorong terdapat Kampung Islam di Waigeo, Misool, Doom, Salawati, Raja Ampat dan di Teminabuan. Di Manukwari kampung Islam terdapat di Bintuni, Babo dan di Teluk Arguni. Sedangkan di Kabupaten Jayawijaya perkampungan Islam terdapat di Walesi, Hitigima, Kurima, Megapura, Kurulu, Assologima, dll.

Bahkah yang menggembirakan ada ribuan penduduk asli yang beralih ke Islam baik dari kalangan awam, kepala suku, maupun mantan rohaniawan Kristen.  

Selain di Fak-fak sebagai "Serambi Mekkah"-nya Islam– kawasan ini sekaligus sebagai pemasok muballigh dan guru agama di pelosok Papua– ribuan komunitas Muslim dari kalangan pribumi juga tersebar di 14 tempat terpisah di Kabupaten Jayawijaya. Seperti di Desa Walesi dengan kepala sukunya Bapak H Aipon Asso, di sana terdapat 600 Muslim yang masuk Islam 26 Mei 1978. Efek domino syahadat terus merambat ke Megapura. Di sana terdapat 165 Muslim penduduk asli yang dipimpin oleh kepala sukunya yang bernama Musa Asso.

Komunitas Muslim asli juga terdapat di berbagai kecamatan seperti di Kurulu 61 orang, Kelila 131 orang, Bakondidi 57 orang, di karubaga 59 orang, di Tiom 79 orang, di Makki 40 orang, di Kurima 18 orang, di Assologima 184 orang, di Oksibil 20 orang, di Okbibab 10 dan di Kiwirok 15 orang. Sedang di kota Wamena sendiri sekalipun bercampur dengan para pendatang dari Jawa, Bugis dan Sumatera jumlah komunitas Muslim di sini mencapai tidak kurang dari 5000 orang.

Dari kalangan kepala suku dan pendeta yang masuk Islam selain H.Aipon Asso dan Mussa Asso di atas, sebagian dapat disebutkan di sini seperti Ismail Yenu(68), seorang Kepala Suku Besar Yapen-Waropen Manukwari; Wilhelmus Waros Gebze (53), Kepala Suku Marin di Merauke; dan Romsumbe,  pendeta yang masuk Islam bersama 4 orang anaknya di Biak Numfor.
"Saya bangga menjadi Muslim," kata Jamaluddin (60) putra daerah kelahiran Fak-fak, saat ditemui di Masjid Merdeka Manukwari bersama rombongan khuruj Jamaah Tabligh.

Satu hal yang menggembirakan, di sini ada pemandangan menyejukkan dengan "bersatunya" dua ormas terbesar di Indonesia yakni NU-Muhammadiyah di sebuah institusi pendidikan. Kedua ormas yang di luar tempat ini (Papua) kerap eker-ekeran (ribud, red), di sini mereka membentuk yayasan gabungan bernama Yayasan Penddidikan Islam (Yapis) pada  15 Desember 1968.

Keberadaan Yapis ini bukan saja mendapat respon positif dari kalangan Muslim, tapi juga orang tua non-Muslim. Mereka menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah ini dengan alasan berfariasi antara lain: disiplin yang tinggi dan melarang murid untuk mabuk-mabukkan-mabuk merupakan budaya sebagian masyarakat yang masih terasa sulit dihilangkan.

Saat ini kedudukan Yapis di mana masyarakat Papua hampir sama sejajar dengan Lembaga Pendidikan Kristen Kristus Raja.  Ada ratusan sekolah di babah naungan Yapis dan dua Perguruan Tinggi ( STIE  dan STAIS ) yang bernaung di bawah bendera Yapis.

Selain NU dan Muhammaddiyah yang sudah lama malang melintang di kawasan yang terkenal ganas malarianya ini, sejumlah institusi dakwah dapat disebutkan di sini seperti Dewan Dakwah Islamiyah, Hidayatullah, Persatuan Umum Islam, LDII, Pondok Pesantren Karya Pembangunan dll.

Otonomi Khusus yang Menghawatirkan

Program otonomi khusus bagi Papua dari satu sisi menggembirakan masyarakat. Namun tidak sepenuhnya bagi masyarakat Muslim. Utamanya bila dilihat dari porsi hak mengatur wilayah. Dari 29 Kabupaten yang ada sekarang, misalanya, hanya ada dua bupati yang Muslim, yakni di Kabupaten Fak-fak dan di Keimana. Sisanya dipegang oleh Kristen hingga camat dan lurahnya. Sebutlah di Kabupaten Babo, Bintuni, Misool dll di mana konsenstrasi Muslimnya mayoritas, namun bupatinya dipegang Krisiten. "Problem kita memang sumberdaya Muslim-pribumi yang umumnya masih rendah," kata Drs. H.Kasibi Suwiryadi(59), tokoh sejarah Muslim Papua. 

"Inilah di antara program dakwah yang merti ditingkatkan. Yakni membenahi SDM Muslim agar mereka dapat berkiprah membangun kampung halaman sendiri." Jelas Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) yang juga dosen Universitas Cenderawasih ini yang sudah tiga puluh tahun berdakwah di prorinsi Indonesai paling timur itu. (Ali Athwa, wartawan Hidayatullah, penulis buku "Islam atau Kristen Agama Orang Papua?")

 
 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Kebanggaan Muslim Wamena Dibakar Orang
Tulisan selanjutnya Jual Beli Istilah “Militan Islam”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?