Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bagaimana Mengadili Bush [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juli 2008 14:40
Bagikan
Bagikan

Oleh: Amran Nasution *

Bush Sebagai Penjahat Perang

ImageHidayatullah.com–Apalagi pemberitaan surat kabar betul-betul menghasut masyarakat. Profesor Mamdani mengambil contoh tulisan kolomnis pemenang dua penghargaan Pulitzer, Nicholas D. Kristof di koran utama The New York Times. Pada 24 Maret 2004, Kristof menulis, di Darfur terjadi pembersihan etnik (etnic cleansing), orang Sudan Arab yang memerintah mengusir paksa 700.000 orang Sudan Afrika hitam dari perkampungan mereka.

Hanya tiga hari kemudian, di The New York Times, 27 Maret 2004, Kristof meralat tulisannya. Bukan etnic cleansing yang terjadi, tapi genosida (genocide) atau pemusnahan manusia. Pemerintahan Arab Sudan menghabisi suku Afrika hitam: Zaghawa, Massalliet, dan Fur. Dia menaksir tiap minggu seribu orang terbunuh.

Angka korban juga berubah-ubah dengan mencolok. Mula-mula di The New York Times, 16 Juni 2004, Kristof menulis jumlah korban meninggal 320.000. Lalu angka itu menurun menjadi antara 70.000 sampai 220.000 orang (23 Februari 2005), kemudian meloncat menjadi 400.000 orang (3 Mei 2005), untuk turun kembali menjadi 300.000 (The New York Times, 23 April 2006).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Selisih sampai 100.000 nyawa manusia mestinya kan bukan soal sepele untuk koran profesional semacam The New York Times. Nyatanya itulah yang terjadi. Padahal menurut Penuntut ICC, 14 Juli lalu, korban meninggal di Darfur hanya 35.000 orang, dengan 2,5 juta pengungsi (lihat The Independent.co.uk, 15 Juli 2008).

Yang menarik, setiap kali angka korban berubah-ubah tak pernah diketahui apa dasarnya. Sebagian besar angka itu pasti salah, atau jangan-jangan semua salah. Tapi ia telah membuat bulu roma pembaca bergidik. Sangat mengerikan. Itulah sebenarnya yang terjadi dengan tampilan angka-angka tak bertanggung jawab dari kolomnis Nicholas D.Kristof.

Kampanye besar-besaran terjadi di New York, termasuk melalui iklan di surat kabar, agar Amerika segera bertindak di Darfur. Dari Amerika Serikat isu Darfur merebak ke Eropa, kemudian menggerakkan Dewan Keamanan PBB. Dari Dewan Keamanan kasus masuk ke ICC, yang akhirnya mengeluarkan perintah menangkap Presiden Sudan Umar Hasan Al-Basyir (media asing menyebutnya Omar Hasan al-Bashir).

Perintah itu tentu membuat Pemerintahan Presiden Bush bergembira. Itu terlihat dari sambutan gembira Sean McCormack, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Jelas Amerika Serikat mendukung perintah ICC.

Padahal menurut Madeline Morris, Profesor di Duke Law School, ‘’Pemerintah Amerika selama ini konsern untuk membebaskan para pejabatnya, terutama Presiden, dari jangkauan yurisdiksi pengadilan itu.’’ Artinya, dalam soal eksistensi ICC sikap Amerika mendua: Presiden Bush tak boleh disentuh ICC, Presiden al-Bashir, silahkan saja.

Untuk diketahui sejumlah negara di antaranya China, India, Israel, dan Amerika Serikat, sampai sekarang tak mengakui eksistensi ICC. Sebenarnya, 31 Desember 2000, Presiden Clinton sudah sempat menandatangani Statuta Roma, mendukung ICC. Tapi penandatanganan dilakukan menjelang ia akan menyerahkan jabatan kepada Bush yang sudah terpilih menggantikannya. Statuta Roma kemudian tak pernah mendapat ratifikasi Senat. Malah belakangan Presiden Bush mencabut tandatangan itu.

Selain mengadili pelanggaran HAM berat, ICC bisa mengadili kasus agresi. Karena itulah, dua tahun lalu, penyerbuan Amerika Serikat ke Iraq, sempat dibahas di sana, untuk kemudian hilang begitu saja, dengan dalih mereka tak berhak menyelidiki kejahatan perang yang terjadi. Agaknya mereka malu mengaku takut sama Amerika.

Memang para pejabat Gedung Putih kini lagi direpotkan berbagai masalah HAM. Sebuah laporan Palang Merah Internasional, Red Cross, tahun lalu, menyebutkan bahwa Central Inteligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika Serikat, telah melakukan penyiksaan (torture) terhadap tahanan Al-Qaidah, Abu Zubaydah dan kawan-kawan.

Abu Zubaydah dikurung di dalam boks kecil, sehingga harus melipat posisi tubuhnya seperti janin di dalam rahim. Ia mengalami waterboarding, hidung dan mulut disiram air sehingga merasa seakan tenggelam, tak bisa bernapas. Itu diberikan tiga kali sehari. Sejumlah temannya dibenturkan ke tembok.

Temannya, Khalid Shaikh Mohammad, yang disebut-sebut sebagai perencana serangan teror 11 September 2001, selama sebulan dibiarkan bertelanjang bulat. Ia dipanggang di dalam ruang yang sangat panas sehingga sulit bernapas. Lalu dipindah ke ruang dingin sehingga menyakiti seluruh tubuhnya.

ImagePokoknya berbagai penyiksaan dialami tahanan yang kini berada di penjara illegal di Teluk Guantanamo. Dan bukti-bukti berupa kesaksian, sudah dimilik Red Cross. Semua itu ditulis di dalam buku yang baru terbit di Amerika, berjudul: The Dark Side: The Inside Story of How the War on Terror Turned Into a War on American Ideals (Sisi Gelap: Kisah Rahasia Bagaimana Perang Melawan Teror Berubah Menjadi Perang Melawan Cita-Cita Amerika). Buku itu ditulis Jane Mayer, seorang wanita penulis yang banyak membahas pemberantasan terorisme di majalah The New Yorker.

Sebagaimana ditulis di dalam buku itu, yang dikutip The Washington Post 12 Juli lalu, sejak tahun 2002, sebenarnya seorang analis CIA sudah mengingatkan Pemerintah bahwa lebih sepertiga tahanan di Teluk Guantanamo telah salah tangkap. Tapi Gedung Putih menolak mentah-mentah temuan itu. ‘’Tak akan ada peninjauan ulang. Presiden sudah memutuskan mereka semua adalah musuh perang (enemy combatants),’’ kata David Addington, staf Wakil Presiden Dick Cheney.

Lebih dari itu, penulis melihat semua tindak penyiksaan seperti waterboarding atau berbagai perlakuan lainnya kepada para tahanan merupakan keputusan pemerintah yang diketahui Presiden Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney.

‘’Untuk pertama kali dalam sejarah, Pemerintah Amerika Serikat secara resmi melakukan penyiksaan fisik dan psikis terhadap tahanan, sehingga penyiksaan menjadi hukum resmi,’’ sindir Jane Mayer di dalam The Dark Side. Artinya, dengan perlakukan itu para pejabat Pemerintahan George Bush bisa diajukan ke pengadilan internasional sebagai penjahat perang.

Baik ditunggu, apa kelak George Bush, Dick Cheney, Donald Rumsfeld, bisa diadili ICC seperti disebutkan buku itu. Dengan demikian ICC tak cuma mengadili kejahatan perang dan HAM khusus untuk Afrika, seperti yang sudah terbukti selama ini.

Penyerangan Iraq, penjara illegal Guantanamo, penjara rahasia CIA, akhirnya tak mungkin bisa terus-menerus ditutup-tutupi. Itu membuat Pemerintahan Bush adalah pelanggar HAM nomor satu di muka bumi.

Anehnya para tokoh LSM di Indonesia masih bersedia menerima guyuran dollar dari pemerintah yang tangannya berlumur darah. Sama anehnya, Presiden SBY bisa ditekan dalam soal HAM oleh anggota Kongres Amerika yang sebenarnya harus bertanggung jawab dalam penyerangan Iraq dan penjara Guantanamo. [bagian kedua-habis/hidayatullah.com]

* Penulis Direktur Institute for Policy Studies

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kareem Salama, Penyanyi Country Muslim Pertama Amerika
Tulisan selanjutnya Rice “Tekan” Pakistan agar Perangi Pejuang Taliban

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?