Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Thailand Merayu Warga Muslim agar Tidak Memisahkan Diri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juli 2009 14:48
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Thailand berencana akan menambah hak otonomi dan mempertimbangkan untuk memperluas penerapan hukum syariah di propinsi-propinsi Muslim yang berbatasan dengan Malaysia, demikian dikatakan oleh Abhisit.

Srisompot Jitprisomsri, dosen ilmu politik Universitas Pageran Songkhla, Pattani, mengatakan, “Sebagian besar Muslim Melayu hanya meginginkan hak otonomi dan desentralisasi administratif yang lebih luas, sehingga mereka mempunyai ruang bagi identitas kebudayaan dan agama mereka sendiri. Selama ini identitas asli mereka dikekang oleh pemerintah pusat.”

Namun sepertinya janji itu dilakukan setengah hati. Dalam sebuah wawancara di Singapura beberapa waktu lalu Abhisit mengatakan, “Desentralisasi dan ketentuan-ketentuan tambahan untuk memenuhi kebutuhan tertentu bisa diberikan. Kita dapat mengabulkan tuntutan atas kebutuhan penerapan hukum syariah, di bidang pendidikan.”

Abhisit, 44, yang menjabat sejak Desember tahun lalu, menekankan bahwa desentralisasi kekuasaan tidak akan sama dengan otonomi, yang ditentang oleh pemerintah.

 

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Empat propinsi di selatan Thailand, Yala, Narathiwat, Pattani, dan Songkhla dulunya adalah wilayah otonomi dalam kesultanan Melayu Muslim yang merdeka. Pada tahun 1920 wilayah tersebut dianeksasi Thailand. Kemudian sejak tahun 1946, propinsi-propinsi yang mayoritas penduduknya Muslim, hanya diperbolehkan menerapkan hukum Islam secara terbatas, yaitu hanya pada hukum yang berkaitan dengan keluarga dan warisan.

Abhisit berupaya melakukan pendekatan rekonsiliasi dengan memberikan bantuan untuk pembangunan di wilayah-wilayah tersebut. Rencana pembangunan yang terencana, yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan akan dapat mewujudkan stabilitas di sana, demikian menurutnya.

Pekan sebelumnya ia mengatakan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pelaksanaan pemilu untuk memilih pemimpin lokal di sana.

Sekarang ini hanya masyarakat Bangkok dan Pattaya yang bisa memilih pemimpin lokalnya sendiri. Sementara gubernur untuk 75 propinsi lainnya ditunjuk langsung oleh Menteri Dalam Negeri.

Benarkah pemerintah Thailand berniat memperbaiki hubungannya dengan propinsi-propinsi yang mayoritas beragama Islam? Kenyataannya, pada pertengahan Juni 2009, ketika ketegangan antara Muslim dan pemerintah meningkat, muncul semacam laporan dari banyak lembaga yang mengaku independen yang isinya justru mendeskriditkan komunitas Muslim.

Deep South Watch, kelompok yang getol menghitung bentrokan yang terjadi di wilayah selatan, memaparkan data bahwa operasi militer berskala besar yang pernah dilakukan pada Juni tahun 2007, bisa menekan aksi kekerasan di wilayah selatan hingga separuh jumlah aksi yang tejadi rata-rata per bulan di tahun 2008, yaitu kurang dari 100 kejadian. Dan katanya lagi, dalam 6 bulan pertama tahun 2009 ini jumlah aksi mulai meningkat lagi.

“Sepertinya kemajuan dalam mengatasi pemberontakan sejalan dengan taktik yang digunakan,” kata Anthony Davis, pengamat masalah keamanan dari Jane’s Information Group di Thailand. “Para pemberontak membentuk kelompok mereka kembali, dan sebagaimana yang terlihat dalam bulan ini, mereka mempunyai kemampuan organisasi yang baik,” lanjutnya.

International Crisis Group mengatakan, para pemberontak merekrut pelajar Muslim yang taat, pekerja keras, dan berkelakuan baik dari sekolah-sekolah Islam untuk diajak bergabung dengan mereka.

Abhisit sendiri mengatakan bahwa negosiasi dengan pihak separatis tidak praktis, karena gerakan mereka “tidak terintegrasi.” Pemberontak di daerah yang luasnya sekitar dua kali wilayah Palestina itu, didukung oleh dana dari kartel-kartel obat terlarang, jaringan perdagangan manusia, dan sindikat kriminal lainnya. Demikian tegasnya.

Pada bulan Mei lalu pengadilan Thailand menyatakan tidak bersalah terhadap seorang petugas keamanan yang dituntut atas kematian 78 pria Muslim tahun 2004 yang mati lemas setelah diangkut dalam truk menuju ke sebuah markas militer.

Atas hal tersebut Abhisit berkomentar, pemerintahnya “membuktikan” kepada rakyat di wilayah itu bahwa “tidak akan ada lagi ketidakadilan”
“Kita harus melakukan pendekatan ini dan harus bersabar,” katanya. “Kita tidak dapat mengubah persepsi yang sudah terbentuk atau kepercayaan yang hilang di masa tujuh atau delapan tahun ini hanya dalam waktu beberapa bulan saja.” [di/berbagai sumber/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Bentuk Tim Paspor Hijau Haji
Tulisan selanjutnya Organisasi Yahudi Ancam Bunuh Pejabat Muslim Amerika

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?