Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi [Bagian 2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Juli 2009 16:14
Bagikan
Bagikan

oleh: Catur Sriherwanto

Hidayatullah.Com – Di tulisan bagian ke-1 yang dimuat Hidayatullah.Com sebelumnya telah diuraikan bagaimana penelitian tentang kentut berawal dari datangnya seorang pasien penderita kentut berlebihan kepada Dr. Levitt di tahun 1976. Sang pakar yang di kemudian hari digelari “Dokter Kentut” ini tidak mampu menanggapi data mengenai gas perut yang dicatat oleh si pasien itu sendiri selama dua tahun terakhir. Ini karena sang dokter tidak memiliki data serupa untuk orang sehat sebagai bahan perbandingan.

Dr. Levitt tidak mampu memutuskan apakah sang pasien menderita penyakit pencernaan atau tidak, lantaran data perilaku gas perut untuk orang sehat belumlah ada kala itu. Inilah yang mendorong penelitian dalam rangka mengumpulkan informasi ilmiah mengenai seluk beluk kentut orang sehat.

Gasnya orang sehat

Dalam rangka meneliti gangguan buang angin berlebihan, aneka pengetahuan dan data seputar gas perut yang wajar, yang ada pada orang sehat, perlu didapatkan. Maka mulailah sang dokter mengumpulkan tujuh orang relawan yang diminta melakukan pembukuan mengenai seluk beluk gas hembusan bagian bawah tubuh mereka. Setidaknya selama sepekan mereka diperintahkan mencatat seberapa sering mereka melakukan pelepasan gas usus, dan kapan letupan itu terjadi.

Baca Juga

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?
Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli

Ketika data kentut relawan sehat itu telah terkumpul, menjadi jelaslah bahwa perilaku buang angin ketujuh orang relawan itu berbeda dengan sang pasien. Para relawan melepaskan gas perutnya rata-rata 13,6 kali per hari, tanpa perbedaan statistik nyata dikarenakan usia, jenis kelamin atau perbedaan lain. Bahkan angka tertinggi pelepasan kentut orang normal pun kurang dari 20 kali per hari. Jadi angka ini benar-benar jauh lebih rendah dari yang dialami sang pasien, yakni 34 kali per hari. Artinya sang pasien memang mengalami ketidakwajaran, alias mengidap gangguan kesehatan.

Namun data yang sebatas pada tingkat keseringan dilepaskannya hawa perut ini tidaklah cukup. Diperlukan data tambahan mengenai besaran atau volume gas yang dihembuskan oleh salah satu lubang bawah manusia itu pada setiap kali semburan.  Melalui selang yang terhubungkan dengan anus dan tabung suntikan, maka diperoleh besaran volume gas kentut untuk ukuran orang normal.

Orang ukuran rata-rata membuang angin perutnya sebanyak 500 hingga 2.000 mililiter per hari, kata Dr. Levitt. Jika dihitung,  maka didapatkan angka rata-rata 35 hingga 90 untuk sekali semburan. Dibandingkan dengan angka normal ini, maka pasien yang sedang ditangani sang dokter itu ternyata memang memuntahkan gas perut melebihi ambang batas kewajaran, yakni mencapai angka rata-rata 5.520 mililiter per hari, atau 162 mililiter setiap kali buang angin.

Gara-gara  1%

Dari pembandingan data mengenai tingkat keseringan dan volume gas, jelas bahwa sang pasien memang mengalami gangguan kesehatan. Namun sebelum melakukan penanganan kepada pasien itu, Dr. Levitt sadar bahwa ia mesti melakukan pengkajian lebih lanjut, yakni bukan sekedar mengenai jumlah gas kentut, tapi juga unsur-unsur alias komposisi atau mutu gas kentut itu.

Menariknya, berdasarkan telaah yang dilakukan Dr. Levitt pada gas perut yang berhasil ditangkap dan dikumpulkan, gas ini ternyata dapat pula tidak berbau. Sekitar 99 persennya adalah karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan metana. Gas-gas ini telah dikenal luas dan sama sekali tidak berbau. Kebanyakan gas ini berasal dari gas yang kita telan tanpa sengaja di saat memakan makanan atau gas yang dibebaskan oleh makanan saat makanan itu tercerna di saluran pencernaan manusia.

Lalu untuk gas beraroma tidak sedap, dari mana sumber bau itu? Ternyata 1% sisanya itulah yang menyumbangkan biang aroma busuk pada keseluruhan gas keluaran manusia tersebut. Gas yang jumlahnya sekedar 1% ini memang benar-benar berbeda, dan berasal dari sumber yang sangat lain pula. Bagaimanakah kisah awal mula kemunculan gas beraroma tidak sedap itu?

Sampah gas

Sebagaimana makhluk hidup lain, tubuh manusia menjadi tempat hunian jutaan mikroorganisme yang hidup pada rambutnya, pori-porinya dan bahkan di dalam organ tubuh bagian dalamnya. Salah satu tempat di mana terdapat banyak sekali mikroba ini adalah saluran pencernaan manusia, dan jenis mikroba paling terkenal adalah E. coli, di samping kerabatnya lain yang kurang tenar, yakni Klebsiella dan Clostridium.

Semua makhluk hidup ini menghuni sebagian besarnya di usus besar, yakni bagian usus yang paling dekat dengan lubang anus. Di sini, mikroba ini menguraikan dan memakan makanan-makanan yang belum tercerna di saluran makanan bagian atasnya. Ketika mengonsumsi makanan tersebut, sang mikroba lalu membuang sampah pula yang berupa gas. Gas-gas ini ada yang mengandung unsur belerang seperti dimetil sulfida dan mentantiol. Kedua gas ini memiliki bau tidak sedap.

Ketika terkumpul hingga jumlah tertentu, maka gas limbah yang dihasilkan mikroba ini akan disemburkan keluar bersama-sama dengan gas-gas lainnya yang ada di usus besar. Meskipun ada dengan kadar teramat sangat rendah dibandingkan gas selebihnya yang tidak berbau, gas busuk ini mampu memberi aroma tidak bersahabat pada keseluruhan campuran gas yang dilepaskan anus. Ini menjadi saksi betapa unsur gas biang bau itu memiliki tingkat kebusukan luar biasa, serta membuktikan pula betapa hebatnya kepekaan hidung ciptaan Allah yang mampu dengan segera mengenali keberadaannya.

Namun tidak semua peristiwa letusan gas perut berdampak penyebaran bau tidak sedap di sekeliling. Dengan kata lain, sebagian orang leluasa menghembuskan hawa perutnya yang nyaris tak beraroma sekehendak hati tanpa ada yang tahu. Namun sebagian lagi melepaskan gas buangannya dengan bau yang bahkan tidak kuasa ditahan hidungnya sendiri. Lalu, apa yang menyebabkan perbedaan ini, dan juga perbedaan-perbedaan lain, misalnya dalam hal keseringan dan volume gasnya? (bersambung)

Ilustrasi foto : http://www.ars.usda.gov

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ibu yang kubenci
Tulisan selanjutnya Anak Serap Lebih Banyak Pengetahuan Lewat Permainan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

BeritaNone

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial

Berita None
17 Juni 2026 12:31
AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas

Terbaru

  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
  • Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
  • Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
  • Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
  • Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris
  • Amerika Serikat Hentikan Pendanaan Program HIV di Afrika Selatan
  • Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia
  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

4 April 2026 18:18
HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

25 Maret 2026 10:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?