Hidayatullah.com–Hamas mengutuk pernyataan Presiden Palestina Mahmud Abbas, Kamis (6/5), yang menyatakan bahwa rakyat Palestina tidak menerima perlawanan senjata, demikian dilansir oleh Islammemo.com, Kamis (07/05/10).
Pemimpin Hamas, Shalah Al-Bardawil dalam pernyataan persnya mengatakan, “Sebagian besar rakyat Palestina percaya pada perlawanan bersenjata, dan sepanjang sejarahnya rakyat Palestina telah membayar harga mahal untuk mencapai kebebasan.”
Bardawil menambahkan, “Kebebasan itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan kekuatan, dan Abbas dalam pidatonya tersebut telah bertentangan dengan logika sehat manusia. Semua orang juga telah mengetahui bahwa mempertahankan Palestina adalah suatu keharusan.”
Kepemimpinan Hamas terfokus pada perlawanan yang merupakan hak atas orang-orang yang didzolimi. Dan Hamas sangat meyakini bahwa dengan cara perlawanan adalah satu-satunya cara untuk bisa membebaskan Palestina.
Selain itu Bardawil juga mengatakan bahwa negosiasi damai antara Palestina-Israel itu hanya membuang-buang waktu tanpa adanya hasil yang signifikan. Bahkan diadakannya negosiasi tersebut hanya akan mempersempit ruang gerak rakyat Palestina.
Pemimpin Hamas yang lain menilai bahwa persetujuan bangsa Arab akan adanya negosiasi damai tersebut telah mencerminkan kelemahan bangsa Arab itu sendiri, bahkan keputusasaan.
Jurubicara gerakan perlawanan di Ramallah, Fauzi Barhum menegaskan juga bahwa dengan adanya negosiasi tersebut, berarti kita telah tunduk di bawah kesombongan dan keegoisan Zionis Israel. Lebih dari itu, hanya akan memenuhi kepentingan Zionis Israel dan Amerika Serikat belaka.
Mengenai pertemuan komite negosiasi yang diadakan di Kairo Kamis (6/5), Burhan mengatakan, “Hal itu adalah tanggung jawab Amerika dan merupakan strategi baru mereka. Dan memberikan kesempatan dari sisi manapun untuk kembali ke meja perundingan hanya akan menjadi sebuah hadiah berharga yang dipersembahkan bagi Zionis Israel.”
Fauzi juga menegaskan bahwa setiap negosiasi dalam bentuk apapun, hanyalah sebuah topeng baru dari yahudisasi dan agresi Zionis Israel. Dan diyakini bahwa ini hanya akan merusak masa depan bangsa Palestina. [sadz/mfk/hidayatullah.com]