Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Potret Kegagalan Pendidikan Akidah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2012 08:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

BELUM  lama ini PIMPIN (Institut Pemikiran dan Pembangunan Insan) Bandung mengadakan Daurah Nasional Pendidikan Islam selam dua hari mulai tanggal 10 sampai 11 Frebruari 2012. Daurah yang diikuti 80 peserta dari Bandung, Tasik, Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya ini mengambil tema menarik “Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan”.

Tema ini penting sekaligus menarik. Penting karena, daurah diadakan pada saat dunia pendidikan Islam Indonesia masih tertatih mencari idealisme disebabkan kehilangan ruh adabnya.

Satu persatu fakta masih minimnya pendidikan adikah kita mulai terkuak. Pada enam Januari lalu hidayatullah.com menurunkan berita seorang dosen di STAIN Jember melecehkan asma Allah subhanahu wata’ala dengan cara menghapus lafadz Allah dengan sepatu. Tahun lalu, 21 Mei 2010 seorang yang dipanggil ‘ustadz’ mempraktikkan aksi yang tidak beradab, yaitu memfasilitasi pernikahan dua perempuan lesbianis.

Simak pula kasus pendangkalan akidah pada masyarakat. Insiden di Sampang yang berujung pengusiran penganut Syiah dipicu oleh penyebaran ajaran Syiah oleh seorang tokoh setempat. Ajaran-ajaran Syiah yang tidak beradab disebarkan kepada jama’ah awam, seperti ajaran nikah mut’ah (nikah kontrak).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Aksi tidak beradab pada malam Valentine’s day tempo hari juga masih menjadi ritual tahuan sebagaian  pelajar kita. Kasus di mana Polres Jombang pada malam Valentine’s day merazia belasan pasangan yang di antaranya masih ABG di kamar hotel, membuktikannya.

Aksi-aksi tidak beradab pendidik dan peserta didik tersebut tentu menyisakan tanda tanya, ada apa dengan pendidikan kita? Kita masih terpuruk. Baik intelektual, maupun moral.

Di sinilah kita bisa katakana bahwa mendiskusikan pendidikan dalam konteks kebangkitan sangat menarik. Selama ini tema-tema kebangkitan umat selalu diusung dalam ‘ruang diskusi politik’. Sesungguhnya tidak salah membawa isu kebangkitan umat ke dalam ‘ruang diskusi politik’. Namun, pertanyaannya adalah, dari mana kita memahami konsep politik (mafhum al-siyasah) jika tidak melalui pendidikan. Singkatnya pemahaman tentang konsep politik lahir dari tradisi ilmu yang matang. Maka, pendidikan merupakan aktivitas elementer dalam membangun bangsa yang beradab.

Menurut Dr. Khalif Muammar, dosen Center for Advanced Islamic Studies on Islam Science and Civilization (CASIS) Malaysia, pendidikan akidah itu bukan sekedar belajar sifat-sifat Allah, af’al (perbuatan) Allah saja. Akan tetapi kita mempelajari konsep dasar Islam yang memberi efek terhadap fikiran, hati dan perilaku kita. Ia menyebut kenapa pendidikan kita gagal. Ada tiga faktor; pertama, kerusakan ilmu (error in knowledge), kedua, kehilangan adab (the loss of adab), dan ketiga, kegagalan para pemimpin (the rise of false leaders).

Dari ketiga faktor tersebut, faktor pertama merupakan paling elementer. Kerusakan epistemologi (ilmu) menciptakan kerusakan spiritual, moral dan intelektual. Seseorang yang tidak meyakini otoritas teks-teks agama yang mengharamkan homoseksual misalnya, akan mendekonstruksi teks tersebut. Ditafsir sebebas-bebasnya, sehingga menghasilkan hukum homoseks halal. Akhirnya, ia menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Pendidikan akidah seharusnya mampu meluruskan ilmu. Pandangan alam Islam di sini menjadi ‘kaca’ penilai. Konsep tentang Allah, konsep wahyu, konsep kenabian, konsep manusia, konsep alam, konsep manusia, konsep kebenaran, konsep otoritas dan lain-lain semestinya diajarkan sebagai landasan utama belajar ilmu-ilmu yang lain. Di dalam perguruan tinggi Islam, kajian-kajian tersebut dapat menjadi Pengantar Studi Islam.

Unsur-unsur Islam seperti konsep tersebut dalam pandangan alam Islam bersifat tetap dan permanen, tidak berubah seperti dalam pandangan Barat. Sehingga, dalam pandangan Islam, agama Islam tidak tepat dipahami sebagai agama sejarah (historical religion). Islam bukanlah budaya, ia bersumber dari wahyu yang tetap.

Faktor utama kegagalan pendidikan akidah adalah belum diajakarkannya akidah itu secara aplikatif. Makanya, pendidikan Islam seharusnya mendasarkan kepada pandangan alam Islam. Motivasi dalam belajar dalam Islam adalah ibadah. Mengkajinya adalah jihad dan ilmu selalu terkait dengan akhlak. Konsep yang demikian lah yang mampu membangkitkan umat. Seperti yang telah dipraktikkan oleh Imam al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Dr. Majid Irsan Kailani menulis buku menarik berjujul “Hakadza Dzahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds”, bercerita tentang fase-fase kebangkitan umat generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Sang penulis menggambarkan bagaimana sososk Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jailani yang kreatif menyusun konsep pendidikan sehingga terlahir mujahid-mujahid kenamaan. Imam al-Ghazali di madrasahnya, Nidzamiyah, mendidik calon-calon ilmuan, dengan penanaman akidah. Begitu pula Syekh al-Jilani, mengadabkan umat Islam di madrasah al-Qadiriyah melalui metode tasawwuf dan pendidikan akidah.

Artinya, konsep akidah itu menjadi titik terpenting dalam pendidikan. Dr. Nirwan Syafrin, yang tampil sebagai pemateri daurah nasional di PIMPIN Bandung, menulis dalam makalahnya bahwa hampir seluruh ulama Muslim saat ini sepakat bahwa krisis yang dialami umat bukan berpangkal pada ekonomi, politik, dan teknologi, akan tetapi pada nalar (ilmu) umat Islam.

Dr. Nirwan mengutip Abdul Hamid Abu Sulaiman dalam bukunya “A Crisis of Muslim Mind”, bahwa umat Islam mengalami krisis pemikiran. Lebih tegas lagi Isma’il Raji al-Faruqi mengatakan bahwa krisis umat Islam saat ini ada pada pendidikan (al-Faruqi, Islamization of Knowledge:Problems, Principles and Perspectives, 22).

Sekali lagi, pendidikan Islam haru berasaskan akidah atau ruh keimanan. Prof. Dr. Sayyid Alawi al-Maliki pernah menulis; kebangkitan-kebangkitan besar tidak akan pernah berdiri kecuali dilandaskan pada risalah al-ruh (ajaran-ajaran yang mempunyai ruh/jiwa keimanan). Wallahu al’lam bisshowab.*

Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

Ilusrtasi: taruwan pelajar 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidahislamold migratePendidikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Partai Sekuler Aljazair akan Boikot Pemilu
Tulisan selanjutnya Wapres Al Hashimi Sangkal Tuduhan Syiah Iran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas

Berita
3 September 2026 10:23
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?